Kamis, 1 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kepercayaan Publik Menjadi Modal Sosial Muhammadiyah

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Kepercayaan Publik Menjadi Modal Sosial Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Muhammadiyah selama lebih dari satu abad telah membangun modal sosial berupa kepercayaan publik. Kepercayaan tersebut tercermin dari semakin meningkatnya jumlah peserta didik di sekolah Muhammadiyah, rumah sakit Muhammadiyah yang menjadi rujukan masyarakat, hingga kepercayaan publik dalam penghimpunan dana melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu).

Namun, kebesaran Muhammadiyah tidak semata-mata dibangun atas kepercayaan publik. Menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, kekuatan Persyarikatan juga lahir dari keluasan hati dalam menerima kritik internal.

Hal tersebut disampaikan Busyro dalam acara Apresiasi Buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaruan yang digelar di Aula Gedung Muhammadiyah, Rabu (30/9).

Busyro mengapresiasi kehadiran buku tersebut. Menurutnya, para penulis telah memilih pendekatan fenomenologi dalam membaca berbagai gejala yang terjadi di Muhammadiyah selama 114 tahun. Pendekatan tersebut dinilai tidak sekadar melontarkan kritik, tetapi juga didasarkan pada data dan tanggung jawab intelektual.

“Saya ingin mengapresiasi para penulis karena membaca dan memotivasi dengan pendekatan kritis,” ujar Busyro.

Bagi Busyro, buku Reinventing Muhammadiyah tidak hanya menjadi dokumentasi ilmiah, tetapi juga simbol nyata dari kultur demokrasi dan demokratisasi di tubuh Persyarikatan. Kehadiran buku tersebut menunjukkan adanya ruang bagi kader untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, sekaligus kritik yang konstruktif terhadap perjalanan Muhammadiyah.

Dalam acara tersebut, editor buku, David Efendi, menjelaskan bahwa penulis yang terlibat dalam penyusunan buku tersebut merupakan kader Muhammadiyah.

“Hanya yang memiliki NBM yang diperkenankan menulis buku ini,” ujar David.

Dalam refleksinya, Busyro juga menyoroti pentingnya menjaga integritas gerakan di tengah dinamika sosial dan politik kekinian. Ia mengingatkan kader dan tokoh Persyarikatan untuk senantiasa istiqamah dalam jalur khidmat serta mewaspadai berbagai godaan politik praktis maupun proyek-proyek tertentu yang berpotensi mengaburkan arah gerakan dakwah berkemajuan.

Lebih lanjut, Busyro menilai lahirnya buku tersebut justru menunjukkan bahwa Muhammadiyah masih memiliki harapan besar untuk terus melakukan pembaruan. Kritik yang disampaikan melalui buku tersebut semestinya dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga nalar kritis dan memperkuat gerakan. (alam)

Tinggalkan Balasan