Kamis, 1 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Biarawati Katolik Raih Magister Kebidanan di UNISA Yogyakarta, Teguhkan Persaudaraan Lintas Iman

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Biarawati Katolik Raih Magister Kebidanan di UNISA Yogyakarta, Teguhkan Persaudaraan Lintas Iman

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Suasana haru dan sukacita mewarnai Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta yang digelar di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta, Rabu (30/9).

Di antara ratusan wisudawan, terselip kisah menarik tentang perjumpaan lintas budaya dan agama melalui pendidikan serta pelayanan kemanusiaan. Kisah itu datang dari Suster Dulce Maria Guterres, FDCC, seorang biarawati Katolik asal Timor-Leste yang berhasil meraih gelar Magister Kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta.

Menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang berbasis nilai-nilai Islam sempat membuat Suster Dulce merasa cemas. Terlebih, faktor usia dan berbagai keterbatasan yang dimilikinya sempat menimbulkan keraguan ketika pertama kali menginjakkan kaki di UNISA Yogyakarta.

Namun, kekhawatiran tersebut perlahan sirna setelah ia merasakan sambutan hangat dari seluruh civitas academica UNISA Yogyakarta.

“Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academica menyambut kehadiran saya. UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa,” ungkap Suster Dulce saat menyampaikan pidato mewakili wisudawan.

Suster Dulce datang ke Indonesia sebagai utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili dengan dukungan Yayasan Graça de Deus. Selama menjalani pendidikan, ia juga merasakan pengalaman hidup bersama para penghuni asrama kampus.

Sebagai seorang biarawati Katolik, ia mengaku mendapatkan penerimaan yang penuh penghormatan, kasih, dan kedamaian selama menjalani kehidupan akademik di UNISA Yogyakarta.

“Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan,” tegasnya.

Ia berharap kelulusannya dapat menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara Timor-Leste dan Indonesia, khususnya melalui kerja sama di bidang kesehatan dan kemanusiaan.

Sementara itu, Rektor UNISA Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh wisudawan dan orang tua yang telah memberikan kepercayaan kepada UNISA Yogyakarta sebagai tempat menempuh pendidikan.

Pada Wisuda ke-27 tersebut, UNISA Yogyakarta meluluskan sebanyak 928 mahasiswa dari program magister, sarjana, sarjana terapan, dan diploma. Dari jumlah tersebut, sebanyak 779 lulusan atau 83,94 persen meraih predikat cumlaude. Adapun IPK tertinggi diraih oleh lulusan Program Pascasarjana dengan nilai sempurna 4,00, dengan rerata IPK 3,92.

Rektor mengingatkan bahwa ijazah dan gelar akademik yang diperoleh bukanlah akhir dari proses menuntut ilmu. Sebaliknya, keduanya menjadi awal bagi para lulusan untuk menghadapi dunia nyata yang terus berkembang dengan berbagai dinamika dan tantangan.

“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan. Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting,” pesannya.

Rektor juga menekankan pentingnya para lulusan untuk terus memegang teguh nilai-nilai identitas almamater, yakni akhlak, amanah, profesional, kolaboratif, dan unggul.

Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus memberikan manfaat dan turut menyelesaikan berbagai persoalan di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan