Senin, 28 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

TelurMoe Farm yang Dikelola Difabel Dampingan MPM Muhammadiyah jadi Tempat Belajar Menyenangkan

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
TelurMoe Farm yang Dikelola Difabel Dampingan MPM Muhammadiyah jadi Tempat Belajar Menyenangkan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SLEMAN – Kandang peternakan ayam TelurMoe yang dikelola kelompok Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Difabel dampingan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah jadi tempat belajar Pemdes dan BPD asal Klaten.

Kunjungan yang dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) dan BPD Jemawan, termasuk dari perwakilan Koperasi Desa Merah Putih Jemawan, Kabupaten Klaten itu diikuti sebanyak 50 peserta dan dilakukan pada Ahad (27/9).

Kunjungan ini bukan sekadar melihat peternakan ayam petelur. Ada kisah tentang pemberdayaan, kolaborasi, dan perjuangan sekelompok penyandang disabilitas untuk membangun kemandirian ekonomi.

Fasilitator MPM PP Muhammadiyah, Syauqi yang intens mendampingi kelompok difabel, menjelaskan bahwa TelurMoe Farm merupakan program kolaborasi antara MPM PP Muhammadiyah, UNISA, dan LAZISMU Pusat.

Gagasannya diinisiasi oleh MPM PP Muhammadiyah sebagai bagian dari program pemberdayaan difabel. Dari kolaborasi tersebut, lahirlah sebuah usaha peternakan ayam petelur yang sekaligus menjadi ruang belajar dan ruang kerja bagi kelompok difabel.

Di hadapan rombongan Jemawan, salah seorang pengurus kelompok difabel, Mbak Yanti, bercerita tentang perjalanan mereka membangun TelurMoe Farm. Ia menyampaikan terima kasih kepada MPM PP Muhammadiyah karena program ini, kelompoknya mendapatkan kesempatan bekerja sesuai dengan kondisi fisik mereka.

“Kami mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisi keterbatasan fisik kami,” katanya.

Perjalanan itu tentu tidak langsung besar. Menurut Yanti, dirinya bersama teman-temannya belajar memelihara ayam petelur secara bertahap. Mereka memulai dengan sekitar 300 ekor ayam.

Setelah melalui proses belajar dan pendampingan, kini mereka mampu menangani sekitar 1.000 ekor ayam, dengan produktivitas rata-rata mencapai 900–920 butir telur per hari.

Angka tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukan berarti keterbatasan untuk berkarya. Justru dengan pekerjaan yang disesuaikan dengan kemampuan, diberikan kesempatan belajar, dan didukung lingkungan yang tepat, kelompok difabel mampu mengelola sebuah usaha produktif.

Yanti menjelaskan, TelurMoe memiliki karakteristik yang diposisikan sebagai telur dengan kandungan rendah kalori dan lemak, serta kaya protein dan omega 3, 6, dan 9. Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan semata-mata pada produksi.

“Telur ini memiliki kandungan rendah kalori dan lemak, tinggi kandungan protein, serta omega 3, 6, 9 sehingga sangat bagus untuk kesehatan. Tantangan terberat pada pemasaran untuk telur kategori khusus ini,” imbuhnya.

Di sinilah semangat kewirausahaan kelompok tersebut diuji. MPM PP Muhammadiyah membantu mencarikan pelanggan dan membuka akses pasar. Tetapi anggota kelompok tidak kemudian hanya menunggu pembeli datang. Mereka ikut turun tangan.

“Maka, di samping MPM PP membantu mencarikan pelanggan, kami semua anggota ikut menjadi marketing, ikut memasarkan semampu kami. Lumayan, kami bisa mendapatkan margin untuk tambahan pendapatan harian kami,” tutur Yanti.

Cerita tersebut mendapat perhatian serius dari rombongan Jemawan. Sebab yang terlihat di TelurMoe Farm sesungguhnya bukan hanya aktivitas beternak ayam. Ada sebuah ekosistem kecil yang mempertemukan modal, lahan, pendampingan, keterampilan, produksi, pemasaran, dan pemberdayaan manusia.

Tinggalkan Balasan