Senin, 28 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Orang Muhammadiyah Itu Banyak Bekerja, Tidur Siang Pun Dianggap Kemewahan

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Orang Muhammadiyah Itu Banyak Bekerja, Tidur Siang Pun Dianggap Kemewahan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JABAR — Pernah mendengar ungkapan bahwa orang Muhammadiyah dikenal karakteristiknya “sedikit bicara, banyak bekerja” ? Ungkapan tersebut kembali ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dahlan Rais, dalam acara Gerakan Subuh Mengaji (GSM) yang digelar Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat secara daring, pada Ahad (27/9).

Menurut Dahlan, ungkapan tersebut bukan sekadar identitas yang melekat pada warga Muhammadiyah. Di baliknya terdapat etos yang menjadi karakter dalam menjalankan kerja-kerja persyarikatan, dakwah, maupun pengabdian kepada masyarakat. Dahlan setidaknya menyebut empat etos yang menjadi karakter khas warga Muhammadiyah.

Pertama, guyub dan rukun. Dahlan menjelaskan, warga Muhammadiyah dalam bekerja maupun berkiprah di persyarikatan mengutamakan kebersamaan, kerukunan, dan kesatuan. Nilai tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam menjaga keberlangsungan gerakan Muhammadiyah.

“Jadi Muhammadiyah itu pengamal perintah Allah, ‘Jangan terpecah belah’. Dan inilah ciri yang menonjol dari Muhammadiyah, yaitu guyub rukun,” jelas Dahlan.

Kedua, tertib dan teratur. Menurut Dahlan, Muhammadiyah merupakan organisasi yang memiliki sistem dalam mengelola berbagai tanggung jawab dan amanat persyarikatan. Karena itu, kerja-kerja yang dilakukan tidak semata bertumpu pada individu, tetapi dijalankan melalui sistem organisasi yang tertib dan terstruktur. Karakter tersebut, lanjutnya, membuat warga Muhammadiyah terbiasa bekerja dengan struktur yang teratur dan tersistem dengan porsi dan tanggung jawab yang jelas.

Ketiga, suka memberi. Dahlan menyebut, salah satu etos yang melekat pada warga Muhammadiyah adalah semangat untuk memberi. Semangat tersebut berangkat dari niat awal ketika seorang kader bergabung dengan Muhammadiyah, yakni memberikan kontribusi untuk membesarkan persyarikatan.

“Jadi bergabung dengan Muhammadiyah itu untuk memberi. Barangsiapa beramal saleh, maka amal tersebutlah yang menjadi milik dirinya,” tutur Dahlan.

Menurutnya, semangat memberi tersebut menjadi bagian dari orientasi amal warga Muhammadiyah. Kerja yang dilakukan tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh keuntungan pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari amal dan kontribusi bagi kemaslahatan.

Dan yang keempat, bekerja keras dalam bekerja. Sebagai gerakan Islam yang menjalankan dakwah, ilmu, amal, dan tajdid, Dahlan menekankan pentingnya kesungguhan dalam setiap kerja yang dilakukan. Kesungguhan inilah yang kemudian melahirkan karakter warga Muhammadiyah sebagai pribadi yang dikenal pekerja keras.

“Bahkan ada yang menyebut kalau orang Muhammadiyah itu workaholic atau orang yang kecanduan bekerja. Bahkan tidur siang saja sudah dianggap sebagai kemewahan,” ujar Dahlan.

Empat etos tersebut, menurut Dahlan, menjadi bagian dari karakter yang membentuk cara warga Muhammadiyah dalam menjalankan amanah persyarikatan yang diwujudkan kedalam kerja dan amal yang nyata. Hal itu turut mencerminkan wujud nyata nilai Islam, membawa Muhammadiyah sebagai organisasi yang memberikan kebermanfaatan serta rahmat bagi seluruh semesta alam (rahmatan lil alamin). (Bhisma)

Tinggalkan Balasan