MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah lakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung Koperasi Masjid Jaya Berkemajuan pada Rabu (30/9) di Kompleks Institut Tabligh Muhammadiyah, Bantul.
Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal menjelaskan, Koperasi Konsumen Masjid Jaya Berkemajuan tidak boleh berhenti sebagai lembaga ekonomi atau sekadar bangunan usaha.
Koperasi harus menjadi instrumen nyata untuk menghadirkan kemaslahatan, kemandirian, keadilan, dan kesejahteraan umat berbasis masjid. Pembangunan koperasi harus dimulai dengan pondasi yang lebih mendasar daripada bangunan fisik, yakni niat dan amanah.
“Peletakan batu pertama ini harus sekaligus menjadi peletakan pondasi niat. Tujuan kita jelas, mencari rida Allah, memperkuat kemaslahatan dakwah, dan menghadirkan kesejahteraan umat sampai di akar rumput,” ujarnya.
Bagi Majelis Tabligh, koperasi tidak boleh dipandang hanya sebagai instrumen ekonomi. Keberadaannya harus memperlihatkan bagaimana ajaran Islam diterjemahkan ke dalam kerja pemberdayaan yang konkret.
“Koperasi ini jangan berhenti sebagai bangunan ekonomi atau lembaga usaha. Ia harus menjadi dalil yang hidup tentang keindahan Islam. Islam yang menghadirkan pemberdayaan, keadilan, kemandirian, kemaslahatan, dan solusi bagi masyarakat kita di akar rumput,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Adi Hidayat menambahkan, koperasi diharapkan tidak hanya memperkuat aktivitas ekonomi, tetapi sekaligus mendukung keberlangsungan dakwah, kesejahteraan mubalig dan pemberdayaan jamaah.
Koperasi Masjid Jaya Berkemajuan akan menjadi ekosistem dari 12.000 masjid jaringan Muhammadiyah. Jaringan sebesar itu, menurutnya, merupakan modal sosial yang sangat besar apabila mampu dihubungkan dengan sistem ekonomi yang profesional dan berorientasi pada pemberdayaan jamaah.
“Daripada bangun masjid satu-satu, lebih baik 12.000 masjid Muhammadiyah, 12.000 outlet SSB hadir di sampingnya,” katanya.
Dalam sambutannya, UAH juga menyebut ada sejumlah persoalan yang melatarbelakangi pengembangan koperasi berbasis masjid. Di antaranya adalah kondisi para dai, khususnya di kawasan 3T, penguatan keterkaitan jamaah dengan masjid, serta keberlanjutan kaderisasi mubalig Muhammadiyah.






