Kamis, 1 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Khutbah Jumat: Memaafkan dan Membebaskan Hati dari Dendam

Oleh timredaksi • • 5 Menit Min
Khutbah Jumat: Memaafkan dan Membebaskan Hati dari Dendam

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نبينا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَتَقْوَى اللَّهِ فَوْزٌ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah Jumat yang mulia ini, marilah kita senantiasa memperbarui dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ketakwaan yang sebenar-benarnya, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, agar hidup kita senantiasa berada dalam bimbingan dan keridaan-Nya.

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam dinamika interaksi kita sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat, kita seringkali dihadapkan pada perselisihan, salah paham, hingga perbuatan orang lain yang menyakiti batin kita.

Ketika rasa sakit hati itu muncul, secara naluriah timbul dorongan di dalam dada untuk membalas. Dia menyakiti saya, maka saya harus membalas. Dia mencaci saya, maka saya harus mencacinya lebih keras.

Namun, yang perlu diperthatikan adalah ketika kemarahan dibalas dengan kemarahan dan kebencian dibalas dengan kebencian, yang terjadi bukanlah penyelesaian masalah, melainkan rantai dendam yang tak kunjung usai. Bagaikan menyiram minyak ke dalam api, emosi kita justru akan kian membakar kedamaian jiwa kita sendiri.

Di sinilah Islam mengajarkan sebuah prinsip hidup yang sangat luhur, yaitu pemaafan (al-‘afwu).

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sering kali kata “maaf” begitu mudah diucapkan di bibir. Namun, sejauh mana kata tersebut meresap ke dalam hati dan melahirkan perubahan sikap?

Pemaafan yang sejati bukanlah sekadar formalitas atau basa-basi tahunan ketika bersalaman, bukan pula sekadar kata-kata manis tanpa makna. Pemaafan yang hakiki memiliki beberapa pilar utama.

Pertama, pemaafan adalah proses yang disengaja dan sukarela. Memaafkan bukan tindakan otomatis tanpa kesadaran dan bukan pula karena terpaksa oleh tekanan hukum atau kekuasaan. Memaafkan lahir dari niat yang tulus dalam batin untuk melepaskan dendam.

Kedua, adanya perubahan sikap mental. Memaafkan berarti adanya perubahan sikap, dari yang awalnya membenci menjadi memaklumi, dari yang awalnya marah menjadi bersedia menerima kembali.

Ketiga, pembersihan emosi negatif. Keinginan untuk merencanakan pembalasan dendam benar-benar disingkirkan dari dalam dada.

Allah Swt. memperingatkan kita dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 199:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pemaafan berbeda dengan condoning, yaitu ketika seseorang menganggap suatu perbuatan bukan sebuah kesalahan sehingga tidak membutuhkan maaf.

Berbeda pula dengan excusing. Dalam excusing, seseorang mengakui bahwa perbuatan itu salah, tetapi memahami bahwa pelakunya tidak harus bertanggung jawab sepenuhnya karena ada kondisi tertentu yang dapat dimaklumi.

Ada juga forgetting, yaitu melupakan kesalahan. Ini juga berbeda dengan pemaafan. Memaafkan tidak berarti melupakan.

Kemudian ada pardoning, yaitu ketika seseorang memberikan keputusan atau tindakan yang sebenarnya sah menurut aturan. Misalnya hakim menjatuhkan hukuman sesuai hukum. Itu bukan persoalan pemaafan.

Terakhir, ada reconciliation atau rekonsiliasi. Rekonsiliasi adalah pemulihan hubungan, sedangkan pemaafan merupakan proses yang berbeda. Orang bisa saja berdamai secara formal, tetapi masih menyimpan dendam.

Karena itu, pemaafan bukan berarti membenarkan kesalahan, memaklumi perbuatan, melupakan kejadian, menghapus hukuman, atau sekadar berdamai. Pemaafan merupakan proses melepaskan kemarahan dan dendam terhadap orang yang melakukan kesalahan, tanpa harus menganggap kesalahannya sebagai sesuatu yang benar.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam filsafat bahasa J.L. Austin ada konsep konstatif dan performatif.

Konstatif hanya menyatakan sesuatu melalui ucapan. Sementara performatif memiliki efek atau diwujudkan dalam tindakan.

Begitu juga dengan pemaafan. Ketika kita mengucapkan “maaf lahir dan batin” tetapi setelah itu perilaku kita tidak berubah, pemaafan tersebut baru sebatas ucapan.

Sebaliknya, jika setelah memaafkan sikap kita terhadap orang tersebut berubah, maka pemaafan itu bersifat performatif.

Hal yang sama dapat diterapkan pada Ramadan. Jangan sampai Ramadan kita hanya bersifat formalitas. Kita berpuasa, mengaji, dan beribadah, tetapi tidak ada perubahan dalam perilaku.

Pemaafan juga demikian. Halal bihalal dan ucapan maaf akan terlihat maknanya dari perubahan perilaku setelahnya.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Sering kali ada kekeliruan berpikir di tengah masyarakat yang membuat seseorang enggan memberikan maaf. Diantaranya adalah:

Pertama, menganggap memaafkan sebagai tanda kelemahan.

Banyak yang merasa, “Kalau saya maafkan, nanti saya diinjak-injak. Hanya orang lemah yang memaafkan.”

Pandangan ini keliru. Membalas dendam ketika memiliki kesempatan mungkin terasa mudah, tetapi menahan diri ketika mampu membalas dan memilih memaafkan membutuhkan kekuatan batin. Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Bukanlah orang yang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, menganggap memaafkan itu tidak adil.

Ada perbedaan mendasar antara keadilan (‘adl) dan keutamaan (ihsan). Keadilan adalah memberikan hak sesuai dengan porsinya. Orang yang bersalah dapat dikenai konsekuensi yang sepadan dengan kesalahannya. Namun, di atas keadilan terdapat derajat yang lebih mulia, yaitu ihsan, yakni berbuat baik melebihi sekadar menuntut hak. Memaafkan merupakan salah satu bentuk ihsan dan keluhuran budi.

Ketiga, menunggu orang lain datang meminta maaf.

Betapa banyak waktu dan energi kita yang terbuang hanya untuk menunggu seseorang datang mengetuk pintu dan memohon maaf. Padahal, kita tidak perlu menggantungkan kedamaian jiwa pada perubahan orang lain. Memaafkan tanpa harus menunggu permintaan maaf dapat menjadi cara untuk membebaskan diri dari belenggu kebencian.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Setidaknya ada empat alasan mendasar mengapa memaafkan menjadi kebutuhan penting bagi jiwa kita.

Pertama, agar hidup menjadi lebih ringan dan batin menjadi lebih tenang.

Menyimpan dendam bagaikan membawa beban berat ke mana pun kita pergi. Ketika bertemu dengan orang yang dibenci, dada terasa sesak, pikiran menjadi tegang, dan langkah terasa terhambat. Memaafkan adalah salah satu cara untuk melepaskan beban emosi agar kita dapat melangkah ke masa depan tanpa terus-menerus terikat oleh luka masa lalu.

Kedua, menghemat dan mengalihkan energi ke hal-hal positif.

Merancang strategi pembalasan dan terus mengingat kesalahan orang lain menguras energi yang sangat besar. Dengan memaafkan, energi tersebut dapat kita alihkan untuk hal-hal yang bernilai ibadah, produktif, dan bermanfaat bagi keluarga serta agama.

Ketiga, menciptakan kedamaian dan harmoni sosial.

Masyarakat yang saling memaafkan akan melahirkan kehidupan yang lebih sejuk, aman, dan penuh rasa saling menghargai.

Keempat, menyadari bahwa kita juga adalah manusia yang membutuhkan maaf.

Hari ini mungkin kita berada di posisi sebagai orang yang dizalimi dan memiliki kesempatan untuk memberikan maaf. Namun, siapa yang dapat menjamin bahwa esok hari bukan kita yang berbuat salah dan membutuhkan pengampunan dari Allah serta kemurahan hati dari sesama manusia?

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Memaafkan memang tidak selalu datang secara instan. Memaafkan melibatkan tiga ranah sekaligus, yaitu akal kita memahami dan memaklumi (kognitif), batin kita merelakan (afektif), dan tindakan kita menunjukkan perubahan sikap (behavioral).

Jika saat ini batin kita masih terasa berat dan belum sepenuhnya ikhlas, jangan berkecil hati. Memaafkan adalah sebuah perjuangan aktif. Taklukkan kemarahan di dada secara perlahan, carikan alasan yang kuat bagi akal untuk memahami kelemahan orang lain, dan mohonlah petunjuk kepada Allah Swt.

Semoga Allah Swt. membersihkan hati kita dari segala penyakit dengki, dendam, dan kebencian, serta menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang berjiwa besar dan pemaaf.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita membawa pesan khutbah hari ini dalam kehidupan kita. Jangan biarkan kesalahan orang lain menjadi alasan bagi kita untuk terus menyimpan dendam dan kebencian. Jika pernah disakiti, belajarlah memaafkan. Jika pernah menyakiti, jangan ragu untuk meminta maaf. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan membebaskan hati dari keinginan untuk terus membalas. Kita boleh menegakkan keadilan, tetapi jangan sampai keadilan berubah menjadi dendam.

Kita semua adalah manusia yang tidak luput dari kesalahan. Karena itu, sebagaimana kita berharap Allah mengampuni kesalahan kita, hendaknya kita juga belajar memberikan maaf kepada sesama. Semoga Allah membersihkan hati kita dari dendam, dengki, dan kebencian, serta menjadikan kita orang-orang yang mampu menahan amarah, berlapang dada, dan saling memaafkan.

Di akhir khutbah ini marilah kita berdoa kepada Allah

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْغِلِّ وَالْحِقْدِ وَالْحَسَدِ، وَأَعِذْنَا مِنَ الْغَضَبِ وَالِانْتِقَامِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِمَنْ أَسَاءَ إِلَيْنَا، وَأَصْلِحْ مَا بَيْنَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَسَامِحِينَ الْمُتَرَاحِمِينَ

اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّـبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Penulis: Taufik Hidayat

Tinggalkan Balasan