MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kemiskinan tidak semestinya menjadi stigma dalam kehidupan sosial, termasuk ketika membaca riwayat tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw. Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ali Yusuf mengingatkan agar umat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa Nabi adalah sosok miskin hanya berdasarkan sejumlah riwayat tentang keterbatasan ekonomi.
Hal itu disampaikan dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (27/09). Menurut Ali, istilah miskin dalam masyarakat sering kali memiliki konotasi negatif sehingga perlu ditempatkan secara tepat ketika digunakan untuk menggambarkan kehidupan Nabi.
“Jangan sampai nanti ada pemahaman kita menstigma Nabi kita itu miskin dalam pengertian konotasinya negatif,” katanya.
Ali menjelaskan, secara sosial ekonomi, kemiskinan biasanya dipahami sebagai keadaan kekurangan harta atau ketidakcukupan. Namun, kondisi tersebut tidak semestinya melahirkan stigma terhadap seseorang.
Ia mengambil contoh stigma terhadap orang yang berkonsultasi dengan psikolog. Seseorang yang datang kepada psikolog kerap dianggap sedang mengalami gangguan tertentu, padahal konsultasi dapat menjadi ruang untuk berbagi cerita, berdiskusi, dan mencari pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi.
Contoh lainnya ialah stigma terhadap janda atau orang yang pernah belajar di pesantren. Menurut Ali, label tertentu yang dilekatkan kepada kelompok tersebut tidak selalu sesuai dengan kenyataan setiap individu.
“Bahasa lain ya berburuk sangka, berpikiran negatif itu stigma. Termasuk tadi kemiskinan pun jangan sampai distigmakan dengan stigma yang negatif,” ujarnya.
Dalam konteks kehidupan Nabi, Ali mengingatkan bahwa stigma juga dapat melahirkan kesimpulan keagamaan yang keliru. Jika riwayat tentang kesederhanaan Nabi dibaca secara terpisah, umat dapat menganggap bahwa kemiskinan merupakan keadaan ideal yang harus ditiru.
“Kalau ketika dibacakan hadis-hadis tentang Nabi berkekurangan atau Nabi miskin, mungkin akan muncul juga ternyata nabinya orang Islam itu miskin,” katanya.
Menurutnya, kesimpulan semacam itu dapat berkembang menjadi anggapan bahwa umat Islam tidak perlu berusaha menjadi kaya karena Nabi pun hidup sederhana. Padahal, sejumlah riwayat menunjukkan bahwa Nabi bekerja dan memiliki kemampuan memperoleh harta.
Ali mengutip Surah Ad-Duha ayat 6–8 yang menggambarkan perjalanan Nabi sebagai seorang yatim, kemudian mendapat penjagaan dan kecukupan dari Allah.
Dalam ayat tersebut disebutkan:
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Ali menjelaskan bahwa Nabi memang pernah berada dalam kondisi ‘āilan, yakni berkekurangan, tetapi kemudian Allah memberikan kecukupan.
“Berangkat dari tidak punya kemudian Allah yang memberi kecukupan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Nabi sejak kecil telah bekerja sebagai penggembala kambing. Karena itu, riwayat mengenai Nabi yang hidup sederhana tidak dapat dilepaskan dari fakta bahwa Nabi merupakan pribadi yang bekerja dan berusaha.
Gambaran mengenai keterbatasan pangan juga ditemukan dalam sejumlah hadis. Aisyah meriwayatkan bahwa selama beberapa waktu tidak terdapat asap masakan di rumah Nabi. Ketika ditanyakan apa yang mereka konsumsi, disebutkan kurma dan air.
Menurut Ali, riwayat tersebut memang menggambarkan kondisi ekonomi Nabi yang sederhana. Namun, kesederhanaan konsumsi tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan seseorang kaya atau miskin.
“Jangan cepat menyimpulkan Nabi miskin dalam pengertian yang negatif,” katanya.
Hal serupa terlihat dalam hadis mengenai Nabi yang menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan gandum. Ali menjelaskan, riwayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi pernah mengalami keterbatasan kebutuhan pangan, tetapi bukan berarti seluruh kehidupan Nabi dapat diringkas sebagai kehidupan orang yang tidak mampu.
Ali juga mengingatkan bahwa Nabi tidak mengajarkan umatnya untuk bergantung pada orang lain. Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, Nabi disebut menjahit bajunya sendiri dan memperbaiki sandalnya.
“Nabi menjahit baju sendiri, Nabi memperbaiki sandalnya sendiri,” ujarnya.
Di bagian lain, Ali membahas riwayat doa Nabi, “Allahumma ahyini miskinan, wa amitni miskinan, wahsyurni fi zumratil masakin yaumal qiyamah.” Menurutnya, doa tersebut tidak tepat dipahami sebagai keinginan Nabi untuk berada dalam kondisi kemiskinan sebagaimana pengertian sosial ekonomi sekarang.
Ia memaknai ungkapan tersebut sebagai bentuk kerendahan diri Nabi di hadapan Allah.
“Kalau di hadapan Allah kita merendah, ‘Ya Allah, kami dalam keadaan miskin. Engkau Yang Mahakaya.’ Kan begitu,” jelasnya.
Menurut Ali, pembacaan terhadap riwayat kehidupan Nabi perlu dilakukan secara utuh. Riwayat tentang keterbatasan materi menunjukkan kesederhanaan kehidupan Nabi pada masa tertentu, sedangkan riwayat tentang pekerjaan, kemampuan memperoleh harta, dan kedermawanannya menunjukkan sisi lain kehidupan beliau.
Karena itu, Ali menegaskan bahwa istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan pilihan hidup Nabi adalah zuhud.
“Nabi bukan miskin, tetapi Nabi memilih zuhud. Itu adalah pilihan hidup,” pungkasnya.






