MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA— Ketekunan belajar dan kesungguhan merawat tradisi keilmuan menjadi karakter yang melekat dalam perjalanan panjang Syamsul Anwar.
Memasuki usia 70 tahun, jejak tersebut terlihat dari pengabdiannya selama lebih dari setengah abad di dunia keislaman hingga kebiasaannya menyimpan dokumen intelektual dengan rapi.
Hal tersebut mengemuka dalam peluncuran buku “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” 70 tahun Prof. Syamsul Anwar pada Senin (31/8) di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, Yogyakarta.
Anggota Bidang Kajian Kemasyarakatan dan Keluarga Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Alimatul Qibtiyah mengungkapkan, salah satu hal yang menarik perhatiannya selama proses penulisan buku adalah kerapian Syamsul dalam menyimpan dokumen perjalanan intelektualnya.
Ketika mewawancarai Syamsul pada 14 Juli 2025 terkait isu perempuan, Alimatul bahkan menemukan makalah tentang kepemimpinan perempuan yang pernah dipresentasikan pada 1988 masih tersimpan. Dokumen tersebut kemudian turut dilampirkan dalam tulisannya di buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran.
“Beliau sangat rapi bahkan ketika saya wawancara terkait buku ini tanggal 14 juli 2025 yang terkait dengan isu perempuan itu makalah yang di presentasikan tahun 1988 tentang kepemimpinan perempuan itu masih ada,” ungkap Alimatul.
Menurut Alimatul, kerapian tersebut memperlihatkan kesungguhan Syamsul dalam merawat jejak pemikiran dan perjalanan intelektualnya. Syamsul sendiri telah memasuki lingkungan IAIN sejak 1970. Dengan demikian, pengabdiannya di dunia keislaman telah berlangsung sekitar 55 tahun.
Ketekunan belajar juga membawa Syamsul bersentuhan dengan berbagai perkembangan pemikiran kontemporer. Salah satunya ketika memperoleh kesempatan mengikuti short course di Harvard Seminary.
Alimatul melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu bagian penting dalam membaca progresivitas pemikiran Tarjih Muhammadiyah mengenai isu perempuan. Dalam program tersebut, Syamsul bersentuhan dengan kajian teologi feminis dan berbagai literatur yang kemudian menjadi bagian dari referensi bacaannya.
“Yang menarik saya itu ketika menulis ini kenapa sih tarjih itu sangat kuat tentang progresifitas pemikirannya dalam isu perempuan setelah saya wawancara dengan beliau ternyata salah satu kontribusi kuat beliau itu karena beliau pernah mendapatkan beasiswa untuk sort course di Harvad Seminary dari sekian mata kuliah itu ketemu lah mata kuliah teologi feminis,” ungkap Alimatul.
Dari proses wawancara dan penelusuran dokumen, Alimatul juga menemukan sejumlah literatur tentang feminisme dan kajian perempuan yang telah lama menjadi bacaan Syamsul. Salah satunya buku Sexism and God-Talk: Toward a Feminist Theology yang dibawa Syamsul ke Indonesia dan menjadi bagian dari referensinya.
Bagi Alimatul, perjalanan tersebut menunjukkan kematangan intelektual Syamsul ketika memasuki usia 70 tahun. Ia menggambarkan fase tersebut sebagai titik ketika pengalaman panjang, ketekunan belajar, dan keluasan bacaan telah membentuk kematangan seseorang dalam bersikap.
“Jadi bagi saya 70 tahun ini persis untuk beliau ini sudah betul betul matang apapun yang dilakukan insyallah tidak akan melanggar aturan-aturan atau batas kewajaran yang ada,” ujarnya.
Ketekunan yang terlihat dalam perjalanan akademik tersebut juga menjadi bagian dari keseharian Syamsul di rumah. Putra dan putrinya, Jamal Fajri dan Fitri Prawitasari, melihat Syamsul sebagai sosok yang serius dan tekun. Kesaksian itu terutama tampak dari kebiasaannya menghabiskan banyak waktu untuk belajar dan bekerja di depan komputer.
“Bapak itu memang sosok yang serius ya memang ada kadangkala waktu bercanda tapi lebih sering seriusnya. Serius banget. Dirumah kerjanya Cuma belajar sama ngadap komputer,” ungkap Fitri.
Meski tumbuh bersama sosok ayah dengan perjalanan akademik panjang, Syamsul tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk mengikuti jalan hidup yang sama. Fitri mengakui ada beban tersendiri sebagai anak, tetapi hal tersebut bukan berasal dari tuntutan sang ayah.
“Terus terang memang kalau beban itu ada tapi dari bapak sendiri tidak pernah mewajibkan dan meyuruh menjadi sosok seperti beliau,” katanya.
Keseriusan Syamsul dalam belajar juga dirasakan istrinya, Suryani. Ketika sudah belajar, Syamsul disebut kerap tenggelam dalam keseriusan hingga lupa waktu. Suryani berharap suaminya tetap menjaga kesehatan dan memberi ruang untuk beristirahat di tengah aktivitasnya.
Memasuki usia 70 tahun, perjalanan Syamsul Anwar memperlihatkan bahwa kepakaran dibentuk melalui proses panjang berupa ketekunan belajar, keluasan bacaan, kesungguhan merawat jejak intelektual, dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan. Nilai tersebut juga menjadi pesan buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran tentang pentingnya menjaga ilmu yang membumi di tengah riuhnya opini dan pudarnya kepakaran pada era post-truth. (taufik)






