MUHAMMADIYAH.OR.ID, MADIUN – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, Teknologi (Wamen Dikti Saintek) RI, Fauzan lakukan kunjungan kerja di Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) di Madiun pada Sabtu (6/6).
Kehadiran mantan Rektor UMM dua periode tersebut diterima civitas akademika UMJT terdiri dari pejabat struktural, dosen dan tendik UMJT di Ruang Rapat I Kampus I UMMAD.
Dalam kunjungannya, Wamen Dikti Saintek menyampaikan pengarahan di depan civitas akademika UMJT. Menurutnya, membangun perguruan tinggi menjadi besar dibutuhkan budaya kerja yang produktif dan inovatif.
“Jangan menggunakan budaya kerja yang biasa-biasa saja. Ibarat mengikuti lomba balap, kalau kita bisa lebih cepat sejak awal akan lebih bagus, harus budaya organisasi berkemajuan,” ujar Fauzan.
Fauzan menekankan, agar bisa cepat berjalan diperlukan konsolidasi, artinya merapatkan shaf layaknya imam shalat itu yang harus melihat dulu para makmum sudah rapi atau belum shaf-nya.
“Apa yang dirapatkan, tidak hanya fisik tapi juga niat. Maka harus ada konsolidasi idiil dengan semua terlibat dalam manajemen kampus, harus tahu arah kampus mau dibawa kemana, itu salah satu konsolidasi idiilnya,” terang Guru Besar bidang Pendidikan tersebut.
Soal loyalitas misalnya, Fauzan menekankan pemahaman agar civitas akademika UMJT agar membangun loyalitas yang tidak hanya ditunjukkan di dalam, melainkan juga menunjukkan loyalitas saat berada di luar kampus.
“Jangan sekali-kali dalam lingkungan UMJT ini, saat keluar bapak ibu tidak menunjukan loyalitas. Ini akan jadi penyakit. Rejeki yang diterima bisa jadi tidak berkah. Hal seperti ini memang harus dipahami betul,.” Ujar Fauzan.
Hal yang termasuk dalam konsolidasi idiil dalam pengelolaan perguruan tinggi adalah komitmen waktu kerja dengan menjadikan kampus sebagai rumah kedua sehingga hubungan yang tercipta bukan transaksional.
Dalam konteks UMJT, Fauzian menyampaikan, mumpung masih kecil, harus bisa dipetakan hal-hal yang kecil yang harus dilakukan.
Fauzan menyarankan, pelayanan harus humanis, tidak hanya sekedar melayani mahasiswa, tapi pelayanan yang menghadirkan kegembiraan.
Dia berpesan supaya ciivitas akademika UMJT memiliki keyakinan bahwa nanti kampus ini akan besar. Maka dilarang memelihara pikiran stagnan, dan membangun standar berfikir yang luar biasa.
“Kita harus merasa jika tertinggal itu rasanya gimana sih, tergopoh-gopoh untuk mengejar. Jangan sudah tertanggal merasa tidak merasa tertinggal. Nah kita ini harus jadi orang tergopoh-gopoh mengejar ketertinggalan,” terang Fauzan.
Sebagai informasi, sebelum menjadi UMJT adalah Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD).






