MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA—Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Syifa Amin Widigdo mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki muatan sains. Menurutnya, hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan dapat dibaca melalui beberapa pendekatan yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Hal itu disampaikan Syifa dalam kajian di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Selasa (06/10). Ia menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang berkembang di kalangan ulama adalah al-i‘jāz al-‘ilmī atau kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an.
Dalam pendekatan ini, ayat-ayat Al-Qur’an dipandang mengandung kebenaran ilmiah yang baru dapat dibuktikan setelah perkembangan ilmu pengetahuan modern. Syifa menyebut sejumlah tokoh yang dikenal menggunakan pendekatan tersebut, antara lain Ibnu Badis, Maurice Bucaille, Zaghlul al-Najjar, Harun Yahya, dan Abdul Majid al-Zindani.
“Bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu mengandung kebenaran, mengandung sainsnya mengandung kebenaran. Pada zaman diturunkannya Al-Qur’an itu belum ada bukti-bukti sains yang membuktikan kebenaran Al-Qur’an,” jelasnya.
Menurut Syifa, perkembangan ilmu pengetahuan kemudian digunakan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an, misalnya dalam bidang embriologi, astronomi, dan kosmologi. Dari pendekatan tersebut muncul kesimpulan bahwa temuan ilmiah modern menjadi bukti kemukjizatan Al-Qur’an.
“Al-Qur’an adalah sebuah kemukjizatan yang baru bisa dibuktikan oleh ilmu pengetahuan kini,” ujarnya.
Namun, Syifa menjelaskan bahwa pendekatan al-i‘jāz al-‘ilmī juga mendapat kritik. Salah satunya berkaitan dengan sifat ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Teori ilmiah dapat berubah, direvisi, atau bahkan digantikan oleh teori lain.
Ia mencontohkan kemungkinan terjadinya perubahan teori tentang asal mula alam semesta. Jika sebuah teori ilmiah yang sebelumnya digunakan untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an kemudian terbantahkan, menurutnya, persoalan tersebut jangan sampai berujung pada anggapan bahwa Al-Qur’an keliru.
“Jangan sampai kalau suatu saat di hari kemudian ada revisi ilmu pengetahuan, let’s say ada temuan baru bahwa asal atau awal mula alam semesta itu tidak dari black hole. Jangan sampai Al-Qur’an yang mukjizat tadi itu sebagai sebuah kesalahan. Yang kesalahan itu adalah tafsirnya,” katanya.
Karena itu, Syifa memperkenalkan pendekatan kedua yang disebut al-tafsīr al-‘ilmī atau penafsiran ilmiah. Pendekatan ini tetap membuka ruang bagi penggunaan ilmu pengetahuan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi hasil pembacaannya ditempatkan sebagai produk ijtihad manusia.
“Penafsiran ilmiah terhadap Al-Qur’an adalah penafsiran manusia yang mungkin saja salah, direvisi, atau di kemudian hari ada teori atau pembacaan yang lebih baik daripada pembacaan hari ini,” jelasnya.
Pendekatan tersebut, lanjut Syifa, memiliki kerendahan hati epistemologis. Apabila suatu saat ditemukan teori ilmiah yang lebih kuat atau terjadi perubahan dalam pemahaman ilmiah, yang dikoreksi adalah penafsiran manusia, bukan Al-Qur’an.
Ia menyebut sejumlah tokoh yang dapat ditempatkan dalam corak ini, di antaranya Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Tantawi Jauhari, dan Nidhal Guessoum.
“Jadi ayat alam ditafsirkan dengan sains, tapi hasilnya diakui sebagai sebuah ijtihad manusiawi,” katanya.
Selain dua pendekatan tersebut, Syifa menyebut terdapat kelompok yang memilih untuk tidak menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan sains menggunakan pendekatan ilmiah. Pandangan ini berangkat dari anggapan bahwa Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan memiliki logika serta cara kerja yang berbeda.
Menurutnya, masing-masing pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Pendekatan al-i‘jāz al-‘ilmī, misalnya, relatif mudah diterima oleh masyarakat karena memberikan rasa nyaman secara keagamaan. Kesesuaian antara ayat Al-Qur’an dan temuan ilmiah dapat dipandang sebagai bukti kemukjizatan Al-Qur’an.
Namun, pendekatan tersebut dapat menghadapi persoalan ketika berhadapan dengan kalangan ilmuwan. Sebab, ada risiko penafsiran tekstual terhadap kitab suci dipaksakan untuk menyesuaikan temuan ilmiah yang terus berkembang.
Syifa menilai pendekatan al-tafsīr al-‘ilmī dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga hubungan antara keimanan dan metode ilmiah. Menurutnya, seseorang tetap dapat berzikir dan mengingat Allah sekaligus menggunakan metode ilmiah ketika mengkaji alam.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan Surah Ali Imran ayat 191 tentang orang-orang yang mengingat Allah dalam berbagai keadaan sekaligus memikirkan penciptaan langit dan bumi.
“Pada saat yang sama menggunakan cara-cara yang sifatnya saintifik. Wa yatafakkarūna fī khalqis-samāwāti wal-arḍ. Itu adalah cara-cara saintifik,” ujarnya.
Syifa menekankan bahwa pendekatan ilmiah terhadap Al-Qur’an perlu disertai keterbukaan terhadap kemungkinan koreksi. Pemahaman teologis, menurutnya, tidak seharusnya dipaksakan ke dalam temuan ilmiah.
“Jangan sampai pemahaman teologis masuk dan memaksakan dirinya dalam temuan-temuan saintifiknya,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa cara membaca Al-Qur’an tidak tunggal. Keragaman pendekatan merupakan bagian dari dinamika keilmuan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, termasuk ayat yang berkaitan dengan fenomena alam dan ilmu pengetahuan.
“Cara membaca Al-Qur’an itu tidak tunggal, banyak ragamnya,” katanya.
Meski terdapat perbedaan pendekatan, Syifa menilai para ulama memiliki semangat yang sama dalam mencari pemahaman terhadap Al-Qur’an, yakni keikhlasan, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada Allah Swt.
Karena itu, ia mengajak umat untuk menempatkan kajian Al-Qur’an dan sains secara proporsional. Pendekatan apa pun yang digunakan diharapkan tetap membawa manusia kepada pengembangan ilmu sekaligus memperkuat penghambaan kepada Allah.
“Cara apa pun dalam kita membaca Al-Qur’an, terutama ayat-ayat saintifiknya, mudah-mudahan itu menghantarkan kita semuanya pada keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.






