MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Angka religiusitas anak muda masih tinggi, kebutuhan mereka terhadap agama juga masih terlihat di ruang-ruang publik. Tapi tidak dengan kebutuhan mereka terhadap ormas keagamaan.
Fakta itu dibeberkan Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ismail Fahmi pada Rabu (7/10) dalam acara SECARA yang diselenggarakan AMM DI. Yogyakarta secara daring.
Ismail Fahmi mengamati, perilaku keagamaan anak muda mengalami pergeseran– bukan hilang, sebab praktik dan interaksi mereka dengan urusan keagamaan kini lebih banyak dimediasi oleh media digital.
Menurutnya, saat ini tidak bisa menafikan bahwa ‘kepatuhan’ anak muda untuk urusan keagamaan lebih didominasi oleh ustaz-ustaz digital yang kerap kali memposisikan diri tidak berafiliasi terhadap ormas tertentu.
Dalam paparannya, Founder Drone Emprit ini menyebut setidaknya ada enam tantangan membentuk organisasi keagamaan hari ini. Pertama, melemahnya ikatan– seperti yang dijelaskan di awal bahwa religiusitas tetap, tetapi keterikatan ke ormas menurun.
Tantangan kedua adalah otoritas ‘mapan’ tergerus, yakni menurunnya kepercayaan pada hierarki otoritas yang selama ini ada seperti Muhammadiyah, NU, dan sejenisnya. Tapi di sisi lain, mereka menjadikan ustaz digital sebagai rujukan.
Selanjutnya, atau yang ketiga adalah tantangan yang berupa berpindahnya mimbar ke layar. Di mana pengetahuan agama dibentuk oleh algoritma dan kreator– secara berterusan, ajaran keagamaan akan kehilangan nilai dan makna, sebab yang didapatkan hanya ‘kulit’ bukan substansi.
“Dari satu sisi, kami di Labmu berusaha tetap digital harus masuk. Tetapi namanya organisasi di akar rumput juga harus jalan– ini belum merata,” ungkap Ismail Fahmi.
Maka tantangan keempat menurutnya adalah situasi akar rumput yang belum merata untuk pengelolaan dan sinergi data. Serta tantangan kelima adalah jarak antargenerasi, yang erat kaitannya dengan sistem kaderisasi di level pimpinan sampai akar rumput.
Sedangkan tantangan keenam adalah hadirnya pesaing baru. Pesaing baru ini bisa datang dari kelompok-kelompok keagamaan lain, tapi juga bisa dari komunitas non-keagamaan yang memiliki agenda lebih atraktif dan menarik bagi kalangan muda.
“Separuh anak muda tidak merasa menjadi bagian dari ormas manapun,” ungkap Ismail Fahmi mengutip hasil survei yang dilakukan oleh Alvara Research Center tahun 2021.






