Selasa, 6 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Haedar Nashir Apresiasi Buku Dadang Kahmad tentang Muhammadiyah dan Masa Depan Agama

Oleh ilham • • 2 Menit Min
Haedar Nashir Apresiasi Buku Dadang Kahmad tentang Muhammadiyah dan Masa Depan Agama

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengapresiasi terbitnya buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama karya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad.

Apresiasi itu disampaikan Haedar dalam acara peluncuran buku tersebut di Universitas Muhammadiyah Bandung pada Senin (5/10).

Haedar juga menyampaikan tahniah atas usia Dadang Kahmad yang memasuki 74 tahun. Menurutnya, Dadang merupakan sosok yang selama puluhan tahun dikenal dekat dengan Muhammadiyah, sekaligus memiliki kepribadian yang rendah hati dan ramah.

“Beliau adalah sosok yang sangat rendah hati ya, termasuk pada kami yang muda-muda juga sosok yang someah ya. Someah itu someh ya. Someh bahasa Jawanya. Jadi sangat ramah ya, sangat ramah ya,” ujar Haedar.

Haedar mengaku telah mengenal Dadang sejak sekitar 41 tahun lalu ketika keduanya berada di Badan Pendidikan Kader. Hubungan itu semakin dekat setelah Dadang menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan kemudian bergabung dalam Pimpinan Pusat Muhammadiyah setelah Muktamar di Yogyakarta pada 2010.

“Jadi sudah 15 tahun lebih ya bersama kami sehingga kami betul-betul mengenal beliau begitu rupa dan pikiran-pikiran beliau ya seperti yang disampaikan tadi, pikirannya sangat maju,” katanya.

Haedar menilai pemikiran Dadang juga berperan dalam membantu Muhammadiyah menghadapi persoalan keagamaan yang membutuhkan keputusan. Menurutnya, Dadang kerap berada di barisan depan ketika organisasi menghadapi persoalan semacam itu.

“Dan ketika ada masalah-masalah yang bersifat keagamaan yang memerlukan putusan itu beliau yang paling di depan biasanya. Dan itu meringankan saya sebagai ketua sidang,” ungkap Haedar.

Menurut Haedar, latar belakang Dadang sebagai sosiolog sekaligus sosok yang memahami agama membuatnya memiliki posisi yang tepat untuk membahas masa depan agama. Karena itu, ia menilai buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama relevan dengan kapasitas keilmuan dan pengalaman Dadang.

“Sehingga ketika beliau menulis buku tentang Muhammadiyah dan Masa Depan Agama ya beliau layak untuk menulis itu karena beliau juga seorang sosiolog yang mengerti agama,” tuturnya.

Haedar juga menyampaikan keyakinannya bahwa buku tersebut memiliki kualitas yang baik. Sebelumnya, ia mengaku turut memberikan pengantar atau testimoni dalam buku tersebut, meskipun saat menyampaikan sambutan ia lupa bagian yang diberikannya.

“Saya yakin bukunya bagus,” kata Haedar.

Dalam pandangannya, pembahasan tentang masa depan agama perlu melihat pengalaman masyarakat modern di Barat. Haedar menyinggung munculnya ateisme dan agnostisisme sebagai salah satu respons terhadap corak keberagamaan yang terlalu teosentrik dan menjauhkan dimensi kemanusiaan serta kehidupan duniawi.

Ia kemudian mengaitkan pengalaman tersebut dengan tantangan kehidupan umat Islam saat ini. Menurut Haedar, agama memiliki peluang tetap hidup dan relevan dalam masyarakat modern selama nilai-nilai agama mampu beradaptasi dengan kehidupan sekaligus menawarkan alternatif nilai.

“Kesimpulannya hampir sama, bahwa di era modern dan di masyarakat sekular itu agama tidak betul-betul hilang,” jelasnya.

Haedar menilai buku Dadang Kahmad penting karena mengajak pembaca melihat masa depan agama dengan perspektif yang lebih luas. Bagi Muhammadiyah, pembahasan itu dapat menjadi bahan refleksi untuk memperkuat peran agama di tengah perubahan masyarakat.

Ia berharap buku tersebut dapat menginspirasi warga Muhammadiyah untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

“Saya pikir dari situ buku ini bisa menginspirasi kita dan siapa tahu sore hari ini biarpun sambil ngantuk-ngantuk kita terus belajar menjadi lebih baik. Selamat Pak Dadang. Wilujeng, hatur nuhun,” pungkas Haedar.

Tinggalkan Balasan