MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG – Dakwah komunitas di wilayah terpencil tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan lisan. Kehadiran dakwah perlu diwujudkan melalui aksi nyata yang mampu menjawab kebutuhan sosial, ekonomi, budaya, dan kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam Ujian Disertasi Tertutup Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Arifin di Program Doktor Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung pada Senin (5/10).
Penelitian disertasi yang dilakukan Moh. Arifin berjudul “Model Pemberdayaan Masyarakat Adat dalam Membangun Ketahanan Sosial pada Komunitas Mualaf Suku Baduy Luar.”
Disertasi tersebut mengkaji secara mendalam strategi pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas dalam membangun ketahanan sosial pada komunitas mualaf Suku Baduy Luar, dengan mengambil lokus penelitian di Kampung Cepak Buah, kawasan Baduy, Kabupaten Lebak, Banten.
Dalam pemaparannya, Arifin menegaskan bahwa dakwah komunitas, khususnya di wilayah terpencil, pedalaman, dan kawasan masyarakat adat, membutuhkan dua instrumen strategis, yakni modal dan model.
“Dakwah komunitas membutuhkan dua alat penting, yaitu modal dan model,” katanya.
Menurut Arifin, modal dalam konteks pemberdayaan tidak semata-mata dimaknai sebagai dukungan finansial. Modal juga mencakup modal sosial, modal budaya, pengetahuan, jejaring, sarana, serta berbagai sumber daya lokal yang dapat menopang proses pemberdayaan masyarakat.
Modal tersebut menjadi penting karena dakwah yang hadir di tengah masyarakat tidak hanya membawa pesan keagamaan, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan riil kehidupan masyarakat.
Sementara itu, model merupakan kerangka atau pola intervensi sosial yang terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan. Model pemberdayaan diperlukan agar dakwah tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi berkembang menjadi proses pendampingan yang mampu mendorong perubahan sosial dan meningkatkan kapasitas masyarakat.
Dengan demikian, integrasi antara modal dan model menjadi fondasi penting agar dakwah komunitas mampu melahirkan perubahan yang nyata dan berkelanjutan.
Dari Dakwah Menuju Pemberdayaan
Penelitian ini menunjukkan bahwa membangun ketahanan sosial pada komunitas mualaf masyarakat adat tidak dapat dilakukan melalui pendekatan sesaat.
Di Kampung Cepak Buah, dakwah hadir melalui proses pendampingan, pemberdayaan, dan penguatan kapasitas masyarakat. Pendekatan tersebut dilakukan dengan membangun relasi sosial, memahami konteks budaya masyarakat, menumbuhkan kepercayaan, serta mengembangkan potensi yang dimiliki komunitas.
Arifin menegaskan bahwa ketahanan sosial merupakan hasil dari proses yang panjang dan berkelanjutan.
“Untuk sampai kepada ketahanan sosial, perlu proses yang berkelanjutan.”
Karena itu, masyarakat adat tidak ditempatkan sebagai objek penerima bantuan semata, tetapi sebagai subjek utama pemberdayaan yang memiliki pengetahuan, potensi, pengalaman, serta kemampuan untuk menentukan arah perubahan komunitasnya.
Pendekatan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya dakwah yang mampu membaur secara kultural tanpa kehilangan nilai-nilai Islam, sekaligus menghargai identitas dan kearifan lokal masyarakat.
Dakwah yang Hadir dan Memberdayakan
Temuan penelitian Arifin memberikan kontribusi penting bagi pengembangan dakwah komunitas, khususnya dalam konteks masyarakat adat dan wilayah terpencil.
Dakwah tidak cukup hanya mengajak masyarakat menuju perubahan, tetapi juga harus menghadirkan jalan menuju perubahan tersebut melalui proses pemberdayaan yang nyata.
Dalam perspektif ini, dakwah menjadi kekuatan sosial yang mendorong masyarakat untuk memiliki kemampuan bertahan, mengembangkan potensi, memperkuat solidaritas, dan membangun kemandirian.
Penelitian tersebut sekaligus memperkuat gagasan bahwa gerakan dakwah Muhammadiyah perlu terus hadir di tengah masyarakat dengan pendekatan yang mencerahkan, memberdayakan, dan menggembirakan.
Ujian disertasi tertutup ini menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan akademik Arifin sebagai mahasiswa Program Doktor Sosiologi UMM.
Lebih dari sekadar pencapaian akademik, penelitian ini menghadirkan refleksi bahwa masa depan dakwah komunitas membutuhkan keberanian untuk turun langsung ke tengah masyarakat, membangun kepercayaan, memahami persoalan dari dekat, serta menghadirkan pemberdayaan yang berkelanjutan.
Dari tanah Baduy, penelitian ini membawa pesan sederhana tetapi mendalam: dakwah yang berkelanjutan bukan hanya mengajak masyarakat untuk berubah, tetapi hadir bersama masyarakat untuk membangun kemampuan agar mereka mampu bertahan, berdaya, dan tumbuh secara mandiri.






