MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jamaluddin Ahmad ingatkan untuk penguatan pembinaan jemaah, anggota, dan simpatisan Muhammadiyah.
Menjadi Cabang dan Ranting Muhammadiyah unggul, kata Jamal, kriteria utama dan pertamanya adalah pembinaan warga Persyarikatan. Jemaah atau warga Muhammadiyah harus mendapat perhatian, sekaligus pembinaan dari Cabang, Ranting, maupun mubalig, serta pimpinan Persyarikatan.
“Dengan kurangnya pembinaan maka kemudian jemaah kita itu merasa tidka diperhatikan oleh ustaz, mublig, dan pimpinan Persyarikatan. Padahal mereka ikut Muhammadiyah agar agamanya semakin bagus, kehidupannya semakin berkualitas,” kata Jamal pada (5/10) dalam Bicaramu oleh LPCRPM PP di Jogja.
Maka dia mendorong untuk mengaktifkan pengajian di jemaah akar rumput. Pengajian sebagai ruh Muhammadiyah, menurutnya harus diselenggarakan rutin minimal sebulan sekali di tingkatan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) setempat.
Selain itu, Jamal juga mendorong adanya integrasi program dengan Majelis Tabligh sebagai wadah penyedia mublig termasuk imam di masjid-masjid Muhammadiyah. Merujuk hasil Rakernas LPRCPM PP, keberadaan mublig Muhammadiyah itu minimal dua kali dari jumlah masjid maupun musala.
“Kalau Cabang minimal jumlah mubalignya minimal dua kali jumlah Ranting. Itu minimal. Oleh karena itu ini menjadi perhatian kita semua,” sambung Jamal.
Bagi LPCRPM, membina anggota Muhammadiyah tidak cukup hanya dengan memperbanyak jumlahnya. Sebab jangan sampai banyak anggota tapi dilepas tanpa pembinaan, tidak didatangi, tidak berkomunikasi, yang kemudian pada akhirnya mereka akan menjauh.
Tak lupa Jamal juga berpesan dalam menggerakkan Muhammadiyah baik itu masjid, maupun gerakan di bidang lain untuk selalu melibatkan anak muda sebagai regenerasi pelanjut perjuangan di Persyarikatan Muhammadiyah. Jangan sampai kegiatan Muhammadiyah isinya hanya orang tua saja.
Selain itu, dia juga mengingatkan jangan sampai pengurus atau pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah terjebak pada agenda formal seperti rapat. Situasi tersebut dapat menghilangkan ruh pergerakan. Tidak boleh diam, tapi harus bergerak sebagai konsekuensi Muhammadiyah gerakan Islam.






