MUHAMMADYAH.OR.ID, BANDUNG — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad menjelaskan bahwa buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama merupakan refleksi atas pengalaman panjangnya sebagai anggota Muhammadiyah sekaligus pengajar sosiologi agama.
Hal itu disampaikan dalam acara peluncuran buku tersebut di Universitas Muhammadiyah Bandung pada Senin (05/10).
Dadang mengatakan, peluncuran buku tersebut sekaligus menjadi momentum untuk bersilaturahmi dengan para hadirin. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada sejumlah tokoh Muhammadiyah, pimpinan perguruan tinggi, dan pihak-pihak yang terlibat dalam penerbitan buku tersebut.
Menurut Dadang, buku tersebut lahir dari dua latar belakang yang telah dijalaninya selama puluhan tahun. Ia bergabung dengan Muhammadiyah sejak 1980 dan pernah menjadi Ketua Pimpinan Ranting Cipadung, Ketua Pimpinan Cabang Ujungberung, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, hingga menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
“Buku ini adalah buku merupakan refleksi saya sebagai anggota Muhammadiyah dan sebagai pengajar sosiologi agama,” ujar Dadang.
Selama berada di Muhammadiyah, Dadang menyebut dirinya telah mengabdi selama 45 tahun. Ia juga menjalani masa pengabdian sebagai pengajar sosiologi agama di UIN selama 45 tahun, sejak 1977 hingga pensiun pada 2022.
“Untuk itu ini buku merupakan refleksi dari kedua latar belakang itu,” katanya.
Mempertanyakan Nasib Agama di Era Perubahan
Dadang mengatakan, salah satu hal yang terus diamatinya adalah posisi agama di tengah perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, setiap revolusi pengetahuan selalu memunculkan pertanyaan mengenai masa depan agama.
Ia mencontohkan revolusi industri yang memunculkan pemikiran bahwa agama akan tersisih oleh perkembangan positivisme. Keraguan serupa kembali muncul ketika komputer dan revolusi informasi berkembang. Kini, pertanyaan tersebut kembali mengemuka di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan dunia digital.
“Di zaman AI sekarang dunia digitalitas, semua orang mempertanyakan bagaimana nasib agama,” ujarnya.
Menurut Dadang, terdapat tiga sikap yang berkembang di kalangan tokoh dan pengikut agama dalam menghadapi modernisasi, perkembangan sains, dan teknologi.
Pertama, kelompok yang menolak modernisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Menurut Dadang, kelompok ini menarik diri dari perubahan dan mempertahankan kehidupan keagamaan yang ortodoks.
“Mereka menarik diri dan hidup dalam keagamaan yang ortodoksi,” katanya.
Kelompok ini, lanjut Dadang, berusaha mempertahankan berbagai aspek kehidupan agar tetap mengikuti pola masa lalu dan tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Kedua, kelompok agama yang terlalu larut dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dadang mengaitkannya dengan pandangan bahwa semakin tinggi kemampuan akal seseorang, semakin berkurang ketergantungannya terhadap agama.
“Buat apa berdoa kalau sakit perut? Beli aja itu Topcret atau apa. Makan. Kita sudah bukan lagi zaman agama, tinggalkan,” ujar Dadang menggambarkan pandangan tersebut.
Menurutnya, pandangan semacam itu turut berkontribusi pada berkembangnya agnostisisme dan ateisme.
Adapun sikap ketiga adalah kelompok yang memilih bersikap adaptif. Menurut Dadang, kelompok ini tetap memegang prinsip agama dalam akidah dan ibadah, tetapi terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam urusan muamalah.
“Nah, ini saya kira menurut saya jalan tengah inilah yang sangat bagus disebut jalan ketiga atau middle way,” tuturnya.
Dadang menyebut pendekatan tersebut sebagai “ortodoksi dalam akidah dan ibadah tetapi modernisasi dalam bidang muamalah duniawiyah.”
Dengan pendekatan itu, agama tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berhadapan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pengembangan agama dan kehidupan manusia.
“Dia tidak anti terhadap ilmu pengetahuan, tidak anti terhadap penemuan-penemuan teknologi, bahkan dia melakukan teknologi atau memanfaatkan penemuan teknologi itu dengan untuk kepentingan pengembangan agama secara baik,” jelasnya.
Dadang melihat gagasan Islam Berkemajuan memiliki keterkaitan dengan jalan ketiga tersebut. Menurutnya, sejak masa Kiai Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah menunjukkan corak keberagamaan yang memadukan keteguhan dalam akidah dan ibadah dengan sikap modern dalam urusan kehidupan duniawi.
“Dan mohon maaf, Islam berkemajuan itulah kira-kira sebagai natijahnya adalah jalan ketiga itu yang sejak Kiai Ahmad Dahlan seperti tadi ditayangkan dia sudah seperti itu adalah puritanisme dalam akidah dan ibadah tapi modernisme dalam bidang muamalah duniawi,” ujarnya.
Dadang berharap buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama dapat menjadi bahan refleksi mengenai posisi agama dalam menghadapi perubahan zaman, terutama ketika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung semakin cepat.
“Selamat membaca, mudah-mudahan ada manfaatnya,” pungkas Dadang.






