MUHAMMADIYAH.OR.ID, MANCHESTER — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) United Kingdom (UK) & Irlandia tampil sebagai wakil tunggal Indonesia dalam perhelatan internasional Global Muslim Youth Meet-Up 2026 yang berlangsung di British Muslim Heritage Centre (BMHC), Manchester, Inggris.
Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir mengungkap bahwa selain melakukan diskusi strategis dengan berbagai negara, delegasi PCIM UK & Irlandia turut berkesempatan bertemu langsung dengan dua tokoh muslim di Inggris yaitu Lord Mayor of Manchester (Walikota), Councillor Shaukat Ali dan Wajid Akhter, Sekretaris Jendral Muslim of Britain (MCB) yang merupakan lembaga payung Muslim terbesar di Inggris.
Sebuah momen yang menegaskan keterbukaan dan sambutan hangat otoritas Kota Manchester terhadap komunitas Muslim, termasuk Muhammadiyah sebagai organisasi Islam asal Indonesia.
“Kehadiran kami di Global Muslim Youth Meet-Up 2026 sekaligus menegaskan bahwa Muhammadiyah, meski lahir di Indonesia, memiliki misi dakwah yang bersifat universal dan lintas negara. Pertemuan dengan Wali Kota Manchester Shaukat Ali dan Sekjen MCB Dr Wajid Akhter menjadi bukti bahwa jaringan yang kami bangun di Britania Raya semakin diakui dan dipercaya, baik oleh otoritas kota maupun komunitas Muslim Inggris secara luas,” ujar Ince Dian
Diinisiasi oleh Yosh International yang bersinergi dengan MyFundAction, forum ini berhasil mempertemukan para delegasi pemuda dari berbagai belahan dunia. Perwakilan dari Malaysia, Yordania, Mesir, Turki, Irlandia, hingga Britania Raya sebagai tuan rumah duduk bersama untuk membahas arah pergerakan pemuda Islam di masa depan.
Dari rangkaian konferensi dan lokakarya tersebut, delegasi PCIM UK & Irlandia merangkum sejumlah poin refleksi kritis yang esensial, khususnya terkait paradigma pemuda dan ekosistem bisnis Islam. Yang Pertama yaitu menggali Inspirasi Pemuda melalui tokoh keislaman, yang mana di forum ini dibahas mengenai teladan 3 tokoh muslim yaitu: Ali bin Abi Thalib yang telah memilih dan meyakini kebenaran Islam sejak usia belia, Mus’ab bin Umar seorang diplomat muda yang membawa cahaya Islam ke Madinah, hingga Ibn Abbas yang mendedikasikan masa mudanya untuk menyelami ilmu pengetahuan (tafaqquh fiddin).
“Diskusi utama dalam perhelatan ini menegaskan bahwa esensi “muda” bukanlah sekadar batasan usia biologis, melainkan tentang komitmen, kapasitas, dan kontribusi nyata. Sejarah emas Islam (sirah) membuktikan bahwa fondasi dakwah justru digerakkan oleh para pemuda,” ucap Ince pada Rabu (19/8).
Kemudian yang kedua, pembahasan kemudian mengarah kepada sektor kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) yang menelurkan gagasan segar bagi para pelaku usaha Muslim. Singkatnya, terdapat empat pilar transformasi penting yang dirumuskan, antara lain:
Dari Kompetisi ke Kooperasi: Mengubah mentalitas saling menjatuhkan menjadi semangat sinergi dan kolaborasi antar-entitas bisnis. Peralihan ke Slow Economy: Mengedukasi pasar untuk beralih dari kebiasaan konsumtif instan menuju konsumsi yang penuh kesadaran (buy with intention). Transformasi Konsumen Menjadi Produsen: Menggeser mentalitas umat dari sekadar konsumen aktif (istihlak) menjadi penyedia solusi dan penggerak kedermawanan (infaq). Dari Kelangkaan Menuju Keberlimpahan: Menegaskan prinsip tauhid bahwa Allah SWT menciptakan bumi dengan porsi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (human needs). Kelangkaan yang terjadi saat ini dinilai bukan karena kurangnya sumber daya, melainkan akibat masalah distribusi dan ketamakan atas keinginan tak terbatas (human wants).
Terakhir, yaitu pembahasan krusial mengenai inovasi berkelanjutan di dalam lembaga-lembaga Islam. Forum ini menyadari bahwasannya inovasi kini menjadi kebutuhan mutlak agar generasi penerus tetap bangga dan teguh memeluk Islam di tengah gempuran zaman. Maka dari itu, Ince Dian mengungkap bahwa forum ini berpesan bahwa kekuasaan dan pengaruh Muslim global harus terus mengalir.
“Pemimpin yang baik diwajibkan untuk terus bergerak, melatih, dan menjadi mentor bagi penerusnya. Ada juga sebuah pesan reflektif yang menarik dan mengemuka di penghujung acara forum strategis ini: hanya para penipu yang tidak pernah merasakan impostor syndrome. Perasaan ragu pada diri sendiri secara sehat justru menandakan bahwa seorang pemimpin terus belajar, berkaca, dan menjaga integritasnya,” pungkas Dian.
Delegasi PCIM UK & Irlandia dihadiri oleh Ketua Ince Dian Aprilyani Azir, Sekretaris Majelis Pustaka, Informasi, dan Komunikasi Farisah Amanda, serta Aidan Maulana, selaku warga muda Muhammadiyah Britania Raya.
Keikutsertaan PCIM UK & Irlandia sebagai delegasi Indonesia dalam Global Muslim Youth Meet-Up 2026, termasuk pertemuan dengan Wali Kota Manchester Shaukat Ali dan Sekjen MCB Dr Wajid Akhter, diharapkan mampu memperluas jejaring global Muhammadiyah di kawasan Eropa sekaligus mempererat hubungan dengan otoritas Kota Manchester dan komunitas Muslim Inggris. Catatan-catatan penting dari Manchester ini siap diinkubasi sebagai bahan pengayaan gerakan dakwah kultural dan pemberdayaan kepemudaan, sejalan dengan visi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan. (Bhisma)






