Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Cinta kepada Rasul Tumbuh dengan Mengenal Kehidupan dan Perjuangannya

Oleh ilham • • 4 Menit Min
Cinta kepada Rasul Tumbuh dengan Mengenal Kehidupan dan Perjuangannya

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta Hendra Darmawan mengajak umat Islam memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan mengenal kehidupan dan perjuangannya. Menurutnya, cinta kepada Rasul perlu dibangun melalui pengetahuan sehingga umat dapat meneladani akhlak dan perjuangannya.

Pesan tersebut disampaikan Hendra dalam kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (04/10).

Hendra mengawali kajiannya dengan mengutip hadis Rasulullah Saw., al-mar’u ma‘a man aḥabba, yang berarti seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya. Ia menjelaskan, kecintaan kepada Rasulullah Saw. menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim karena kelak manusia akan dibangkitkan bersama dengan orang yang dicintainya.

“Kalau kita mencintai Rasul Muhammad, berupaya mencintai Rasul Muhammad, kelak kita akan dibangkitkan bersamanya,” jelasnya.

Menurut Hendra, kecintaan tersebut juga dapat diarahkan kepada para ulama, orang-orang yang beramal, syuhada, orang saleh, pejuang Islam, dan orang-orang yang ikhlas. Mereka yang dicintai akan menjadi bagian dari orang-orang yang ingin ditemani kelak.

Selain hadis tentang cinta, Hendra mengutip hadis lain, al-mar’u ‘alā dīni khalīlihi, fal-yanẓur aḥadukum man yukhāllil, yang menjelaskan bahwa agama atau cara beragama seseorang dipengaruhi oleh teman dekatnya. Karena itu, ia mengingatkan jamaah agar memperhatikan lingkungan pertemanan.

“Penting bagi kita untuk memilih teman-teman yang menggugah gairah Islam kita,” katanya.

Ia mengaitkan pesan tersebut dengan istilah circle yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kelompok pertemanan, komunitas, hingga grup percakapan dapat memengaruhi pola pikir dan cara seseorang menjalankan agamanya.

Jika seseorang terbiasa menghadiri majelis ilmu, majelis taklim, mengaji, dan melakukan tadabur Al-Qur’an, kebiasaan tersebut akan turut membentuk cara beragamanya.

Membersamai Rasul dengan Mengenalnya

Hendra kemudian menjelaskan konsep ma‘iyyah atau kebersamaan. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hadid yang menyebut bahwa Allah bersama manusia di mana pun mereka berada.

Menurutnya, ma‘iyyatullah mengingatkan manusia bahwa kehidupannya selalu berada dalam pengawasan Allah atau muraqabah. Kesadaran tersebut penting agar manusia menjaga perilaku karena menyadari keberadaan Allah dalam setiap aktivitasnya.

Dalam konteks kecintaan kepada Rasulullah Saw., Hendra mengajak jamaah membangun kebersamaan dengan Rasul melalui proses mengenal kehidupan beliau.

“Belajar Islam, mencintai Islam atau mencintai Rasul dengan mengenalnya. Al-ḥubbu yanmū bil-ma‘rifah. Kecintaan itu akan tumbuh dengan pengetahuan,” ujarnya.

Ia kemudian mengutip ungkapan yang populer, “tak kenal maka tak sayang,” untuk menjelaskan pentingnya pengetahuan dalam menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Saw.

Hendra mencontohkan salah satu karya Syekh Salman al-Audah, Hākadzā Rasūlullāh, yang menggambarkan kehidupan Rasulullah Saw. Menurutnya, mengenal kehidupan Rasul membantu umat memahami keistimewaan pribadi dan perjuangan beliau.

Meneladani Keberanian, Kedermawanan, dan Akhlak Rasul

Hendra menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. merupakan manusia yang memiliki karakter istimewa. Ia menyebut Rasul sebagai pribadi yang pemberani, dermawan, dan memiliki akhlak yang sangat baik.

Keberanian Rasulullah Saw., menurut Hendra, terlihat dari keterlibatan beliau secara langsung dalam berbagai peperangan. Rasul tidak hanya memberikan perintah dari belakang, tetapi hadir memimpin umat dalam menghadapi berbagai situasi sulit.

Sementara itu, sifat dermawan Rasulullah Saw. terlihat dari kesediaannya memberikan apa yang dimiliki untuk menghormati tamu dan membantu sesama, bahkan ketika berada dalam kondisi sulit.

“Pengorbanan Rasul dengan apa yang beliau miliki tidak hanya hartanya, tetapi juga jiwa dan raganya beliau pertaruhkan demi Islam,” ungkapnya.

Hendra juga mengingatkan akhlak Rasulullah Saw. dalam memperlakukan orang yang berbuat buruk kepadanya. Ia mengutip pesan Nabi, ṣil man qaṭa‘aka, wa a‘ṭi man ḥaramaka, wa‘fu ‘amman ẓalamaka.

Pesan tersebut mengajarkan umat untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutusnya, memberi kepada orang yang tidak memberikan sesuatu kepadanya, serta memaafkan orang yang menzaliminya.

Menurut Hendra, ajaran tersebut melampaui kecenderungan manusia yang biasanya membalas perlakuan buruk dengan perlakuan serupa. Ia mengingatkan bahwa membalas kezaliman dapat melahirkan kezaliman baru.

Belajar dari Keteguhan Rasul Menghadapi Pemboikotan

Hendra kemudian mengajak jamaah melihat perjuangan Rasulullah Saw. ketika menghadapi pemboikotan oleh kaum Quraisy. Keluarga Bani Hasyim dan para pengikut Rasul mengalami tekanan ekonomi karena adanya kesepakatan untuk menghentikan transaksi dengan mereka.

Pemboikotan tersebut menyebabkan keluarga Rasulullah Saw. dan para pengikutnya mengalami kesulitan mendapatkan makanan. Dalam kondisi tersebut, Abu Thalib berusaha mencari jalan untuk menghadapi kesepakatan yang merugikan tersebut.

Hendra menjelaskan, sejumlah orang kemudian diyakinkan untuk mempertanyakan dan menggugat kesepakatan pemboikotan tersebut. Peristiwa itu menunjukkan bahwa perjuangan Rasulullah Saw. berlangsung dalam kondisi yang penuh tekanan.

Ia juga mengutip Surah Al-Qamar ayat 2 yang menggambarkan sikap kaum musyrik ketika melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Mereka tetap berpaling dan menyebutnya sebagai sihir yang terus-menerus.

Menurut Hendra, sikap tersebut berkaitan dengan ḥamiyyat al-jāhiliyyah yang disebut dalam Surah Al-Fath. Ia memaknai hamiyyah sebagai keengganan menerima kebenaran.

“Ada sifat sulit untuk menerima kebenaran,” ujarnya.

Di tengah situasi tersebut, Allah menurunkan ketenangan kepada Rasulullah Saw. dan orang-orang beriman. Hendra menegaskan bahwa ketenangan pada akhirnya berasal dari Allah, bukan dari kekuatan atau tekanan yang digunakan manusia.

Tinggalkan Balasan