MUHAMMADIYAH.OR.ID, SURAKARTA – Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah (NA) berlanjut dengan Forum Strategis I bertajuk “Meningkatkan Kapasitas Perempuan Muda di Era Society 5.0: Mewujudkan Kebijakan yang Responsif Gender” di Dwangsa Lorin Hotel Surakarta, Jumat sore (7/8).
Forum ini menghadirkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Wamen Diktisaintek RI), Stella Christie, serta Anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), Iffa Rosita. Keduanya mengulas berbagai tantangan yang dihadapi perempuan muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendidikan, hingga demokrasi dan politik.
Sebagai pemateri pertama, Stella Christie menyoroti masih lebarnya kesenjangan gender dalam bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Menurutnya, ketimpangan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh perbedaan kemampuan, melainkan kuatnya bias dan stereotip yang masih hidup di masyarakat.
“Di Indonesia, lulusan STEM perempuan terhitung hanya sekitar 12 persen, sedangkan yang laki-laki 29 persen,” ungkap Stella saat menyoroti kondisi Sumber Daya Manusia di sektor STEM dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa anggapan laki-laki lebih cocok menekuni bidang sains dan teknologi telah membentuk persepsi sosial yang berpengaruh terhadap pilihan pendidikan maupun karier perempuan.
“Kenapa begitu? Itu bukanlah karena kemampuan alamiahnya, tapi justru karena bias dan stereotip yang ada di kita sendiri,” tegasnya.
Stella kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, AI yang selama ini dianggap objektif ternyata juga berpotensi melanggengkan ketidaksetaraan apabila dilatih menggunakan data yang telah mengandung bias.
Sebagai contoh, ia menyinggung sistem rekrutmen berbasis AI yang pernah dikembangkan Amazon. Sistem tersebut akhirnya dihentikan karena cenderung memberikan rekomendasi kepada kandidat laki-laki dibandingkan perempuan.
“Walaupun AI tidak punya perasaan, tetapi AI menggunakan data. Kalau data yang digunakan cenderung lebih banyak kecocokan di gender laki-laki (ataupun sebaliknya), maka CV yang akan banyak terpilih adalah laki-laki. AI ternyata juga masih bias karena menggunakan data,” jelas Stella.
Karena itu, Stella menegaskan bahwa solusi utama bukanlah mengandalkan teknologi semata, melainkan menghilangkan bias yang tertanam dalam masyarakat. Ia mendorong seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah untuk mengambil peran dalam memperluas partisipasi perempuan di bidang STEM sekaligus membangun ekosistem yang lebih inklusif.
“Obatnya bukan AI. Kita semua sebagai komunitas yang berpengaruh punya tanggung jawab untuk mengurangi stereotip. Ketiga bias gender ini dapat diatasi, maka dampaknya akan langsung terhadap perekonomian,” paparnya.
Sementara itu, Anggota KPU RI, Iffa Rosita, mengajak perempuan muda untuk memperkuat peran dalam kehidupan demokrasi dan politik. Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini tidak hanya berupa kesenjangan akses dan literasi digital, tetapi juga stereotip gender, budaya patriarki, rendahnya keterwakilan perempuan, serta maraknya disinformasi di ruang publik.
Ia menekankan bahwa partisipasi politik perempuan tidak boleh berhenti pada momentum pemilu semata. Perempuan muda perlu hadir dalam seluruh proses demokrasi, mulai dari menggunakan hak pilih, mengawasi jalannya pemerintahan, menyampaikan aspirasi, memengaruhi kebijakan publik, hingga terlibat langsung sebagai pengambil keputusan.
“Jadi kita adalah subjek penting penentu Indonesia ke depan mau seperti apa. Dengan terus berpartisipasi aktif, maka harapannya kita bisa melahirkan perempuan cerdas baik dalam memilih, maupun menyiapkan dan menentukan kader pemimpin masa depan,” ujar Iffa.
Forum Strategis I tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas kader Nasyiatul Aisyiyah dalam menghadapi tantangan era Society 5.0. Sejalan dengan tema Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah, “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan,” forum ini menegaskan bahwa perempuan muda tidak hanya dituntut mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi, tetapi juga harus menjadi aktor utama yang menghadirkan inovasi, menghapus bias gender, serta berkontribusi dalam mewujudkan kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. (Bhisma)






