Kamis, 17 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

‘Aisyiyah Sikka Sebrangi Lautan Serahkan Bantuan Penyintas Gempa di Pulau Palue

Oleh aanardianto 3 Menit Min
‘Aisyiyah Sikka Sebrangi Lautan Serahkan Bantuan Penyintas Gempa di Pulau Palue

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SIKKA – Kecamatan Palue yang berada di daratan Pulau Palue di Kabupaten Sikka menjadi salah satu lokasi paling parah terdampak gempa bumi Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu.

Kecamatan yang dikelilingi lautan ini dihuni 9.497 jiwa, dan delapan desa atau kelurahan. Jarak antara Pulau Palue dengan Kabupaten Sikka sendiri kurang lebih 65 kilometer, melewati darat dan laut.

Menuju Pulau Palue, jalur Maumere menjadi pilihan utama kendati memakan waktu lebih panjang. Tim relawan harus berangkat melalui Pelabuhan Kewapante, Maumere, kemudian menempuh perjalanan laut dengan Kapal Feri yang memakan waktu hingga enam jam.

Meski demikian, ombak dari Laut Flores bukan pembatas bagi ibu-ibu Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sikka dalam menjalankan niat baik melakukan amal kebajikan ke Pulau Palue.

Melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi pada (17/9), Ketua PDA Sikka, Fitriah menjelaskan, perjalanan dari Sikka ke Pulau Palue cukup jauh. Meskipun masih dalam satu administrasi kabupaten.

Pulau Palue justru lebih dekat dengan Kabupaten Nagekeo– yang menjadi salah satu pusat Gempa Flores yang mengguncang NTT dan sekitarnya pada pertengahan Agustus 2026 lalu.

Kedekatan jarak itu menjadikan Pulau Palue mengalami kerusakan cukup berat. Dalam catatan lapangan, warga membutuhkan berbagai kebutuhan dasar. Mulai dari tenda, tikar, selimut, hingga kebutuhan khusus untuk balita.

“Di kabupaten Sikka, untuk daerah yang paling terdampak ada di Pulau Palue,” ungkapnya

Jalur Terjal, Naik Perahu dan Ancaman Gunung Aktif Rokatenda

Setelah enam jam mengarungi laut, rombongan tiba di Pelabuhan Pulau Palue. Namun perjalanan belum selesai, kondisi geografis pulau tersebut menjadi tantangan tersendiri karena berada dalam kawasan vulkanik Gunung Rokatenda, yang masih aktif.

Pasca gempa, banyak ruas jalan rusak sehingga mobilitas belum leluasa. Oleh karena itu, tim relawan harus kembali menggunakan perahu mengitari pulau menuju titik yang paling dekat dengan desa sasaran selama kurang lebih 30 menit.

“Setelah sampai menggunakan perahu, relawan harus berjalan dengan medan yang menanjak menuju desa sekitar 30–45 menit. Kendaraan tidak bisa naik, jadi bantuan dibawa dengan dipikul,” kata Fitriah.

Di Pulau Palue, PDA Kabupaten Sikka menyalurkan bantuan ke empat desa, antara lain Desa Kesokoja di Dusun Awa Male, Desa Natakuni di Dusun Cua, Desa Nitunglea di Dusun Nitung, serta Desa Tuanggeo di Dusun Okacere.

Serahkan Bantuan Berbasis Hak Penyintas untuk Perempuan dan Anak

Bantuan yang dibawa dari Sikka, katanya, tak hanya untuk kebutuhan mendasar atau kebutuhan pokok, tapi bantuan yang dibawah berbasis hak penyintas, khususnya perempuan dan anak, lebih-lebih balita.

Oleh karena itu bantuan yang dibawah oleh Fitriah juga ada perlengkapan mandi, minyak kayu putih, minyak telon, pembalut, termasuk juga sembako dan air siap minum yang menjadi kebutuhan mendesak.

“Ada beberapa rekan kami yang ditempatkan di Pulau Palue, untuk memantau apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Fitriah mengaku bersyukur bantuan yang dibawa ‘Aisyiyah bersama Muhammadiyah dapat menjangkau masyarakat Pulau Palue. Menurutnya, kebutuhan warga sangat besar karena hampir 90 persen rumah warga mengalami kerusakan berat.

Mayoritas warga atau penyintas gempa NTT di Pulau Palue bukan beragama Islam. Namun demikian, hal itu bukan penghalang bagi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk hadir memberikan bantuan. 

“Mereka sangat berterima kasih kepada ‘Aisyiyah dan Universitas Muhammadiyah karena mereka langsung menerima apa yang mereka butuhkan,” pungkasnya.

Selain bantuan kebutuhan dasar, Fitriah berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat segera memberikan dukungan hunian bagi warga yang rumahnya rata dengan tanah. Hal tersebut dinilai mendesak mengingat musim penghujan akan segera tiba.

Tinggalkan Balasan