Selasa, 6 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Siraad Dahlan dan Lahirnya Logo Muhammadiyah

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Siraad Dahlan dan Lahirnya Logo Muhammadiyah

Oleh: Bhisma Rahaditya Handoko

Sebagai gerakan yang membawa visi pencerahan peradaban, Muhammadiyah begitu lekat dengan simbol matahari. Simbol tersebut menjadi bagian utama logo Persyarikatan Muhammadiyah dan juga diabadikan dalam syair lagu resmi Muhammadiyah, “Sang Surya”.

Logo Muhammadiyah memiliki ciri khas tulisan Arab “Muhammadiyah” di tengah lingkaran yang dikelilingi dua kalimat syahadat dan 12 cabang sinar matahari berwarna putih. Dengan warna dasar hijau, logo tersebut bukan sekadar identitas visual, tetapi menyimpan filosofi yang mendalam.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan bahwa logo Muhammadiyah tersebut dibuat oleh KH Siraad Dahlan, putra sulung KH Ahmad Dahlan.

“Dari HM Sukriyanto AR yang berasal dari penuturan tokoh seniornya di Muhammadiyah seperti H Djarnawi Hadikusumo, Pak Wasthan Sudjak, dan lainnya, simbol Muhammadiyah, logo Matahari dibikin oleh Pak Siraad Dahlan, putra sulung Kiai Dahlan,” jelas Haedar dalam momentum peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (12/9).

Siradj Dahlan: Ahli Falak dan Seniman Kaligrafi

KH Siraad Dahlan mewarisi keulamaan, keahlian ilmu falak, sekaligus darah seni dari ayahnya, KH Ahmad Dahlan. Dalam konteks tersebut, lahirnya simbol matahari Muhammadiyah memiliki keterkaitan erat dengan gagasan pencerahan yang menjadi karakter gerakan Muhammadiyah.

Menurut Haedar, matahari merupakan sumber cahaya sekaligus sumber kehidupan. Karena itu, simbol tersebut semestinya tidak berhenti sebagai identitas organisasi, tetapi menjadi pesan yang dihidupkan oleh setiap warga Persyarikatan.

“Muhammadiyah Aisyiyah di mana pun berada, dia harus menjadi cahaya kehidupan. Ketika banyak orang putus asa tentang hidup, seberat apa pun itu kita harus tetap jadi cahaya dan jangan ikut menciptakan suasana gelap dan hilang harapan. Di situlah pentingnya Muhammadiyah,” pesan Haedar.

Makna tersebut menempatkan simbol matahari sebagai representasi dari peran Muhammadiyah dalam menghadirkan pencerahan. Cahaya tidak hanya menerangi, tetapi juga memberi kehidupan dan menunjukkan jalan di tengah kegelapan.

Sementara itu, tulisan “Muhammadiyah” di bagian tengah logo menegaskan identitas Persyarikatan yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912 sebagai gerakan yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Dua kalimat syahadat yang mengelilinginya merepresentasikan komitmen Muhammadiyah untuk menegakkan tauhid dan kalimah Allah serta mengikuti Rasulullah SAW.

Warna Hijau, Putih, dan Estetika yang Sarat Makna

Filosofi logo Muhammadiyah juga tercermin melalui pilihan warnanya. Berdasarkan tulisan HM Sukriyanto AR dalam Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 10 Tahun 2015, warna hijau menurut KH Siradj Dahlan merupakan warna yang ditawarkan Allah SWT kepada umat Islam.

Hal tersebut merujuk pada sejumlah ayat Al-Qur’an yang menyebut warna hijau sebagai bagian dari gambaran kenikmatan di surga. Di antaranya QS Ar-Rahman ayat 76, QS Al-Insan ayat 21, dan QS Al-Kahfi ayat 31.

Dalam perkembangan pemaknaannya, warna hijau kerap dipahami sebagai simbol kesejukan, kesegaran, kedamaian, keteduhan, dan ketenteraman. Makna tersebut selaras dengan karakter dakwah Muhammadiyah yang berkomitmen menghadirkan dakwah Islam yang mencerahkan, menyejukkan, dan membawa ketentraman melalui amal shalih yang menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

Sementara itu, warna putih pada sinar matahari Muhammadiyah juga memiliki makna tersendiri. Putih dikenal sebagai warna yang disukai Rasulullah SAW. Dalam riwayat yang disampaikan tentang KH Ahmad Dahlan, warna tersebut juga dimaknai sebagai harapan agar warga Muhammadiyah senantiasa memancarkan cahaya Islam dengan niat yang bersih dan hati yang suci.

Cahaya putih turut menjadi simbol dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukan tanpa pamrih, semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT. Maka, sinar matahari sebagai ciri khas dalam logo Muhammadiyah tidak hanya menggambarkan cahaya yang menerangi, tetapi juga menggambarkan kebersihan niat dalam menjalankan gerakan dakwah.

Berbagai unsur dalam logo Muhammadiyah tersebut menunjukkan bahwa sejak awal Persyarikatan telah memandang simbol bukan sekadar persoalan estetika atau keindahan visual. Di balik setiap unsur terdapat gagasan dan nilai yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam momentum peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah perlu terus belajar memahami hubungan antara estetika dan makna.

“Muhammadiyah sejak awal memang telah melahirkan simbol logo. Maka kita di Muhammadiyah harus belajar tentang estetika dan makna di baliknya, bahwa makna adalah sesuatu yang bernilai di balik benda atau sesuatu yang eksis yang kita hadapi. Sedangkan estetika adalah sesuatu yang memiliki keindahan,” tutur Haedar.

Bagi Haedar, memahami estetika dalam logo Muhammadiyah juga berarti memahami pesan yang harus dihidupkan dalam gerakannya. Matahari tidak cukup hanya menjadi simbol yang indah, tetapi harus menjadi spirit dakwah agar Muhammadiyah dan Aisyiyah senantiasa menjadi cahaya pencerahan yang hidup di tengah persoalan keumatan bangsa dan kemanusiaan global. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan