MUHAMMADIYAH.OR.ID, SAMARINDA – Persyarikatan Muhammadiyah saat ini telah memiliki 165 Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Seharusnya tidak heran dengan jumlah tersebut, sebab rencana pendiriannya telah disampaikan sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.
Pembicaraan tentang rencana pendirian perguruan tinggi di Muhammadiyah telah disampaikan oleh Ketua Bahagian Sekolahan, Kiai Hisyam dalam Rapat Anggota Muhammadiyah pada 17 Juli 1920 di Gedung Pengurus Utama (Hoofdbestuur) Muhammadiyah Kauman, Yogyakarta.
Alih-alih surut, kampus Muhammadiyah kini jumlahnya semakin banyak. Ratusan kampus Muhammadiyah itu kini tersebar di seluruh Indonesia, dan satu di Malaysia. Sehingga kampus Muhammadiyah kini menjadi jejak gagasan pembaruan abadi yang tak lekang oleh zaman.
“Sebelum kemerdekaan kita sudah berbicara perguruan tinggi. Maka kalau kita mau melihat dengan jernih di Jogja itu ada beberapa perguruan tinggi tertua namanya UII, Universitas Islam Indonesia. Kalau kita buka-buka pendirinya kan orang Muhammadiyah,” ungkap Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais (15/9) di UMKT, Samarinda.
Selain UII di DIY, Ahmad Dahlan Rais juga mengungkapkan bahwa ada salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah yang proses pendiriannya dilakukan oleh tokoh Muhammadiyah.
Dahlan Rais menambahkan, Muhammadiyah termasuk para kader dan tokohnya sejak awal berdiri memang memiliki gagasan-gagasan pembaruan (tajdid) yang berorientasi pada kemajuan.
“Muhammadiyah itu maunya berjalan di depan perubahan, bukan hanya jalan-jalan di depan rumah,” kata Dahlan Rasi.
Mengingat kembali pesan Kiai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah kini berbeda dengan yang akan datang….., Dahlan Rais mengajak kader, pimpinan, dan warga Muhammadiyah untuk berpikir strategis dan reflektif. Sekaligus tidak lagi cukup bertanya apa, tapi bagaimana dan mengapa.
Kata kini dan nanti merujuk pada waktu, atau pentingnya waktu. Hal ini selaras dengan sejarah Kiai Dahlan yang mengajarkan Surat Al Asr lebih lama dibandingkan ketika mengajarkan Surat Al Ma’un kepada muridnya. Al Asr selama delapan bulan, sementara Al Ma’un yang hanya tiga bulan.
“Jadi kalau mau menjadi orang Muhammadiyah yang punya ilmu dan wawasannya cukup, mestinya kembali ke Al Asr, tanpa mengesampingkan Al Ma’un,” katanya.
Oleh karena itu, Dahlan Rais berharap, ke depan Muhammadiyah dapat terus relevan dengan perubahan sesuai zaman. Hal ini sesuai dengan dokumen organisasi yang menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan– sebagai gerakan tentu berhenti adalah pantangan.






