MUHAMMADIYAH.OR.ID, MAGELANG – Dalam mengejar kemajuan, pengakuan akademik, dan daya saing kelembagaan, kampus Muhammadiyah tidak boleh meninggalkan ideologi Muhammadiyah.
Hal itu ditekankan Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal pada Jum’at (31/7) dalam Tabligh Akbar Milad ke-62 Tahun Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) di Auditorium kampus.
Fathur memandang, kemajuan UNIMMA termasuk PTMA lain tak sebatas diukur dari pembangunan fisik, pertambahan program studi, jumlah mahasiswa, maupun capaian akademik.
Lebih dari itu, bagi PTMA keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuannya menjadikan ideologi Muhammadiyah sebagai landasan pengembangan institusi. Sebab yang mampu bertahan menghadapi perubahan sosial dan pergolakan kebudayaan umumnya memiliki basis nilai dan orientasi ideologis yang kuat.
Menurutnya, Muhammadiyah bukan sebatas identitas nama melainkan sumber nilai dan ajaran yang menjiwai tata kelola kampus, pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, keteladanan, dan keberpihakan kampus atas persoalan masyarakat.
Maka Al Islam-Kemuhammadiyahan (AIK) tidak boleh berhenti pada mata kuliah formal. AIK harus menjadi ruh yang menghidupkan etika akademik, budaya kerja, hubungan antar civitas akademika, dan keseluruhan penyelenggaraan pendidikan.
Perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial telah membuat pengetahuan semakin mudah diperoleh. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan peran dosen dalam menghadirkan keteladanan dan mentransformasikan nilai-nilai keimanan kepada mahasiswa.
“Teknologi dapat menyampaikan pengetahuan, tetapi tidak dapat mentransformasikan ruh. Tugas dosen adalah menubuhkan konsep-konsep keimanan dalam kehidupan nyata,” tuturnya.
Dengan demikian, keberhasilan AIK tidak hanya diukur melalui nilai ujian atau kemampuan mahasiswa mengutip ayat dan hadis. Keberhasilannya harus terlihat dalam kejujuran akademik, kedisiplinan, tanggung jawab, kematangan moral, dan kepedulian sosial warga kampus.






