Sabtu, 19 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Reputasi Muhammadiyah Ditopang Etika dan Budaya Organisasi

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Reputasi Muhammadiyah Ditopang Etika dan Budaya Organisasi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Reputasi baik Muhammadiyah merupakan buah perjalanan panjang Persyarikatan yang ditopang oleh ideologi, aturan, etika, dan budaya organisasi.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syafiq A. Mughni dalam pembukaan Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah DKI Jakarta, Jumat (18/9), di Aula Ir. Djoeanda, Gedung Dakwah PWM DKI Jakarta.

Syafiq mengatakan, kepercayaan terhadap Muhammadiyah terlihat dari semakin banyaknya kunjungan duta besar negara sahabat, lembaga internasional, lembaga negara, dan pihak swasta ke kantor Muhammadiyah di Jakarta maupun Yogyakarta.

“Ini adalah sebuah apresiasi dan kepercayaan yang harus kita jaga. Ini bukan sesuatu yang harus kita banggakan, tetapi sesuatu yang harus kita syukuri dan kemudian kita jaga,” ujarnya.

Menurut Syafiq, fondasi reputasi tersebut telah dibangun sejak masa KH Ahmad Dahlan melalui akidah yang kokoh, etos kerja, dan komitmen terhadap kemanusiaan. Nilai-nilai itu kemudian dirumuskan dalam berbagai keputusan organisasi, termasuk Risalah Islam Berkemajuan.

Namun, kehidupan organisasi tidak cukup hanya berpedoman pada aturan tertulis. Etika, kepatutan, dan budaya organisasi juga harus menjadi pertimbangan dalam menjalankan Persyarikatan.

Syafiq mencontohkan pentingnya memberikan penghormatan kepada mantan pimpinan dan tokoh senior Muhammadiyah. Meskipun tidak diatur secara tertulis, melibatkan mereka dalam kegiatan Persyarikatan merupakan bagian dari etika sekaligus upaya merawat hubungan antargenerasi.

Selain itu, ia mengingatkan agar budaya tidak berebut jabatan terus dipertahankan dalam proses pergantian kepemimpinan Muhammadiyah.

“Kalau ada dua orang terpilih dan salah satunya harus menjadi ketua umum atau ketua, yang satu mengatakan, ‘Sampeyan saja, Bapak saja, atau Ibu saja yang menjadi ketua, jangan saya.’ Itu budaya Muhammadiyah,” katanya.

Sebaliknya, Syafiq menilai sikap bersikeras menjadi pemimpin karena menganggap organisasi tidak dapat berjalan tanpa dirinya justru bertentangan dengan budaya Muhammadiyah.

“Kalau ada orang yang ngotot bahwa harus dirinya, dan jika bukan dirinya Muhammadiyah tidak bisa berjalan, itu terasa aneh dan bertentangan dengan budaya Muhammadiyah,” tegasnya.

Karena itu, Syafiq mengajak seluruh warga dan pimpinan Muhammadiyah untuk terus memelihara nilai, etika, dan budaya organisasi agar kepercayaan masyarakat terhadap Persyarikatan tetap terjaga. (taufik)

Tinggalkan Balasan