Rabu, 16 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Isi Kehidupan dengan Amal Kebaikan Sebelum Kesempatan Berlalu

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Isi Kehidupan dengan Amal Kebaikan Sebelum Kesempatan Berlalu

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Kehidupan manusia di dunia memiliki batas. Kapan dan di mana ajal akan datang, tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti. Karena itu, setiap kesempatan hidup semestinya diisi dengan amal kebajikan, kerja keras, dan pengabdian kepada Allah SWT.

Pesan tersebut disampaikan M. Muchlas Abror dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Mataram, Pakel Baru, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, pada Ahad (13/9). Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005–2010 itu mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan berbagai kebaikan.

Menurut Muchlas, waktu yang telah berlalu tidak mungkin dikembalikan. Karena itu, kesempatan yang dimiliki saat ini harus dimanfaatkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan memberikan manfaat bagi sesama.

“Kehidupan ini harus diisi dengan amal baik, kerja keras, serta pengabdian kepada Allah SWT,” ujar Muchlas.

Dalam kehidupan bermasyarakat, pesan tersebut dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai, membantu, dan menjaga hubungan baik dengan sesama tanpa membeda-bedakan.

“Harus saling menghargai, saling membantu, dan menjaga hubungan dengan sesama,” tuturnya.

Muchlas juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Kesempatan hidup yang diberikan Allah SWT merupakan ruang bagi manusia untuk terus memperbaiki diri sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Pesan tersebut sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang pentingnya memanfaatkan kesempatan sebelum datang masa yang menyebabkan kesempatan tersebut hilang.

“Pesan hadis ini mengajarkan agar manusia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah SWT,” jelas Muchlas.

Ia secara khusus mengingatkan generasi muda agar tidak membiarkan masa produktif berlalu tanpa diisi kegiatan yang bermanfaat. Menurutnya, masa muda merupakan salah satu kesempatan berharga yang perlu digunakan secara bijak.

“Jangan sampai masa muda berlalu tanpa diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Jangan sampai ketika sudah tua baru menyadari bahwa banyak kesempatan yang telah terlewatkan,” tegasnya.

Hal serupa berlaku dalam persoalan kesehatan. Muchlas menyebut kesehatan sebagai salah satu nikmat yang sangat berharga. Selama tubuh masih sehat, kondisi tersebut hendaknya dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, beribadah, dan melakukan berbagai amal kebaikan.

“Selagi sehat, gunakanlah kesehatan untuk beribadah, bekerja, dan melakukan amal kebaikan,” ajaknya.

Tidak hanya itu, Muchlas menempatkan aktivitas bekerja sebagai bagian dari pengabdian apabila dilakukan dengan niat dan cara yang benar. Bekerja tidak semata-mata berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan duniawi, tetapi juga dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh, jujur, dan bertanggung jawab.

“Kerja yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, jujur, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari amal saleh,” kata Muchlas.

Pada akhirnya, setiap waktu yang masih dimiliki merupakan kesempatan untuk menanam kebaikan. Karena itu, kehidupan tidak semestinya hanya diukur dari apa yang diperoleh untuk diri sendiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

“Kita dapat mengisi dan menggunakan waktu sebaik-baiknya. Kita banyak berbuat kebaikan kepada sesama. Sehingga semakin tinggi tingkat kebermanfaatannya bagi orang lain, amal itu semakin utama dan berkah,” pungkasnya. (Andiva)

Tinggalkan Balasan