Sebelum peluit pertama dibunyikan, beberapa kali terlihat bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa. Sebagai seorang Muslim, kebiasaan itu menjadi pengingat bahwa ada harapan yang dipanjatkan kepada Allah SWT. Sehebat apa pun ikhtiar manusia, hasil akhirnya tetap berada di bawah kehendak-Nya.
Doa merupakan salah satu ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah Saw bahkan menyebut doa sebagai inti ibadah karena di dalamnya terkandung pengakuan atas kelemahan manusia dan penghambaan kepada Allah Yang Mahakuasa. Karena itu, Islam juga mengajarkan adab-adab dalam berdoa, salah satunya ialah mengangkat kedua tangan.
Mengenai persoalan ini, hadis-hadis Nabi Saw menunjukkan bahwa mengangkat tangan ketika berdoa merupakan amalan yang beliau lakukan dalam banyak kesempatan. Salah satu riwayat dari sahabat Abdullah bin Umar menceritakan bagaimana Rasulullah Saw berdoa setelah melempar jumrah pada musim haji.
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي الْجَمْرَةَ الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبِّرُ عَلَى أَثَرِ كُلِّ حَصَاةٍ ثُمَّ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ فَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيْلاً وَيَدْعُو وَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ ثُمَّ يَرْمِي الْوُسْطَى ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ الشِّمَالِ فَيَسْتَهِلُ وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيلاً وَيَدْعُو وَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُومُ طَوِيلاً ثُمَّ يَرْمِي جَمْرَةَ ذَاتِ الْعَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الْوَادِي وَلاَ يَقِفُ عِنْدَهَا ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُولُ هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ (رواه البخاري، كتاب الحج، ج:1، ص:198)
“Diceritakan kepada kami oleh ‘Utsman bin Syaibah, diceritakan kepada kami oleh Thalhah bin Yahya, diceritakan kepada kami oleh Yunus, dari az-Zuhriy, dari Salim, dari Ibni ‘Umar ra, bahwa dia (Ibni ‘Umar) melempar jamrah yang dekat (pertama) dengan tujuh kerikil sambil bertakbir pada akhir setiap lemparan kerikil, lalu maju hingga pada tempat yang rata dan berdiri menghadap qiblat dengan berdiri lama dan berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Lalu melempar jamrah wustha (kedua), lalu mengambil arah sebelah kiri dan menginjak tanah yang datar dan berdiri menghadap qiblat dengan lama berdiri, dan berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan berdiri lama, lalu melempar jamrah ‘aqabah (ketiga) dari arah lembah dan tidak berhenti di situ, kemudian meninggalkan tempat itu dan berkata: ‘Demikianlah saya melihat Nabi saw mengerjakannya’.” (HR. Bukhari).
Riwayat lain menunjukkan hal yang sama ketika Rasulullah Saw memimpin doa meminta hujan. Anas bin Malik meriwayatkan:
بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَ الْكُرَاعُ وَهَلَكَ الشَّاءُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يَسْقِيَنَا فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا
“Ketika Nabi Saw sedang berkhutbah pada hari Jumat, berdirilah seseorang lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, ternak kami telah binasa. Berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan kepada kami.’ Maka Rasulullah Saw mengulurkan kedua tangannya lalu berdoa.”
Begitu pula dalam riwayat Abu Musa al-Asy’ari. Ia menceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah berdoa untuk Abu Amir setelah meminta air untuk berwudu.
دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ بِهِ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ…
“Nabi saw. meminta air untuk berwudu. Setelah berwudu beliau mengangkat kedua tangannya seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah Abu Amir.’ Aku melihat putih kedua ketiak beliau. Kemudian beliau berdoa lagi, ‘Ya Allah, jadikanlah ia pada hari kiamat lebih mulia daripada banyak manusia.'”
Hadis yang paling sering dijadikan landasan mengenai keutamaan mengangkat tangan ketika berdoa adalah sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan dari Salman al-Farisi:
إِنَّ رَبَّكُمْ حَيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا
“Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu kepada hamba-Nya apabila hamba itu mengangkat kedua tangannya kepada-Nya, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad; dinilai sahih oleh al-Hakim).
Hadis ini memberikan gambaran yang sangat indah. Mengangkat kedua tangan adalah simbol kepasrahan seorang hamba yang datang kepada Tuhannya dengan penuh harapan. Sebagaimana seorang pengemis mengulurkan tangannya kepada orang yang dermawan, seorang mukmin mengangkat kedua tangannya kepada Allah, Dzat Yang Mahakaya dan Mahapemurah.
Memang terdapat sebuah hadis riwayat Anas bin Malik yang berbunyi:
أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍ مِنْ دُعَائِهِ إِلَّا فِي الِاسْتِسْقَاءِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ إِبْطَيْهِ
“Nabi Saw tidak mengangkat kedua tangannya dalam doa apa pun selain ketika istisqa’ (meminta hujan), hingga terlihat putih kedua ketiaknya.” (HR. Muslim).
Sekilas hadis ini tampak bertentangan dengan banyak hadis sebelumnya. Namun para ulama hadis telah menjelaskan bahwa pertentangan itu sebenarnya hanya tampak di permukaan. Imam al-Qasthalani dalam Irsyad as-Sari dan Imam as-Shan’ani dalam Subul as-Salam menerangkan bahwa yang dimaksud Anas bukanlah Nabi sama sekali tidak mengangkat tangan ketika berdoa, melainkan beliau tidak mengangkatnya dengan sangat tinggi kecuali pada saat salat istisqa’.
Dengan demikian, hadis-hadis tersebut dapat dikompromikan. Rasulullah Saw memang biasa mengangkat tangan ketika berdoa, tetapi pada doa istisqa’ beliau mengangkatnya lebih tinggi daripada biasanya.
Pendekatan inilah yang juga ditempuh oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah. Dalam Manhaj Tarjih, apabila terdapat dalil-dalil yang tampak bertentangan, langkah pertama bukanlah memilih salah satunya dan meninggalkan yang lain, melainkan mengupayakan al-jam’u wa at-taufiq, yakni mengumpulkan seluruh dalil lalu mengompromikannya selama hal itu memungkinkan. Setelah seluruh hadis dikaji, kesimpulannya adalah bahwa mengangkat kedua tangan ketika berdoa merupakan amalan yang disunnahkan atau mustahab. Adapun mengangkat tangan dengan sangat tinggi merupakan kekhususan pada doa istisqa’.
Karena itu, pemandangan seorang Muslim yang mengangkat kedua tangannya sebelum bertanding sepak bola, sebelum memulai perjalanan, sebelum mengikuti ujian, atau sebelum menjalani operasi bukanlah sesuatu yang asing dalam ajaran Islam. Ia sedang meneladani salah satu adab yang dicontohkan Rasulullah saw.
Gerakan mengangkat tangan itu bukan jaminan bahwa semua doa akan langsung terkabul sesuai keinginan, tetapi merupakan ungkapan kerendahan hati di hadapan Allah, pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan, dan keyakinan bahwa hanya Allah yang mampu menentukan hasil terbaik.
Mungkin itulah makna terdalam dari kedua tangan yang terangkat sebelum pertandingan dimulai. Di hadapan jutaan pasang mata, seorang pesepak bola memang sedang bersiap menghadapi lawan. Namun di hadapan Allah, ia terlebih dahulu menyatakan bahwa kemenangan sejati adalah berserah diri kepada Rabb semesta alam.
Referensi:
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, “Fatwa Tarjih Tentang Mengangkat Tangan Ketika Berdoa”, https://web.suaramuhammadiyah.id/2016/07/11/fatwa-tarjih-tentang-mengangkat-tangan-ketika-berdoa/, diakses pada Selasa, 7 Juli 2026.






