MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchammad Ichsan, mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam zona nyaman.
Pesan tersebut disampaikannya dalam Pengajian Tarjih yang berlangsung pada Rabu (24/06).
Dalam pemaparannya, Ichsan menjelaskan bahwa istilah zona nyaman merujuk pada kondisi kehidupan yang stabil, aman, dan minim risiko. Secara fitrah, manusia memang menyukai kenyamanan karena memberikan rasa tenteram dan sejahtera. Namun, kenyamanan yang berlebihan dapat menjadi jebakan yang membuat seseorang enggan berubah dan malas meningkatkan kualitas dirinya.
“Zona nyaman adalah keadaan ketika seseorang merasa aman dan tidak menghadapi tantangan besar. Masalahnya, kondisi seperti itu sering membuat manusia tidak lagi terdorong untuk berjuang dan berkembang,” ujarnya.
Menurut Ichsan, dalam kajian psikologi populer dikenal tiga zona kehidupan.
- Pertama, comfort zone atau zona nyaman, yaitu kondisi ketika seseorang merasa aman dan stabil.
- Kedua, learning zone atau zona belajar, yakni keadaan ketika seseorang terus terdorong untuk mempelajari hal-hal baru dan mengembangkan potensi dirinya.
- Ketiga, panic zone atau zona panik, yaitu situasi yang membuat seseorang berada dalam tekanan berlebihan sehingga tidak mampu berpikir dan bertindak secara optimal.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak menghendaki umatnya berada dalam zona panik, tetapi juga tidak mendorong mereka berdiam diri dalam zona nyaman. Posisi ideal seorang Muslim adalah berada dalam zona belajar, yakni terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kehidupan serta keimanannya.
Kenyamanan Adalah Kebutuhan, Bukan Tujuan
Ichsan menjelaskan bahwa Islam tidak memusuhi kenyamanan. Sebaliknya, kenyamanan merupakan kebutuhan manusia yang dibolehkan bahkan dianjurkan selama berada dalam koridor yang benar.
Manusia tentu menginginkan tempat tinggal yang nyaman, pekerjaan yang nyaman, kendaraan yang nyaman, bahkan suasana ibadah yang nyaman. Kehadiran fasilitas yang mendukung kekhusyukan, seperti masjid yang bersih dan sejuk, merupakan bentuk kenyamanan yang baik dan dibutuhkan.
Namun demikian, ia mengingatkan agar kenyamanan tidak berubah menjadi tujuan hidup. Ketika kenyamanan dijadikan orientasi utama, seseorang akan cenderung hanya mengejar hal-hal yang menyenangkan dan menghindari segala bentuk perjuangan.
“Yang nyaman belum tentu baik. Kenyamanan seharusnya menjadi sarana untuk menjalani hidup, bukan menjadi tujuan hidup itu sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, banyak orang yang akhirnya terjebak pada pola hidup serba nyaman sehingga kehilangan semangat untuk memperbaiki diri. Padahal, perubahan dan kemajuan justru lahir dari keberanian menghadapi tantangan serta kesediaan untuk terus belajar.
Untuk menjelaskan bahaya zona nyaman, Ichsan menyinggung kisah perusahaan telepon seluler Nokia yang pernah menjadi penguasa pasar dunia.
Pada masa kejayaannya, Nokia menikmati dominasi yang begitu kuat sehingga merasa berada di posisi aman. Namun, ketika perusahaan-perusahaan lain terus berinovasi dan mengembangkan teknologi baru, Nokia terlambat beradaptasi. Akibatnya, perusahaan tersebut kehilangan daya saing dan posisinya digantikan oleh para kompetitor.
Menurut Ichsan, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bahwa kenyamanan yang tidak diimbangi dengan semangat belajar dan berinovasi akan berujung pada kemunduran.
“Zona nyaman diperlukan, tetapi ketika membuat kita lalai dan malas berkembang, maka kenyamanan itu berubah menjadi musibah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa fenomena serupa tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga dapat menimpa organisasi, lembaga, bahkan masyarakat secara luas.
Tawakal Tidak Berarti Pasrah Tanpa Ikhtiar
Menjawab pertanyaan peserta mengenai hubungan antara tawakal, qanaah, dan zona nyaman, Ichsan menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri kepada Allah.
Menurutnya, qanaah berarti menerima rezeki dan ketentuan Allah dengan penuh syukur. Akan tetapi, qanaah tidak boleh dimaknai sebagai sikap pasif yang membuat seseorang berhenti berusaha.
Demikian pula tawakal. Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, melainkan menyerahkan hasil setelah melakukan usaha secara maksimal.
Ichsan menjelaskan bahwa burung dalam hadis tersebut tetap keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dengan kata lain, tawakal selalu didahului oleh ikhtiar.
“Kalau hanya berserah diri tanpa bekerja, itu bukan tawakal yang diajarkan Islam,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Ichsan juga menjelaskan kaitan antara kenyamanan dan istidraj. Ia menerangkan bahwa istidraj adalah keadaan ketika seseorang terus-menerus mendapatkan kenikmatan dari Allah, tetapi kenikmatan tersebut justru digunakan untuk melakukan kemaksiatan.
Karena itu, tidak semua kenyamanan bernilai positif. Ada kenyamanan yang harus ditinggalkan karena bertentangan dengan ajaran agama.
Ia memberi contoh seseorang yang merasa nyaman meninggalkan salat, nyaman menunda ibadah, nyaman berjudi, atau nyaman melakukan kebiasaan buruk lainnya. Meskipun terasa menyenangkan, kenyamanan seperti itu justru menjauhkan seseorang dari ridha Allah.
“Ukuran kenyamanan dalam Islam bukan sekadar enak dirasakan, tetapi harus dilihat apakah sesuai dengan tuntunan agama atau tidak,” katanya.
Belajar Sampai Akhir Hayat
Menanggapi pertanyaan mengenai kewajiban terus belajar agama, Ichsan menegaskan bahwa seorang Muslim harus senantiasa berpindah dari zona nyaman menuju zona belajar.
Ia menilai masih banyak umat Islam yang pengetahuan agamanya tidak berkembang sejak masa kecil. Bacaan Al-Qur’an, hafalan, maupun pemahaman keislamannya tetap sama seperti ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.
Padahal, menurutnya, Islam adalah agama amal dan perjuangan yang menuntut pemeluknya untuk terus berkembang hingga akhir hayat.
“Jangan sampai kita merasa cukup dengan kondisi sekarang. Setiap hari harus ada peningkatan menuju keadaan yang lebih baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masa pensiun bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru ketika seseorang telah mapan dan memiliki banyak waktu luang, ia perlu terus mengembangkan diri, berbagi manfaat, dan menghasilkan karya-karya yang berguna bagi masyarakat.






