Kamis, 17 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Pesan Kiai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Jangan Jadi Gerakan Politik

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Pesan Kiai Ahmad Dahlan; Muhammadiyah Jangan Jadi Gerakan Politik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SAMARINDA – Komitmen Muhammadiyah sebagai gerakan Islam sosial keagamaan, bukan gerakan politik praktis merupakan wasiat dari Kiai Ahmad Dahlan sejak awal mula Muhammadiyah berdiri.

Sebagai ormas yang begitu besar, Muhammadiyah tentu mengalami tarikan untuk menjadi gerakan politik. Tak hanya terjadi pada masa sekarang-sekarang saja, tapi tarikan itu telah ada sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais menjelaskan, bukan sekali atau dua kali Kiai Dahlan dirayu baik dengan cara halus maupun terang-terangan supaya Muhammadiyah beralih jadi gerakan politik.

Dahlan Rais menambahkan, konsistensi Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan ini menjadi bukti kuatnya komitmen Kiai Dahlan atas keinginan supaya organisasi bisa bertahan melintasi zaman-zaman. 

“Entah sudah berapa kali Kiai Dahlan dibujuk untuk menjadi gerakan politik, gerakan waktu itu lebih terkenal dengan gerakan kebangsaan,” kata Ahmad Dahlan Rais pada (15/9) dalam Dies Natalis Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT).

Meskipun demikian, Muhammadiyah tidak menutup peluang politik kadernya yang potensial. Namun jangan menduakan Muhammadiyah dengan gerakan politik, atau memanfaatkan Muhammadiyah sebagai kendaraan menuju politik praktis untuk mencari keuntungan personal.

Bermanfaat bagi Umat dan Bangsa Lewat Jalur Non-Politik Praktis

Meski Muhammadiyah sejak awal sampai sekarang tidak berbelok maupun berganti baju sebagai gerakan politik praktis. Namun peran Muhammadiyah untuk memajukan umat dan bangsa tidak bisa dipandang sebelah mata.

Hal itu dibuktikan Muhammadiyah yang tercatat sebagai organisasi bumiputera pertama yang mampu mendirikan rumah sakit. Meskipun dalam catatan sejarah, gagasan pendirian rumah sakit oleh Kiai Sudja ini sempat ditertawakan.

Meski basis atau pijakan pendirian rumah sakit ini berasal dari nilai-nilai pertolongan yang terinspirasi dari Al Qur’an, namun rumah sakit Muhammadiyah sejak awal didirikan diperuntukan melayani seluruh umat dan bangsa (inklusif).

Bahkan menurut penuturan Dahlan Rais, dokter awal yang menjalankan praktik atau pelayanan di rumah sakit Muhammadiyah adalah dokter-dokter dari Belanda– yang kita tahu saat itu Belanda adalah penjajah di Indonesia.

“Kerja sama kita yang sifatnya kemanusiaan itu memang sudah dirintis sejak dulu,” ungkapnya.

Selain rumah sakit, kata Dahlan, gagasan dari Muhammadiyah yang sudah muncul sejak sebelum kemerdekaan adalah rencana pendirian perguruan tinggi, yang pada masa itu disebut sebagai universited– yang digagas oleh Kiai Hisyam.

Kini Muhammadiyah telah bertahan sampai 114 tahun, dan terus memberikan pelayanan untuk umat dan bangsa dengan caranya sendiri di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi. Tanpa harus berganti baju menjadi gerakan politik praktis.

 

Tinggalkan Balasan