Sabtu, 19 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muhammadiyah Menjaga Tradisi sekaligus Membangun Peradaban Modern

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Muhammadiyah Menjaga Tradisi sekaligus Membangun Peradaban Modern

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Muhammadiyah sejak awal kelahirannya dikenal sebagai organisasi modernis. Namun demikian tetap menjaga kedekatan dengan tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan hukum dan syariat.

Pesan itu yang dapat ditangkap dari sambutan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti pada Kamis (26/3) dalam Silaturahmi Syawal PP Muhammadiyah di kantor Yogyakarta.

Memulai sambutannya, Abdul Mu’ti menjelaskan tentang tradisi Halal bi Halal yang kini umum diselenggarakan muslim Indonesia. Mu’ti menjelaskan, Halal bi Halal telah diadakan Muhammadiyah sejak awal tahun 1920-an.

“Ketika ada yang berdebat soal halal bihalal itu dari mana, saya membaca tahun 1924 itu sudah ada itu ulasan Alal bi Alal di Suara Muhammadiyah….. Baru tahun 1926 itu Halal bi Halal,” ungkapnya.

Terkait dengan penggunaan istilah, meski masih belum tepat secara bahasa, namun jika diletakkan sebagai tradisi – kultur dan fakta sosial, kegiatan syawalan yang dikemas dalam bentuk Halal bi Halal adalah suatu yang sah-sah saja.

“Tapi poin saya adalah Muhammadiyah itu sering sekali melakukan langkah-langkah kultural yang out of the box, yang memberikan solusi atas berbagai macam persoalan dengan cara-cara Muhammadiyah yang kadang-kadang orang Muhammadiyah sendiri tidak menyadari itu,” katanya.

Islam yang dipromosikan oleh Muhammadiyah, imbuhnya, menggunakan konteks sehingga membumikan Islam bisa menggunakan pendekatan-pendekatan yang khas – dan itu acapkali Muhammadiyah banget.

Muhammadiyah memandang, di tengah kemajuan teknologi informasi, pertemuan-pertemuan fisik antar manusia masih penting – meski sudah ada kemudahan pertemuan di ruang digital.

“Karena itu forum pertemuan fisik seperti ini penting di Muhammadiyah, karena kita itu seringkali tidak banyak ketemu,” imbuhnya.

Muhammadiyah Memberi Solusi Konkret

Peradaban modern seringkali membutuhkan kepastian waktu untuk menyusun berbagai agenda. Umat Islam selama lebih dari 14 abad belum memiliki kalender global, dan ini menjadi hutan peradaban umat Islam.

Oleh karena itu, Muhammadiyah pada 2025 membuat terobosan baru dengan kebijakan yaitu menetapkan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) untuk mempermudah dan merespon kemodernan umat Islam dunia.

Abdul Mu’ti menjelaskan, KHGT kini bisa diakses melalui aplikasi MASA untuk memudahkan publik – tidak hanya umat Islam saja, yang ingin mengetahui waktu-waktu penting agama Islam.

Menurutnya, MASA merupakan bagian dari cara Muhammadiyah adaptif dengan perkembangan dunia modern dan era digital sekarang. Di mana dari satu aplikasi ini dapat mengetahui waktu-waktu, berdonasi, akses informasi, sampai hitungan zakat.

“Karena itulah maka Bapak Ibu sekalian, saya mengajak warga persyarikatan Muhammadiyah untuk lebih outspoken, untuk lebih banyak tampil menyampaikan apa yang menjadi pandangan-pandangan kita (Muhammadiyah),” kata Mu’ti.

Tak hanya di sisi instrumen kehidupan, Muhammadiyah dengan pendekatan tajdidnya juga sering memberi solusi atau kemudahan bagi muslim dalam beribadah. Salah satu contohnya adalah jumlah rakaat salat tarawih.

Berbagai kemudahan yang dihadirkan Muhammadiyah ini, katanya, tidak bersumber pada nash yang asal-asalan, melainkan merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah yang makbul atau kuat sebagai dalil untuk sebuah amalan.

Tinggalkan Balasan