Rabu, 16 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Khutbah Jumat: Semua Gunung Milik Allah

Oleh timredaksi 7 Menit Min
Khutbah Jumat: Semua Gunung Milik Allah

 Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نبينا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَتَقْوَى اللَّهِ فَوْزٌ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan tidak hanya tercermin dalam ibadah yang kita kerjakan, tetapi juga dalam cara kita memandang kehidupan, memahami berbagai peristiwa, menggunakan akal, serta mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta.

Dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian. Pada akhir Agustus, Gunung Sinabung mengalami erupsi dan statusnya meningkat menjadi Siaga. Pekan lalu, Gunung Anak Krakatau juga mengalami erupsi menerus sekitar 25 jam sejak 4 hingga 6 September 2026. Abu vulkaniknya bahkan terpantau BMKG menyebar di atmosfer hingga Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Bengkulu.

Peristiwa tersebut dengan cepat menyebar melalui media sosial dan melahirkan beragam spekulasi, termasuk dugaan bahwa aktivitas gunung berapi merupakan hasil rekayasa teknologi manusia.

Di tengah berbagai spekulasi itu, seorang Muslim perlu memandang fenomena alam dengan tauhid yang kokoh sekaligus ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebab satu hal yang pasti yaitu semua gunung adalah milik Allah Swt.

Keadaan ini penting menjadi bahan renungan. Seorang Muslim tidak semestinya menghadapi fenomena alam hanya dengan rasa takut, takjub, atau dugaan-dugaan yang tidak memiliki dasar. Kita membutuhkan tauhid yang kokoh sekaligus ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Di tengah berbagai informasi dan spekulasi tersebut, ada satu keyakinan mendasar yang tidak boleh bergeser: semua gunung adalah milik Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam QS Taha ayat 6:

لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرٰى

“Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.” (QS Taha: 6).

Ayat tersebut menegaskan bahwa tidak ada satu bagian pun dari alam semesta yang berada di luar kekuasaan Allah. Gunung yang menjulang tinggi, bumi yang kita pijak, batuan yang berada jauh di bawah permukaan, serta segala yang belum dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia adalah bagian dari ciptaan dan milik-Nya.

Karena itu, ketika manusia menyaksikan sebuah gunung mengalami erupsi, seorang mukmin tidak semestinya terjebak pada keyakinan mistis ataupun terburu-buru menerima berbagai dugaan yang belum terbukti. Fenomena alam justru seharusnya membawa kita semakin mengenal kebesaran Allah sekaligus semakin terdorong untuk memahami ciptaan-Nya melalui ilmu pengetahuan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Al-Qur’an berkali-kali berbicara tentang gunung. Gunung bukan hanya bagian dari keindahan alam yang dapat dipandang oleh mata, melainkan juga salah satu makhluk Allah yang menjadi tanda kebesaran-Nya.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Hajj ayat 18:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُوْمُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَاۤبُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّاسِۗ وَكَثِيْرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُۗ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ

“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barang siapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.” (QS Al-Hajj: 18).

Sujudnya gunung tentu tidak harus kita bayangkan sebagaimana manusia meletakkan dahi di atas tanah. Ketundukan makhluk-makhluk alam dapat dipahami sebagai kepatuhan kepada hukum dan ketentuan yang telah Allah tetapkan bagi mereka.

Di sinilah kita dapat memahami hubungan antara tauhid dan ilmu pengetahuan. Ketika ahli vulkanologi mengamati kegempaan, pergerakan magma, tekanan gas, deformasi tubuh gunung, atau perubahan lain yang terjadi di bawah permukaan bumi, mereka sedang berusaha membaca proses alam yang berlangsung menurut keteraturan tertentu.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Qamar ayat 49:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al-Qamar: 49).

Alam tidak diciptakan tanpa aturan dan ukuran. Ada keteraturan yang dapat diamati, dipelajari, dan dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan. Karena itulah manusia dapat mempelajari geologi, vulkanologi, meteorologi, seismologi, dan berbagai cabang ilmu lainnya untuk memahami alam serta mengurangi risiko ketika terjadi bencana.

Memahami proses erupsi melalui ilmu vulkanologi tidak berarti mengurangi keyakinan bahwa semuanya berada dalam kekuasaan Allah. Sebaliknya, ilmu membantu manusia memahami sebagian dari cara kerja ciptaan-Nya. Keimanan memberikan jawaban tentang siapa yang menciptakan alam, sedangkan ilmu membantu manusia memahami bagaimana sebagian proses alam berlangsung. Karena itu, mempertentangkan tauhid dengan ilmu pengetahuan merupakan cara pandang yang tidak perlu.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kemajuan zaman ternyata tidak otomatis membuat manusia terbebas dari informasi yang keliru. Dahulu, ketika ilmu pengetahuan belum berkembang, letusan gunung kerap dikaitkan dengan berbagai cerita mistis, kemurkaan makhluk gaib, atau pertanda yang tidak memiliki dasar. Hari ini bentuknya mungkin berbeda. Kita hidup di tengah perkembangan teknologi yang sangat maju, tetapi manusia masih dapat terjebak pada pola yang sama.

Sebuah video berdurasi beberapa detik dapat menyebar kepada jutaan orang, kemudian diberi narasi tertentu dan dianggap sebagai bukti tanpa terlebih dahulu diperiksa asal, konteks, serta kebenarannya.

Maka persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah informasi terdengar modern atau tradisional, melainkan apakah informasi tersebut memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Al-Qur’an sejak dahulu telah memberikan prinsip yang sangat penting dalam menghadapi berita.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujurat: 6).

Ayat ini melahirkan prinsip tabayyun, yaitu tidak terburu-buru mempercayai atau menyebarkan informasi sebelum mengetahui kebenarannya. Prinsip ini menjadi semakin penting ketika informasi yang beredar berhubungan dengan bencana, sebab informasi yang keliru dapat menimbulkan kepanikan bahkan mengganggu upaya penyelamatan masyarakat.

Maka ketika mendengar kabar tentang aktivitas gunung api, seorang Muslim seharusnya memeriksa sumbernya. Ketika melihat sebuah video yang diklaim sebagai bukti mengenai penyebab erupsi, kita tidak perlu tergesa-gesa menerimanya hanya karena video tersebut telah ditonton jutaan orang. Popularitas sebuah informasi tidak otomatis menjadikannya benar.

Dalam perkara yang membutuhkan pengetahuan khusus, Islam juga memberikan tuntunan agar manusia bertanya kepada mereka yang memiliki pengetahuan. Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nahl ayat 43:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ إِلَيْهِمْۖ فَسْـَٔلُوْٓا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS An-Nahl: 43).

Konteks utama ayat ini berbicara tentang para rasul dan orang-orang yang mengetahui kitab-kitab terdahulu. Namun, prinsip yang dapat kita ambil sangat penting: ketika tidak mengetahui suatu perkara, manusia tidak perlu merasa malu untuk bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan.

Dalam urusan aktivitas gunung api, kita memiliki ahli geologi dan vulkanologi, lembaga pemantauan gunung api, serta berbagai instrumen yang memang dibangun untuk memahami fenomena tersebut. Mendengarkan mereka bukanlah bentuk kelemahan iman, melainkan bagian dari ikhtiar menggunakan akal dan ilmu yang dianugerahkan Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Manusia hari ini memang telah mencapai kemajuan teknologi yang luar biasa. Kita dapat memantau permukaan bumi melalui satelit, merekam gempa yang sangat kecil, mengamati perubahan bentuk tubuh gunung, serta mengetahui pergerakan abu vulkanik melalui pengamatan atmosfer. Kemampuan tersebut harus kita syukuri karena dapat membantu menyelamatkan banyak kehidupan. Namun, kemajuan teknologi tidak berarti manusia telah menjadi penguasa mutlak alam.

Teknologi memiliki kemampuan sekaligus keterbatasan. Melalui teknologi, manusia dapat memantau aktivitas gunung, memperkirakan ancaman, menetapkan zona rawan, dan memperingatkan masyarakat untuk mengungsi. Akan tetapi, manusia tetap tidak mengetahui segala sesuatu dan tidak menguasai seluruh proses yang terjadi di dalam bumi. Kesadaran terhadap keterbatasan itu semestinya melahirkan kerendahan hati.

Ilmu pengetahuan tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kesombongan, sedangkan semangat beragama tanpa ilmu dapat membuat seseorang mudah menerima setiap dugaan yang dibungkus dengan bahasa agama. Islam tidak menghendaki keduanya. Islam mengajarkan umatnya untuk beriman sekaligus berpikir, menggunakan ilmu sekaligus menyadari batas kemampuan manusia.

Allah Swt. menggambarkan kekokohan gunung sekaligus ketundukannya melalui QS Al-Hasyr ayat 21:

لَوْ أَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS Al-Hasyr: 21).

Gunung yang begitu besar dan kokoh dijadikan Allah sebagai perumpamaan tentang ketundukan. Maka manusia yang tubuhnya jauh lebih kecil, usianya jauh lebih pendek, dan pengetahuannya jauh lebih terbatas semestinya lebih mampu merendahkan diri di hadapan Allah. Ketika melihat gunung, jangan hanya kagum kepada keindahannya. Ketika melihat erupsi, jangan hanya terpukau oleh kedahsyatannya. Jadikan keduanya sebagai pengingat bahwa sebesar apa pun sesuatu yang kita saksikan di bumi, ia tetaplah makhluk Allah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Gunung sering menjadi simbol kekokohan. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa gunung yang begitu besar sekalipun tidaklah kekal. Sebagai firman Allah Swt dalam QS Al-Waqi’ah ayat 5–6:

وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ ۝٥ فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ ۝٦

“Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS Al-Waqi’ah: 5–6).

Allah juga berfirman dalam QS Taha ayat 105–106:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًاۙ ۝١٠٥ فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًاۙ ۝١٠٦

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ‘Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali.” (QS Taha: 105–106).

Ayat tersebut berbicara tentang keadaan gunung pada hari Kiamat, bukan penjelasan tentang erupsi gunung api yang terjadi sekarang. Hal ini penting dibedakan agar kita tidak mencampuradukkan penjelasan keagamaan tentang hari akhir dengan penjelasan ilmiah mengenai proses vulkanik.

Namun, dari ayat tersebut kita memperoleh pelajaran bahwa sesuatu yang bagi manusia terlihat sangat kokoh pun memiliki batas. Jika gunung saja tidak kekal, kekuatan, kekayaan, jabatan, ilmu, dan teknologi yang dibanggakan manusia tentu jauh lebih terbatas lagi.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Keyakinan bahwa semua gunung adalah milik Allah tidak boleh berhenti menjadi ucapan. Tauhid harus melahirkan cara hidup yang benar. Ketika sebuah gunung menunjukkan peningkatan aktivitas, kita tidak diperintahkan untuk mengabaikan peringatan dengan alasan semuanya telah menjadi takdir.

Jika para ahli menetapkan suatu kawasan sebagai zona berbahaya, kita harus menjauhinya. Jika ada perintah evakuasi, keselamatan harus didahulukan. Jika menerima sebuah informasi, kita wajib memeriksa kebenarannya sebelum menyebarkannya kepada orang lain.

Tawakal tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Justru setelah manusia menggunakan ilmu, melakukan mitigasi, menjaga keselamatan, dan mengerahkan kemampuan terbaiknya, ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Swt.

Maka berbagai aktivitas gunung api yang kita saksikan akhir-akhir ini seharusnya mengajarkan setidaknya tiga hal. Pertama, jangan mempertuhankan alam karena gunung hanyalah makhluk dan milik Allah.

Kedua, jangan mempertuhankan kemampuan manusia karena ilmu dan teknologi tetap memiliki batas. Ketiga, jangan meninggalkan ilmu pengetahuan, sebab iman yang benar justru mendorong manusia untuk mempelajari ciptaan Allah dengan sungguh-sungguh.

Dengan demikian, tauhid membebaskan kita dari takhayul dan kesombongan, sementara ilmu membantu kita keluar dari ketidaktahuan. Keduanya semestinya melahirkan manusia yang beriman, berpikir jernih, tidak mudah mempercayai kabar yang belum terbukti, serta senantiasa berikhtiar menjaga keselamatan dirinya dan sesama.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَبَلَاءٍ، وَارْزُقْ أَهْلَهَا الْأَمْنَ وَالسَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Penulis: Taufik Hidayat

Tinggalkan Balasan