MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, mengajak mahasiswa untuk meninjau ulang cara mereka memaknai waktu, kesantaian, dan aktivitas sehari-hari.
Pesan itu disampaikan dalam pengajian di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (18/12), dengan tema besar “santai yang berarti: menghidupkan nilai-nilai Islam dalam keseharian”.
Di hadapan jamaah mahasiswa, Talqis membuka kajian dengan pertanyaan sederhana: benarkah mahasiswa identik dengan hidup santai. Ia mengakui, masa kuliah memang sering dirasakan penuh kelonggaran, namun di situlah letak persoalan.
Kesantaian, menurutnya, tidak selalu identik dengan kebermaknaan. Santai yang tidak disertai tujuan dan perencanaan justru berpotensi melalaikan, membunuh produktivitas, dan menghabiskan waktu tanpa hasil.
Ia menekankan pentingnya membedakan santai yang berisi dan santai yang kosong. Santai yang berisi adalah jeda setelah aktivitas yang tersusun rapi, sistematis, dan bernilai. Sebaliknya, santai yang kosong hanya melahirkan penundaan, kemalasan, dan kebiasaan menunda belajar karena merasa masih memiliki banyak waktu.
Talqis mengajak mahasiswa untuk berani menginventarisasi aktivitas harian secara detail, sejak bangun tidur hingga kembali tidur. Setiap kegiatan, sekecil apa pun, adalah aktivitas yang berbeda dan layak dihitung.
Dari proses itu, seseorang akan sadar apakah hidupnya benar-benar produktif atau justru berputar di ruang yang sama, antara kamar tidur dan kamar mandi. Tanpa pencatatan dan perencanaan, evaluasi diri menjadi mustahil dilakukan.
Menurutnya, perencanaan bukanlah sikap kaku, melainkan ikhtiar agar hidup lebih terarah. Mengetahui agenda sejak bangun tidur, menentukan waktu ibadah, belajar, istirahat, hingga bersantai akan membuat seseorang mampu menikmati santai secara bermakna. Bahkan istirahat singkat di masjid, di sela magrib dan isya, disertai zikir, bisa menjadi santai yang bernilai ibadah.
Relasi dengan Sosial Media
Dalam kajian itu, Talqis juga menyoroti relasi mahasiswa dengan gawai dan media sosial. Ia menyebut interaksi berlebihan dengan ponsel kerap hanya menjadi bentuk pengalihan dari kejenuhan, bukan kebutuhan yang hakiki. Pengalihan semestinya bersifat sementara. Ketika berubah menjadi kebutuhan yang menimbulkan candu, di situlah masalah bermula.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak sampai merasa gelisah karena belum membuka ponsel, namun merasa tenang meski belum membaca Al-Qur’an.
Data penggunaan media sosial turut disinggung. Berdasarkan laporan Indonesia Gen Report, sebagian besar generasi muda menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di depan layar. Talqis tidak menolak media sosial, namun mengajak mahasiswa menjadikannya sarana dakwah dan kemanfaatan.
Konten sederhana, kutipan ayat Al-Qur’an atau hadis beserta terjemahannya, bisa menjadi sebab orang lain tercerahkan dan bernilai amal jariyah.
Ia juga mengingatkan agar waktu libur tidak dihabiskan dengan rebahan tanpa hasil. Santai yang berarti adalah ketika waktu luang melahirkan karya, ide, atau manfaat, sekecil apa pun. Tanpa itu, kesantaian hanya akan menumpuk penyesalan, yang baru terasa ketika mahasiswa tersadar sudah berada di semester akhir tanpa pencapaian yang jelas.
Dalam aspek ibadah, Talqis menegaskan pentingnya mengawali hari dengan salat, khususnya salat subuh. Di tengah kondisi negeri yang aman dan bebas menjalankan ibadah, meninggalkan salat justru menjadi bentuk kelalaian yang tidak beralasan. Ia mengkritik kontras antara rasa malas dalam salat yang singkat, dengan ketekunan berselancar di media sosial tanpa batas.
Ia juga mengulas peran niat dalam setiap aktivitas, termasuk kuliah dan organisasi. Pergi ke kampus tidak otomatis bernilai ibadah tanpa niat yang benar. Mengutip hadis Nabi tentang keutamaan menuntut ilmu, Talqis menegaskan bahwa belajar akan menjadi jalan menuju kebaikan bila diawali doa dan kesadaran untuk mengamalkan ilmu tersebut.
Pengalaman pribadinya dalam organisasi menjadi ilustrasi. Aktif berorganisasi boleh, bahkan dianjurkan, selama orientasinya adalah kontribusi dan kemajuan, bukan sekadar mencari pengalaman. Organisasi yang hanya diisi ego sektoral, konflik, dan kesibukan semu, menurutnya, tidak membawa keberkahan. Ia mengingatkan agar aktivitas organisasi tidak mengorbankan tujuan utama sebagai mahasiswa, yakni studi akademik.
Talqis kemudian menguraikan empat kategori perbuatan yang tidak bermanfaat menurut ajaran Islam: yang haram, yang makruh, yang syubhat, dan yang berlebihan. Bahkan sesuatu yang mubah sekalipun dapat kehilangan nilai ketika dilakukan secara berlebihan. Prinsip ini, kata dia, berlaku dalam makan, minum, hiburan, hingga penggunaan waktu.
Dalam bagian akhir, Talqis mengajak jamaah merenungi hadis tentang pertanggungjawaban manusia di akhirat: tentang umur, ilmu, harta, dan tubuh. Semua akan ditanya, digunakan untuk apa dan dihabiskan di mana. Kesadaran ini seharusnya mendorong mahasiswa untuk menjadikan setiap aktivitas lebih bermakna, termasuk dalam memilih pertemanan. Ia mengingatkan bahaya pertemanan toksik yang manipulatif, egois, dan merendahkan orang lain.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk selalu bermuhasabah, menjaga hati orang lain, dan tidak kehilangan harapan. Bagi seorang muslim, menurut Talqis, tidak ada jalan buntu. Setiap masalah memiliki solusi. Ia menegaskan pentingnya tetap dekat dengan Al-Qur’an, dengan membacanya, menghafalnya, dan mengamalkannya, seraya mengutip makna QS Al-Baqarah ayat 186 tentang kedekatan Allah dengan hamba-Nya yang berdoa.
Pesan utamanya sederhana namun mendalam: mahasiswa boleh santai, tetapi santai yang berisi, terencana, dan bermakna. Dengan begitu, waktu tidak sekadar berlalu, melainkan benar-benar menjadi jalan menuju kebermanfaatan dan keberkahan hidup.






