MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Indonesia bercita-cita kembali menjadi sebuah negara yang mandiri dalam urusan pangan, bahkan jika memungkinkan Indonesia kembali menjadi negara swasembada beras.
Oleh karena itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas pada Ahad (16/7) dalam Hari Bermuhammadiyah yang diselenggarakan oleh RSIJ Cempaka Putih, Jakarta meminta supaya memperhatikan tata ruang.
Sebab menurutnya saat ini banyak kawasan zona hijau yang seharusnya sebagai lahan pertanian, tapi karena pesatnya pembangunan – kawasan hijau digusur dan diubah menjadi daerah zona kuning.
Lebih-lebih di kawasan perkotaan, kawasan yang awalnya zona hijau kini banyak yang sudah beralih menjadi zona kuning. Masyarakat tak kuasa menghadapi perubahan dan percepatan pembangunan.
Padahal menurutnya jika Indonesia ingin menjadi negara berswasembada beras harus lebih perhatian terhadap masalah ini. Jangan sampai alih fungsi lahan mengancam pangan bangsa Indonesia, yang kemudian melahirkan kebijakan impor.
“Kita sebagai bangsa ingin negeri ini swasembada beras, kita tidak ingin negara kita ini tergantung kepada negara luar dalam hal yang berhubungan dengan pangan,” katanya.
Menyoroti kawasan pinggiran Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Anwar Abbas menyebut, banyak lahan yang awalnya untuk pertanian berubah jadi pemukiman karena seiring bertambahnya jumlah penduduk namun lahan mukim terbatas.
Oleh karena itu, dia meminta supaya pemerintah bisa merespon polemik ini dengan cepat dan serius, sehingga tidak melahirkan paradoks-paradoks baru yang berkaitan dengan pembangunan di Indonesia.
Selain karena pertambahan jumlah penduduk, beralihnya kawasan pertanian menjadi pemukiman dan kawasan industri juga disebabkan perilaku culas para pemodal besar yang tidak memperhatikan keadilan dalam pembangunan.
Melihat kasus ini menurutnya Indonesia membutuhkan pemimpin yang negarawan, bukan pemimpin yang politisi – yaitu mereka yang membuat kebijakan hanya menguntungkan kelompoknya, tapi mengabaikan kepentingan rakyat banyak.






