MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta Yayan Suryana mengingatkan umat Islam agar mewaspadai sikap merasa diri paling benar dan memaksakan kehendak kepada orang lain. Menurutnya, sikap tersebut dapat berkembang menjadi karakter tughyan atau melampaui batas yang merusak kehidupan sosial.
Pesan tersebut disampaikan Yayan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (18/09). Ia menjelaskan, ketakwaan tidak berhenti pada upaya menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Dalam perspektif psikologis, ketakwaan juga berkaitan dengan kesadaran bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt.
“Menurut para psikolog, pemaknaan takwa lebih pada bagaimana kita merasa diri selalu bersama dengan Allah, selalu merasa dikontrol oleh Allah. Itulah sejatinya orang bertakwa,” ujarnya.
Dalam konteks kehidupan sosial, Yayan menyebut terdapat ancaman yang kerap tidak disadari, yakni mentalitas merasa diri paling benar dan memaksakan kehendak. Sikap tersebut, katanya, tidak berhenti pada persoalan pribadi, tetapi dapat berdampak terhadap hubungan antarmanusia.
“Ancaman itu adalah satu mental yang kita miliki yang selalu merasa diri paling benar dan sering memaksakan kehendak pada orang lain,” tuturnya.
Yayan menjelaskan, perasaan berlebihan terhadap diri sendiri dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan orang lain. Wujudnya bisa bermacam-macam, seperti merasa paling pintar, paling berpengalaman, paling senior, paling berjasa, paling berkuasa, hingga merasa paling mengetahui agama.
Ketika seseorang menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling benar, menurut Yayan, ego dapat mengambil alih posisi yang semestinya menjadi wilayah ketuhanan. Padahal, manusia pada hakikatnya memiliki keterbatasan di hadapan Allah Swt.
“Orang yang merasa lebih daripada orang lain lalu tidak membutuhkan orang lain, pada saatnya nanti akan menimbulkan sikap-sikap eksploitatif yang merusak kehidupan sesama,” katanya.
Yayan kemudian mengaitkan karakter tersebut dengan kisah Firaun dalam Al-Qur’an. Ia mengutip Surah Al-Qasas ayat 4 yang menggambarkan Firaun sebagai sosok yang berlaku sewenang-wenang di muka bumi, memecah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok, serta mengeksploitasi sebagian dari mereka.
Menurutnya, perilaku Firaun tersebut berawal dari kesombongan dan perasaan memiliki kekuasaan yang melampaui batas. Bahkan, Firaun sampai mengklaim dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi.
“Ini berawal dari sikap angkuh Firaun yang merasa bahwa dia lebih hebat dari yang lain. Kekuatannya melampaui batas sehingga dia sampai kepada puncak tughyan-nya,” jelas Yayan.
Yayan mengingatkan bahwa karakter seperti Firaun dapat muncul dalam bentuk yang lebih sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, seseorang tidak perlu menjadi penguasa seperti Firaun untuk memiliki karakter serupa. Sikap merasa paling benar dapat muncul dalam berbagai relasi sosial, termasuk hubungan antara orang tua dan anak, suami dan istri, pemimpin dan anggota, hingga ulama dan masyarakat awam.
Ia mencontohkan kecenderungan seseorang yang dianggap pintar atau berilmu untuk selalu dianggap benar sehingga ruang diskusi dan kritik menjadi tertutup.
“Orang berdebat bukan persoalan menang debatnya. Sesungguhnya yang diperjuangkan adalah tentang kebenarannya. Bisa saja dia menang debatnya, tetapi dia memenangkan perdebatan di dalam keburukan,” ungkapnya.
Karena itu, Yayan menekankan pentingnya memperkuat tauhid sebagai landasan kehidupan sosial. Kalimat lā ilāha illallāh, menurutnya, memiliki konsekuensi sosial karena membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, termasuk kekuasaan, harga diri, maupun ego pribadi.
Tauhid juga mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang dapat memutlakkan dirinya sebagai satu-satunya pemilik kebenaran. Pengetahuan manusia memiliki keterbatasan sehingga sikap terbuka terhadap orang lain menjadi bagian penting dari penghayatan tauhid.
“Orang yang bertauhid tidak akan pernah memutlakkan dirinya sebagai satu-satunya kebenaran. Tauhid akan memastikan kita bebas dari penghambaan terhadap manusia, penghambaan terhadap orang lain, juga penghambaan terhadap diri kita sendiri,” tegasnya.
Dalam hubungan sosial, Yayan mengatakan umat tetap diperintahkan untuk menghormati pemimpin, ulama, orang yang lebih senior, maupun orang tua. Namun, penghormatan tersebut tidak boleh menggeser kedudukan Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
Ia juga mengingatkan prinsip musyawarah sebagai bagian dari kehidupan bersama. Ia mengutip firman Allah, wa amruhum syūrā bainahum, bahwa urusan umat diselesaikan melalui musyawarah, bukan dengan penggunaan kekuasaan yang merusak hak orang lain.
Pada khutbah kedua, Yayan mengajak jamaah melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Ia mengaitkan karakter orang bertakwa dengan kemampuan untuk melakukan evaluasi dan menerima masukan.
Ia mengajak jamaah bertanya kepada diri masing-masing apakah masih sulit mendengarkan pendapat orang lain, sulit menerima kritik, atau mudah menghakimi orang lain secara sepihak.
“Jangan-jangan kita sekarang punya kewibawaan, tetapi kewibawaan itu sudah berubah menjadi ketakutan karena sifat yang kita miliki ini,” ujarnya.
Menurut Yayan, kondisi tersebut bertentangan dengan semangat Islam yang mengayomi dan menenteramkan. Karena itu, tauhid perlu diwujudkan sebagai karakter yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari, bukan berhenti pada ucapan dan klaim keagamaan.
“Tauhid itu sekali lagi mari kita hadirkan sebagai suatu karakter yang membentuk sikap yang muncul di dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak cukup dengan kita ucapkan, kita klaim, tapi kita hadirkan melalui sikap yang jauh dari tughyan tadi itu,” katanya.
Ia berharap penghayatan iman dan tauhid dapat melahirkan pribadi yang memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi lingkungan sekitarnya. Dengan begitu, nilai-nilai Islam dapat dirasakan dalam kehidupan pribadi sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa.
“Mohon kita perlindungan kepada Allah Subhanahu wa taala agar kita memiliki karakter yang positif yang akan memberikan ketenangan dan ketenteraman dari Islam yang kita anut ini, dari diri kita dan untuk masyarakat kita, untuk bangsa kita ini,” pungkasnya.






