Sabtu, 19 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kiai Saad Ibrahim: Rawat Iman dengan Merenungkan Ayat-Ayat Allah

Oleh timredaksi 3 Menit Min
Kiai Saad Ibrahim: Rawat Iman dengan Merenungkan Ayat-Ayat Allah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Kiai Saad Ibrahim mengajak umat Islam untuk terus merawat dan meningkatkan keimanan. Menurutnya, iman perlu dikelola agar tetap terjaga dan terus bertambah melalui berbagai ikhtiar, salah satunya dengan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta dan dalam diri manusia.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Saad dalam program TVMu pada Jumat (19/9). Ia menjelaskan bahwa dalam kajian ilmu kalam terdapat pandangan mengenai kondisi iman. Sebagian pandangan menyebut iman dapat tetap, tetapi dapat pula hilang. Sementara pandangan lain menyatakan iman dapat bertambah dan berkurang (yazīdu wa yaqūṣ).

“Ya, maka mengelola iman itu menjadi bagian penting. Setidak-tidaknya supaya tetap, tapi kalau kemudian bisa bertambah, itu lebih baik,” ujarnya.

Salah satu cara untuk meningkatkan iman, menurut Kiai Saad, adalah mencermati ayat-ayat Allah. Ayat tersebut tidak hanya berupa ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an, tetapi juga tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam semesta dan terdapat dalam diri manusia.

Ia mengutip Surah Fussilat ayat 53 tentang Allah yang akan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di segenap penjuru dan pada diri manusia hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an adalah benar.

“Perhatikan, cermati ayat-ayat Allah. Baik ayat-ayat itu yang terbentang di alam semesta ini atau bahkan yang ada pada diri kita, pada tubuh kita,” jelasnya.

Kiai Saad menyebut ayat-ayat yang terbentang di alam semesta sebagai ayat kauniah, sedangkan Al-Qur’an merupakan ayat yang juga menunjukkan kebesaran Allah. Karena itu, umat Islam didorong untuk mempelajari, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari keduanya.

Menurutnya, perenungan terhadap alam semesta dapat membawa manusia pada kesadaran tentang kebesaran Allah. Ia mencontohkan kajian astrofisika yang menggambarkan betapa luas dan teraturnya alam semesta.

Ia menyebut teori big bang yang menjelaskan awal perkembangan alam semesta sekitar 13,8 miliar tahun lalu. Dari proses tersebut, alam semesta berkembang dan membentuk galaksi serta berbagai sistem tata surya. Bumi yang dihuni manusia, kata Kiai Saad, hanyalah bagian yang sangat kecil dari keluasan alam semesta.

Keteraturan tersebut semestinya mendorong manusia untuk menyadari kebesaran Allah. Menurut Kiai Saad, para ahli astrofisika menemukan bahwa alam semesta memiliki ukuran dan keteraturan yang dapat dikaji secara ilmiah.

“Artinya tidak ada yang diciptakan dalam konteks sembarangan, terukur,” katanya.

Namun, ia mengingatkan agar manusia tidak berhenti pada fenomena alam yang diamati. Ayat-ayat Allah harus mengantarkan manusia kepada kesadaran tentang Zat yang berada di balik seluruh kebesaran tersebut.

“Kita tidak boleh berhenti pada ayat. Kita harus sampai pada di balik ayat itu, yaitu kebesaran Allah,” tegasnya.

Kiai Saad kemudian menyinggung Stephen William Hawking sebagai contoh bahwa penguasaan terhadap ilmu astrofisika tidak otomatis membawa seseorang kepada kesimpulan tentang keberadaan Tuhan. Ia menyebut Hawking yang lahir pada 1942 dan meninggal pada 2018 sebagai ilmuwan yang dalam pandangannya tentang alam semesta tidak sampai pada kesimpulan teistik.

Karena itu, menurut Kiai Saad, membaca alam semesta perlu dilengkapi dengan membaca ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an. Perpaduan keduanya diharapkan dapat menguatkan iman.

“Bacalah ayat-ayat Allah di alam semesta ini. Lalu sempurnakan bacaan kita itu membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di dalam kitab sucinya, di dalam Al-Qur’an,” tuturnya.

Selain merenungkan ayat-ayat Allah, Kiai Saad mengingatkan pentingnya menyandarkan kehidupan kepada Allah. Ia mengutip hadis, idzā sa’alta fas’alillāh wa idzā ista‘anta fasta‘in billāh, yang mengajarkan agar manusia meminta kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Menurutnya, permohonan kepada Allah tidak harus selalu berkaitan dengan perkara besar. Hal-hal kecil dalam kehidupan pun layak dimintakan kepada Allah. Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk penguatan hubungan manusia dengan Allah.

“Yang kecil-kecil pun juga mintalah kepada Allah,” katanya.

Kiai Saad juga mengingatkan bahwa iman merupakan nikmat yang diberikan Allah. Karena itu, umat Islam perlu menyadari dan mensyukuri nikmat iman dan Islam yang dimiliki. Kesadaran tersebut dapat terus dipupuk dengan memperbanyak ungkapan syukur dan melakukan berbagai kebaikan karena Allah.

Ia menegaskan bahwa amal kebaikan dapat menambah iman, sedangkan kemaksiatan dapat menggerogotinya. Namun, manusia tetap memiliki kelemahan dan tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari kesalahan.

“Semua kebaikan yang itu kita lakukan sepenuh-penuhnya karena Allah akan menambah iman kita. Sebaliknya kemudian maksiat yang kita lakukan akan menggerogoti iman kita,” jelasnya.

Dalam kondisi manusia yang tidak luput dari kesalahan, Kiai Saad mengajak umat memperbanyak istigfar. Ia mengutip hadis qudsi riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa manusia berbuat kesalahan pada malam dan siang hari, sementara Allah mengampuni dosa-dosa hamba yang memohon ampun kepada-Nya.

Karena itu, istigfar menurutnya perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “Ya, istigfar semoga menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Astaghfirullah, astaghfirullah. Astaghfirullah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan