MUHAMMADIYAH.OR.ID, UK – Duta Besar Inggris untuk Indonesa dan Timor-Leste, Dominic Jermey CVO, OBE mengapresiasi peran besar Muhammadiyah dalam menggerakkan upaya internasionalisasi gerakannya.
Dari pengalamannya selama tinggal dan bekerja di Indonesia, Dominic mengungkap kekagumannya dalam mengamati pertumbuhan hubungan-hubungan antar komunitas di Indonesia.
Salah satunya adalah Muhammadiyah yang bahkan turut melebarkan kiprahnya di wilayah Britania Raya (UK) dan Irlandia yang mana Muhammadiyah melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya (UK) dan Irlandia menjadi organisasi Indonesia pertama yang tergabung kedalam keanggotaan Muslim Council of Britain (MCB), sebuah jaringan yang menaungi lebih dari 500 masjid, lembaga pendidikan, organisasi amal, dan organisasi profesi dari seluruh Inggris.
“Ini merupakan tonggak sejarah penting bukan hanya bagi Muhammadiyah dan diaspora Indonesia, tetapi juga bagi hubungan yang terus berkembang antara komunitas Muslim di Indonesia dan Inggris,” jelas Dominic sebagaimana rilis yang dikirim Sabtu, (3/10).
Kemudian, yang paling menarik baginya adalah perkembangan kehidupan masyarakat muslim di Inggris. Menurut Sensus 2021, Dominic mengungkap sekitar 4,1 juta penduduk Inggris mengidentifikasi diri sebagai Muslim, menjadikan Islam sebagai agama terbesar setelah Kristen di negaranya (Inggris).
Ditambah lagi, hal positif yang ia lihat adalah organisasi-organisasi Muslim turut berpartisipasi mengelola sekolah, membantu keluarga yang membutuhkan, menyediakan layanan kesejahteraan sosial, dan memberikan kontribusi bagi komunitas lokal di berbagai wilayah di Inggris. Secara keseluruhan, ia melihat kontribusi tersebut menunjukkan peran aktif komunitas Muslim dalam kehidupan masyarakat di Inggris saat ini.
“Kontribusi tersebut dapat dilihat di berbagai bidang kehidupan. Banyak masyarakat Indonesia mengenal Sadiq Khan, Walikota London. Ia memimpin salah satu kota paling beragam di dunia, yang sekaligus merupakan kota dengan keberagaman agama tertinggi di Inggris dan menjadi rumah bagi sekitar 1,3 juta Muslim,” jelasnya.
Tak hanya itu, ia turut menyoroti apa yang terjadi di dunia olahraga di Inggris terutama dari sisi sepakbola Inggris. Satu nama yang disebutnya yaitu Mohammed Salah yang merupakan satu nama pesepakbola dunia yang prestasinya dikagumi dalam sejarah Liga Primer Inggris.
“Ia mendapat apresiasi luas dari para pendukung sepak bola di seluruh Inggris, termasuk saya. Jutaan orang mengaguminya terutama karena kemampuan sepak bolanya yang luar biasa, sekaligus menghargai bahwa keimanan dan identitasnya merupakan bagian penting dari jati dirinya,” ujar penggemar Chelsea tersebut mengamati kiprah Mohammad Salah pasca kepindahannya dari Chelsea ke Liverpool.
Kontribusi Masyarakat Muslim yang Kian Masif di Inggris
Namun, nama-nama yang telah dikenal luas tersebut hanyalah sebagian kecil dari gambaran yang lebih besar. Di seluruh Inggris, ia menjelaskan bahwa organisasi amal Muslim, lembaga pendidikan, asosiasi profesi, dan organisasi kemasyarakatan berkontribusi dalam kehidupan publik serta melayani masyarakat setiap hari.
Bahkan ia turut mengungkap bahwa masyarakat sering kali saling bekerja sama bahu-membahu dalam membangun walaupun terdapat perbedaan latar belakang agama maupun budaya.
“Warga Muslim, Kristen, Hindu, Sikh, Yahudi, Buddha, dan komunitas lainnya secara rutin berkolaborasi melalui program kepemudaan maupun kegiatan sosial untuk membantu sesama dan kelompok rentan. Dalam banyak kesempatan, kemitraan praktis semacam ini membangun saling pengertian secara lebih efektif dibandingkan dialog formal semata,” ucapnya.
Salah satu contoh konkret kerjasama antar masyarakat bisa dilihat dari Inter Faith Week (Pekan Kerukunan Antar Iman) yang akan digelar di tahun ini tepatnya pada 8-15 November 2026.
Ia memaparkan, kegiatan ini mempertemukan berbagai organisasi dari seluruh Inggris untuk memperkuat kerja sama dan merayakan kontribusi dari beragam komunitas-komunitas keagamaan. Upaya-upaya tersebut mencerminkan nilai saling menghormati dan Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (Freedom of Religion or Belief/FoRB), yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Inggris modern.
Ia mengaku, hal tersebut telah lama ia saksikan selama tinggal di Indonesia yang mana ia mengaku sangat menghargai makna dari Bhinneka Tunggal Ika.
“Seiring Inggris terus tumbuh dalam keberagaman, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengalaman satu sama lain dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman budaya, identitas, dan keyakinan,” ujarnya.
Komitmen Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah keragaman menurutnya begitu luar biasa dan dapat dijadikan pelajaran berharga bagi banyak negara di dunia, khususnya Inggris.
Kehadiran Muhammadiyah di Inggris menurutnya turut menyumbangkan kontribusi signifikan dalam berbagai diskusi mengenai pendidikan, pelayanan masyarakat, dan partisipasi warga. Pada saat yang sama, para diaspora turut membantu mendorong pertukaran gagasan dan pengalaman antara Indonesia dan Inggris sehingga kedua negara dapat terus saling belajar satu sama lain.
“Hubungan tersebut terlihat sangat jelas dalam bidang pendidikan dan pelayanan masyarakat. Pertemuan Prof. Syafiq Mughni beberapa waktu lalu dengan institusi seperti Oxford Centre for Islamic Studies dan East London Mosque menunjukan adanya perhatian bersama dalam pengembangan keilmuan, pemberdayaan masyarakat, dan kesejahteraan sosial,” tuturnya.
Nama seperti Abdul Mu’ti yang merupakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik (Mendikdasmen( RI) turut disenut. Hal ini karena, Mu’ti merupakan penerima Chevening Fellowship yang didukung pemerintah Inggris di Universitas Birmingham pada tahun 2004.
“Program-program pendidikan dan pertukaran semacam ini membantu melahirkan para pemimpin masa depan, memperkuat jejaring profesional, dan memperdalam pemahaman antar masyarakat. Yang tak kalah penting, pertukaran tersebut membuka ruang bagi kedua negara untuk saling belajar dari pengalaman satu sama lain,” papar Dominic.
Pembinaan Kader Muda Muslim Harus Terus Diperkuat
Menutup pernyataannya, Dominic memberikan satu pertanyaan reflektif “Bagaimana kita mempersiapkan generasi masa depan? bagaimana kita memperkuat komunitas kita? dan bagaimana kita mendukung generasi muda di tengah kondisi dunia yang semakin berubah cepat. Serta bagaimana para generasi terkini menciptakan ruang bagaimana orang-orang dari latar belakang dan keyakinan yang berbeda dapat hidup berdampingan dan saling menghormati?”
Terakhir, ia menghimbau agar hubungan dan jaringan erat antara Muhammadiyah dan MCB perlu terus mencerminkan kemitraan yang lebih dari sekadar hubungan antar organisasi. Maka hal penting didorongnya adalah tentang bagaimana hubungan internasional yang kuat tidak dibangun hanya sebatas antar institusi, melainkan juga masyarakat (orang-orangnya) yang bersedia membuka diri, saling belajar, dan saling memahami satu sama lain.
“Di masa dimana informasi bergerak begitu cepatnya, namun pemahaman antar satu sama lain tidak selalu bisa mengikuti, maka kesempatan untuk berdialog, bertukar pengalaman, dan menjalin hubungan yang tulus akan selalu sangat berharga,” pungkasnya. (Bhisma)






