Kamis, 17 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Nabi Muhammad Saw: Manusia Paling Berpengaruh dalam Sejarah

Oleh ilham 6 Menit Min
Nabi Muhammad Saw: Manusia Paling Berpengaruh dalam Sejarah

Ketika fajar menyingsing di sebuah pesantren di Jombang, seorang santri membuka kitab kuning dan mempelajari bagaimana Nabi Muhammad Saw berwudu dan salat. Pada pagi yang hampir bersamaan, seorang Muslim di Marrakesh memakai wangi-wangian sebelum berangkat bekerja. Di sebuah kampus di Yogyakarta, seorang mahasiswa mengawali presentasinya dengan salam. Sementara itu, di kota lain yang mungkin berjarak ribuan kilometer, seorang anak sedang belajar makan dengan tangan kanan dari ibunya.

Orang-orang itu tidak saling mengenal. Mereka hidup dalam bahasa, bangsa, dan kebudayaan yang berbeda. Sebagian tinggal di kota-kota besar, sebagian di desa-desa kecil. Ada yang lahir di tengah keluarga Muslim selama beberapa generasi, ada pula yang baru mengenal Islam ketika telah dewasa. Namun, dalam banyak hal kecil kehidupan mereka, terdapat satu titik pertemuan. Mereka sama-sama berusaha mengikuti seorang manusia yang hidup lebih dari empat belas abad yang lalu di Jazirah Arab.

Manusia itu adalah Muhammad bin Abdullah. Bagi seorang Muslim, usaha mengikuti Nabi bahkan dapat menjangkau hal-hal yang sangat rinci. Bukan hanya bagaimana melaksanakan ibadah, tetapi juga bagaimana makan, tidur, berpakaian, berbicara, memperlakukan keluarga, mengunjungi orang sakit, menghadapi tamu, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Tidak banyak tokoh dalam sejarah manusia yang kehidupannya diperhatikan sedetail itu oleh para pengikutnya, apalagi setelah berabad-abad sejak ia meninggal dunia.

Coba kita melihat tokoh-tokoh besar lain dalam sejarah. Alexander Agung dikenal sebagai salah satu penakluk terbesar dunia kuno. Julius Caesar menjadi nama penting dalam sejarah Romawi. Genghis Khan membangun kekuasaan yang membentang sangat luas. Para firaun Mesir, kaisar Tiongkok, dan raja-raja besar lainnya pernah menguasai jutaan manusia. Mereka memiliki tentara, kekayaan, istana, dan kekuasaan yang pada zamannya tampak hampir tanpa batas.

Namun, kekuasaan tidak selalu meninggalkan hubungan yang mendalam antara seorang penguasa dan generasi yang datang setelahnya. Kita mungkin masih mempelajari strategi perang Alexander Agung atau politik Julius Caesar, tetapi hampir tidak ada masyarakat yang menjadikan kebiasaan pribadi mereka sebagai pedoman kehidupan sehari-hari. Tidak ada komunitas besar yang menganggap cara seorang kaisar makan, tidur, berbicara dengan keluarganya, atau membersihkan dirinya sebagai sesuatu yang harus dipelajari dan diteladani.

Nabi Muhammad Saw menempati posisi yang berbeda. Sejak masa hidup beliau, orang-orang di sekelilingnya sudah menunjukkan perhatian yang besar terhadap kehidupan beliau. Para sahabat bertanya kepada istri-istri Nabi tentang kehidupan beliau di rumah. Mereka mengingat perkataan dan tindakan beliau. Mereka memperhatikan bagaimana beliau beribadah dan bagaimana beliau berhubungan dengan orang lain. Perhatian itu tidak berhenti ketika Nabi wafat. Apa yang mereka ketahui disampaikan kepada generasi berikutnya, kemudian diwariskan lagi kepada generasi sesudahnya.

Dari proses panjang itulah lahir khazanah hadis yang sangat besar. Umat Islam tidak sekadar mewariskan cerita tentang Nabi. Umat Islam juga mengembangkan cara untuk memeriksa cerita tersebut. Para ulama meneliti siapa yang menyampaikan sebuah riwayat, bagaimana hubungan antara satu periwayat dengan periwayat lainnya, dan apakah isi riwayat tersebut dapat diterima. Dari sana berkembang berbagai cabang ilmu hadis yang menjadi salah satu ciri penting dalam tradisi keilmuan Islam.

Tentu, tidak semua riwayat dipandang memiliki kekuatan yang sama. Ada hadis yang dinilai sahih, ada yang hasan, ada pula yang lemah atau bahkan palsu. Namun, justru hal ini menunjukkan betapa seriusnya perhatian umat Islam terhadap kehidupan Nabi. Mereka tidak cukup hanya mengatakan bahwa sebuah cerita telah beredar sejak lama. Mereka berusaha menelusuri dari siapa cerita itu berasal dan bagaimana ia sampai kepada generasi-generasi berikutnya.

Semua usaha tersebut berangkat dari satu kenyataan. Kehidupan Nabi Muhammad Saw dipandang penting untuk kehidupan manusia sesudah beliau.

Karena itu, lebih dari 14 abad setelah wafatnya, kehidupan Nabi masih hadir dalam tindakan yang sangat biasa. Seorang ibu mengajarkan anaknya mengucapkan salam. Seorang Muslim berusaha berkata jujur ketika berdagang. Seseorang menjenguk temannya yang sakit dan mendoakannya. Seorang pemuda berusaha menahan amarahnya. Di tempat lain, seseorang bangun sebelum fajar untuk melaksanakan salat malam.

Tindakan-tindakan itu mungkin tampak kecil jika dilihat satu per satu, tetapi ketika dilakukan oleh begitu banyak orang di berbagai tempat dan terus diwariskan selama berabad-abad, kita sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kebiasaan pribadi.

Di sinilah pengaruh Nabi Muhammad Saw menjadi menarik untuk dipahami.

Banyak tokoh sejarah meninggalkan bangunan, buku, patung, atau wilayah kekuasaan. Sebagian dari warisan itu masih dapat kita lihat hingga sekarang. Namun, warisan Nabi Muhammad Saw terutama hidup melalui manusia. Warisan ini berpindah dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, dari seorang sahabat kepada sahabat lainnya, dan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sejarah Islam memang mengenal kerajaan dan kekhalifahan yang besar, tetapi pengaruh Nabi tidak bergantung pada keberadaan satu kerajaan tertentu. Dinasti dapat runtuh dan pemerintahan dapat berganti, sementara kehidupan Nabi tetap dipelajari oleh umat Islam di rumah, masjid, sekolah, pesantren, dan universitas.

Hal itu tentu tidak dapat dilepaskan dari kedudukan Nabi dalam ajaran Islam. Bagi umat Islam, Muhammad Saw bukan sekadar seorang pemimpin besar atau tokoh penting dalam sejarah Arabia. Beliau adalah Rasul Allah. Utusan Allah. Al-Qur’an secara langsung menempatkan beliau sebagai teladan bagi orang-orang beriman.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. al-Ahzab [33]: 21)

Al-Qur’an juga menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang yang memiliki akhlak yang agung.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. al-Qalam [68]: 4)

Dua ayat tersebut membantu menjelaskan mengapa kehidupan Nabi menjadi begitu penting bagi umat Islam. Mengikuti beliau bukan sekadar bentuk kekaguman kepada seorang tokoh besar. Dalam pandangan seorang Muslim, meneladani Nabi merupakan bagian dari usaha menjalankan ajaran Allah dalam kehidupan nyata. Wahyu memang turun dalam bentuk ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi kehidupan Nabi menunjukkan bagaimana ajaran itu dijalankan oleh seorang manusia dalam berbagai keadaan.

Nabi Muhammad Saw hidup sebagai anak, suami, ayah, sahabat, pedagang, pemimpin agama, pemimpin masyarakat, dan kepala negara. Beliau mengalami kehilangan, penolakan, peperangan, kemenangan, kesedihan, dan kegembiraan. Kehidupan beliau tidak berlangsung di sebuah ruang yang terpisah dari persoalan manusia. Justru karena itulah kehidupan tersebut terus menjadi sumber pembelajaran. Ada seorang Nabi yang harus menghadapi orang-orang yang menentangnya, seorang suami yang menjalani kehidupan keluarga, seorang ayah yang kehilangan anak, seorang pemimpin yang menghadapi konflik, dan seorang manusia yang harus mengambil keputusan dalam keadaan yang tidak selalu mudah.

Kamu mungkin hidup di dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia Nabi Muhammad Saw. Kita hidup dengan telepon pintar, pesawat terbang, internet, kecerdasan buatan, dan media sosial. Jarak yang dahulu ditempuh berhari-hari kini dapat dilalui dalam beberapa jam. Berita dapat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik.

Namun, teknologi tidak menghapus persoalan-persoalan dasar manusia. Kita masih merasa takut dan berharap. Kita masih kehilangan orang-orang yang kita cintai. Kita masih marah, kecewa, jatuh, bangkit, mencari teman, membangun keluarga, dan mencoba memahami untuk apa sebenarnya kita menjalani hidup.

Karena itulah kehidupan Nabi Muhammad Saw masih terus dibaca. Para ulama mempelajari beliau untuk memahami agama. Para sejarawan mempelajari beliau untuk memahami perubahan besar yang terjadi di Jazirah Arab. Para pemikir melihat bagaimana gagasan yang dibawa Nabi kemudian berkembang menjadi sebuah peradaban besar. Para sarjana modern juga dapat melihat kehidupan beliau dari sudut kepemimpinan, pendidikan, keluarga, komunikasi, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

Pengaruh Nabi Muhammad Saw juga menjadi semakin menarik ketika kita membandingkannya dengan dunia modern. Kita hidup di zaman ketika popularitas dapat diukur dengan angka. Jumlah pengikut di media sosial, jumlah tayangan, jumlah suka, dan jumlah unggahan seolah-olah menjadi ukuran pengaruh seseorang. Seorang atlet terkenal dapat memengaruhi gaya berpakaian jutaan orang. Seorang penyanyi dapat membuat jutaan penggemar membeli produk yang sama. Seorang tokoh bisnis dapat menggerakkan perhatian dunia hanya dengan satu tulisan pendek di internet.

Namun, sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa popularitas dan pengaruh bukanlah hal yang sama.

Popularitas dapat datang dengan cepat dan pergi dengan cepat. Nama yang hari ini memenuhi layar mungkin beberapa tahun kemudian hanya menjadi kenangan. Sementara pengaruh yang benar-benar mengakar bekerja dengan cara yang lebih lambat. Ia masuk ke dalam kebiasaan, nilai, cara berpikir, dan cara manusia memandang kehidupannya.

Di titik inilah pengaruh Nabi Muhammad Saw sulit diabaikan. Nama beliau terus disebut oleh manusia yang hidup di berbagai tempat, bahkan di luar wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan politik Islam. Kehidupan beliau terus menjadi bahan pembelajaran. Kisah beliau terus diceritakan kepada anak-anak. Perkataan dan tindakan beliau terus dibahas dalam majelis ilmu. Umat yang hidup berabad-abad setelah beliau masih berusaha memahami bagaimana beliau menjalani hidup.

Kami akan dan selalu rindu padamu wahai Rasulullah!

Tinggalkan Balasan