Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Memasuki Usia 40 Tahun: Jangan Terpaku pada Nikmat yang Hilang, Syukuri yang Masih Allah Berikan  

Oleh timredaksi • • 4 Menit Min
Memasuki Usia 40 Tahun: Jangan Terpaku pada Nikmat yang Hilang, Syukuri yang Masih Allah Berikan  

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Memasuki usia 40 tahun menjadi fase penting bagi seorang Muslim untuk semakin memperkuat rasa syukur, memperbaiki amal, dan memikirkan keberlanjutan kebaikan bagi generasi setelahnya.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nur Kholis mengingatkan, kemampuan seseorang untuk menjalankan kebaikan merupakan bentuk pertolongan Allah yang patut disyukuri. Hal itu disampaikannya dalam kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (16/08).

Menurutnya, petunjuk Allah secara umum dapat dipahami dalam dua bentuk, yakni hidayatul irsyad dan hidayatut taufik. Hidayatul irsyad merupakan petunjuk yang memungkinkan seseorang mengetahui kebenaran melalui kitab suci, hadis, akal, maupun nurani. Petunjuk ini dapat diperoleh setiap orang.

Namun, mengetahui kebenaran belum tentu membuat seseorang mampu menjalankannya. Karena itu, manusia membutuhkan hidayatut taufik, yakni pertolongan Allah yang memberikan kemampuan untuk mengamalkan apa yang telah diketahui.

Nur Kholis menggambarkan hal itu dengan contoh sederhana. Seseorang yang terbiasa berbohong tetap tidak senang ketika dirinya dibohongi. Begitu pula pencuri yang kehilangan barang tentu akan merasa dirugikan. Menurutnya, perasaan tersebut menunjukkan masih adanya petunjuk dalam nurani seseorang tentang sesuatu yang benar dan salah.

“Persoalannya, apakah pencuri tadi ketika rumahnya kecurian kemudian dia menghentikan mencuri? Atau orang yang biasa berbohong kemudian dia yang dibohongi lalu berazam tidak akan bohong lagi?” ujarnya. Jawabannya, menurut Nur Kholis, membutuhkan hidayatut taufik.

Ia pun mengajak jamaah tidak merasa lebih baik hanya karena mampu menghadiri pengajian atau menjalankan salat dengan tertib. Kehadiran seseorang di majelis ilmu dan kemudahan dalam beribadah merupakan bentuk pertolongan Allah.

“Jangan terbersit dalam hati kita meremehkan orang yang belum salat. Karena mudahnya kita salat lima waktu di masjid itu juga karena pertolongan Allah,” katanya.

Menurut Nur Kholis, Allah memang mampu memberikan pertolongan tanpa sebab. Namun, dalam kehidupan manusia, pertolongan Allah biasanya datang melalui sebab-sebab yang diusahakan. Salat, puasa, sedekah, berbuat baik, disiplin, dan menghadiri pengajian menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperoleh pertolongan tersebut.

“Jadi kita bersama-sama duduk di sini ini sebenarnya sedang mengumpulkan sebab itu,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, Nur Kholis secara khusus mengajak jamaah berusia 40 tahun ke atas untuk merenungkan doa yang terdapat dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15. Menurutnya, doa tersebut relevan bagi seseorang yang mulai memasuki fase kehidupan ketika perjalanan ke depan semakin terbatas.

Doa itu berbunyi, Rabbi auzi’ni an asykura ni’mataka allati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa aslih li fi dzurriyyati, inni tubtu ilaika wa inni minal muslimin.

Nur Kholis menjelaskan, doa tersebut memuat sejumlah permohonan penting. Salah satunya adalah permohonan agar Allah memberikan kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Ia menekankan bahwa syukur tidak cukup diwujudkan dengan ucapan alhamdulillah. Syukur harus bersifat fungsional, yakni menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk melakukan kebaikan.

“Syukur itu ya harus fungsional, menggunakan nikmat itu untuk kebaikan,” tegasnya.

Ia memberi contoh nikmat penglihatan dan pendengaran. Seseorang mungkin baru menyadari betapa berharganya kemampuan membaca ketika penglihatannya mulai berkurang. Begitu pula kemampuan mendengar baru terasa sangat berharga ketika pendengaran mulai melemah.

Karena itu, Nur Kholis mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat yang masih melekat dalam diri dengan menggunakannya untuk kebaikan. Kaki yang masih mampu berjalan, misalnya, dapat digunakan untuk menghadiri pengajian, pergi ke masjid, atau melakukan aktivitas bermanfaat.

“Tidak usah jauh-jauh dulu. Yang dekat menempel di kita, kita minta karena usia kita itu sudah 40 tahun ke atas,” katanya.

Menurutnya, memasuki usia tersebut juga menjadi momentum untuk menyadari bahwa perjalanan hidup yang tersisa belum tentu sepanjang perjalanan yang telah dilalui. Kesadaran itu semestinya mendorong seseorang untuk lebih selektif dalam menggunakan waktu dan tenaga.

Ia juga mengingatkan bahwa bertambahnya usia sering kali diiringi berkurangnya kemampuan fisik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri. Karena itu, rasa syukur menjadi semakin penting agar seseorang tidak terus-menerus berfokus pada nikmat yang telah berkurang.

“Syukur itu tidak mudah. Kita itu lebih sering fokus pada yang sudah diambil oleh Allah dan melupakan yang banyak yang masih disisakan oleh Allah,” ujarnya.

Nur Kholis mencontohkan orang lanjut usia yang mulai kehilangan pendengaran atau kemampuan fisik. Di tengah keterbatasan itu, masih ada banyak nikmat yang tersisa, seperti rumah, keluarga, anak-anak, cucu, dan lingkungan yang baik.

Ia mengisahkan pengalamannya ketika mendampingi ibu mertuanya yang sakit di rumah sakit. Menurutnya, meskipun kondisi fisik sang ibu mertua telah menurun, masih ada nikmat yang sangat besar, yakni perhatian dan kebaikan anak-anak serta keluarga yang datang bergantian menemaninya.

“Beliau sakit, sudah sepuh, tetapi ada nikmat Allah yang masih disisakan oleh Allah. Keluarganya yang baik-baik,” katanya.

Selain mensyukuri nikmat, bagian lain dari doa Surah Al-Ahqaf ayat 15 adalah permohonan agar Allah memperbaiki keturunan. Bagi Nur Kholis, memasuki usia 40 tahun semestinya membuat orientasi seseorang mulai bergeser. Perhatian tidak lagi semata-mata tertuju pada diri sendiri, tetapi juga pada nasib generasi berikutnya.

“Kalau sudah usia 40 tahun ke atas, wis ora pati mikir awake dewe, sing dipikirke nasib generasinya,” ungkapnya.

Ia menilai, orang tua memiliki setidaknya dua cara penting untuk memperbaiki generasi, yakni melalui doa dan keteladanan. Anak-anak mungkin tidak selalu mengingat harta yang diberikan orang tua, tetapi mereka akan lebih mudah mengingat kebiasaan dan teladan yang mereka lihat sejak kecil.

Nur Kholis kemudian menceritakan kenangannya terhadap sang nenek. Ia tidak lagi mengingat secara detail berapa uang yang pernah diberikan sang nenek kepadanya saat Lebaran. Namun, berbagai kebiasaan baik dan keteladanan sang nenek masih melekat kuat dalam ingatannya.

Salah satu yang paling diingatnya adalah kebiasaan sang nenek menyediakan makanan bagi para santri dari pesantren yang berada di dekat rumahnya. Para santri kerap datang, makan, dan membantu berbagai pekerjaan. Bagi Nur Kholis, kebiasaan tersebut menjadi pelajaran tentang kepedulian dan berbagi yang terus terbawa hingga sekarang.

Ia juga mengingat kebiasaan sang nenek membaca Al-Qur’an dan menjaga ibadah. Teladan semacam itu, menurutnya, merupakan warisan yang jauh lebih melekat dalam ingatan anak cucu.

“Yang akan mereka terus ingat adalah kebaikan, teladan mereka itu,” ujarnya.

Karena itu, Nur Kholis mengajak jamaah yang telah berusia lanjut untuk memperbanyak doa dan memberikan teladan sebanyak-banyaknya. Menurutnya, keberadaan orang tua yang tetap beribadah, hadir di masjid, dan menjaga kebaikan akan menjadi memori penting bagi anak-anak dan cucu mereka.

Permohonan berikutnya dalam doa tersebut adalah agar Allah memberikan kemampuan untuk melakukan amal saleh yang diridai-Nya. Nur Kholis menekankan, semakin bertambah usia, seseorang perlu semakin selektif memilih amal yang akan dilakukan.

Tinggalkan Balasan