Rabu, 16 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Muh. Barie Irsyad: Pendekar Kauman dan Pendiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Oleh timredaksi 6 Menit Min
Muh. Barie Irsyad: Pendekar Kauman dan Pendiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Muhammad Barie Irsyad adalah seorang putra Kauman Yogyakarta yang lahir pada 3 Agustus 1934. Tumbuh di lingkungan kampung santri yang menjadi basis dan tempat lahir Muhammadiyah, Barie tumbuh dengan pondasi aqidah Islam yang kuat yang pada akhirnya membentuk pribadinya yang rasional, ilmiah, dinamis, dan berani untuk membela kebenaran.

Era tahun 30 an, selain dikenal sebagai kampung santri, Kauman juga memiliki tradisi kuat dalam olahraga pencak silat. Mengikuti tradisi ini, Barie kecil berlatih di Perguruan Cikauman dan tercatat sebagai murid generasi keenam. Bakatnya terhadap pencak silat ini terlihat menonjol sehingga ia kemudian diproyeksikan sebagai calon penerus tradisi pencak Kauman.

Kemudian setelah masa perang kemerdekaan, Barie semakin mendalami ilmu pencaknya. Pencak silat semakin ia dalami mengingat kondisi ketidakstabilan politik negara serta banyaknya pendekar tapak suci yang gugur sehingga sempat terjadi pelemahan tradisi pencak di Kauman. 

Dengan bekal aqidah Muhammadiyah yang kuat, Barie muda mempelajari berbagai aliran pencak yang berkembang di masyarakat. Bekal kuat itulah yang membuat ia tetap berpegang teguh sehingga menolak praktik-praktik mistis dan ritual yang bertentangan dengan ajaran agama.

Tak heran, di masa itu masih banyak sekali praktik pencak silat yang mengandalkan ilmu-ilmu mistis dan ilmu hitam yang bertentangan dengan agama. Namun, Barie memiliki nilainya tersendiri bahwa pencak adalah ilmu gerak yang rasional sehingga harus dipelajari, diajarkan, dan dikembangan dengan metode yang ilmiah.

Penguasaan teknik dapat diuji secara objektif, sementara pengembangannya dilakukan secara terbuka melalui “adu kaweruh” atau pertukaran pengetahuan antar pendekar. Dari pemikiran inilah lahir konsep pencak yang metodis dan dinamis, yang kemudian menjadi ruh Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah saat didirikan pada 31 Juli 1963.

Selain itu, Ilmu pencak ragawi yang methodis dinamis tidaklah cukup karena Barie Irsyad memiliki tujuan beladiri bukan untuk menjadi orang ampuh namun untuk mencari keselamatan di dunia dan akhirat. Maka dari itu, Barie berpendapat bahwa pencak juga harus dilandasi aspek pendidikan mental spiritual. maksudnya, agama harus menjadi landasan dan tertanam kuat dalam diri seorang pendekar. 

Dan disinilah tercetus kurikulum pendidikan Tapak Suci yang ia dirikan pada 1963 tentang pendidikan ragawi dan pendidikan ruhani dan kemudian tercetus motto perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang berbunyi “Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat, Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah”.

Oleh karena itu, sikap hormatnya terhadap Tapak Suci Muhammadiyah ini bermakna amar ma’ruf nahi munkar yang selaras dengan filosofi gerakan Muhammadiyah, mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya melalui gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid di segala bidang. 

Kauman 1957: Ketika Pencak Silat Dipandang Sebagai Ilmu Rasional Bukan Kesaktian yang Hitam

Kembali ke Kampung Kauman (1950 an), tempat lahirnya Barie Irsyad. Keresahan sang pendekar tentang aliran pencak silat ilmu hitam yang mengarah kepada Tahayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC) memuncak.

Tepatnya di tahun 1957 dimana ia sebagai generasi ke-6 pencak Kauman, telah selesai menempuh serangkaian ujian dari beberapa guru pencaknya sehingga telah diizinkan menerima murid.

Setelah bendera hijau dituturkan oleh para gurunya, Barie yang masih berusia 23 tahun melakukan berbagai hal penting kala itu. Pertama, mendirikan paguron pencak Kasegu (Kauman Serba Guna) dan kemudian berlatih dengan sangat giat bersama dengan bendera paguron Kasegu. Kedua, tak cukup dengan pengembangan ilmu gerak, Barie Irsyad kemudian menciptakan sebuah senjata bernama “SEGU” (Serba Guna) yang berbentuk lafal Mim Ha Mim Dal, jika digabung menjadi Muhammad. Dan yang ketiga, bersama akidah, ilmu, perguruan, murid, dan senjata SEGU nya Barie menantang keadaan tahun 50an yang kental menjamur praktik TBC.

Berbagai langkah telah ia lakukan untuk memberantas TBC melalui perguruan bela dirinya. Tentunya cara pemberantasan TBC tidak ia lakukan semata-mata langsung dengan cara yang keras. Bersama para ulama ia mencoba untuk menemui para pendekar dan dukun aliran klenik melakukan pembicaraan persuasif dan memberikan nasihat.

Namun cara tersebut tidaklah menemukan titik temunya, pada akhirnya disepakati untuk “adu kaweruh” pembuktian keilmuan pencak secara adil dan terbuka. Dengan ilmu pencak fisiknya yang metodis dinamis, ia berhasil mengalahkan pendekar klenik dan mengusirnya agar tak beroperasi lagi di kampung Kauman.

Hal tersebut telah biasa ia lakukan. Tujuannya melakukan adu kaweruh tersebut selain untuk memberantas TBC, juga karena hatinya merasa terpanggil untuk membela dan mendukung para ulama di kampungnya.

Inilah kiprah prestisius Barie Irsyad dalam melawan kemungkaran aqidah. Dengan mengalahkan penganut aliran ilmu hitam menjadi bukti konkrit bahwa pencak aliran fisik yang berlandaskan aqidah yang benar tidak dapat dikalahkan oleh hal-hal yang berbau TBC.

Dengan berhenti beroperasinya dukun dan pencak aliran hitam di Kauman (1957), kampung ini kemudian perlahan menjadi kampung yang bergengsi dengan mendeklarasikan “bebas takhayul, bid’ah, dan churafat (TBC)”. Sebuah cita-cita yang selaras dan telah diikhtiarkan sejak lama oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan.

Kauman 1960: Perlawanan Terhadap Komunis

Tak berhenti sampai disitu. Perjuangan Barie Irsyad masih berlanjut hingga ke tahun-tahun berikutnya. Dan mungkin, sebagian besar rakyat Indonesia mengingat momentum bersejarah dan berdarah yang pernah terjadi di negeri ini di tahun 1960 an.

Momen bersejarah itu adalah meletusnya G30S/PKI. Maka, untuk mengatasi isu nasional tersebut, juga untuk menghindari potensi perpecahan paguron pencak di Kauman, timbulah gagasan untuk menyatukan semua paguron pencak di Kauman yang sealiran yaitu: Paguron Cikauman yang didirikan Achmad Dimyati dan M Wahib di tahun 1925, Seranoman yang didirikan Moh Syamsuddin tahun 1930 an, dan Kasegu yang didirikan Barie Irsyad tahun 1957.

Setelah melalui berbagai musyawarah hingga adu kaweruh untuk saling membuktikan keilmuan, maka semua guru pencak Kauman sepakat untuk mendirikan Tapak Suci pada tahun 1963.

Setelah berdiri Tapak Suci, Barie Irsyad bersama rekan-rekannya langsung bergerak untuk mengadvokasi umat dari gangguan kelompok-kelompok komunis yang pada tahun itu mulai unjuk gigi jelang meletusnya G30S/PKI.

Hingga di tahun 1965, tepatnya 1 Oktober 1965 peristiwa kudeta G30S/PKI meledak. Hari-hari berikutnya Yogyakarta sangat mencekam dan Barie Irsyad memimpin Tapak Suci berhadapan dengan PKI yang mana hal itu berlangsung cukup lama hingga pembubaran PKI di tahun 1966.

Kehidupan Tapak Suci Pasca 1966

Sebenarnya, perjuangan Tapak Suci di era 60 an bukan hanya soal penyatuan 3 perguruan pencak di kauman dan perlawanan terhadap kelompok komunis. Namun, tantangan lain yang juga menjadi latar belakang tercetusnya Konferensi nasional I Tapak Suci (1966) adalah persoalan eksistensi tapak suci yang mulai tersebar di daerah-daerah pasca 1964, di tengah periode perjuangan mempertahankan Yogyakarta dalam peristiwa nasional G30S/PKI.

Sedikit mengulik perjalanan Tapak Suci di 1964 sebelum menuju ke 1966, saat itu Tapak Suci yang didirikan 1963 dan dibawah naungan Muhammadiyah menerima permintaan untuk membuka cabang di daerah-daerah. Ketika itu juga, Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang diketuai oleh KH. Ahmad Badawi merestui Tapak Suci menjadi organisasi otonom Muhammadiyah sehingga tercetus nama Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Setelah peristiwa itulah, kemudian Tapak Suci mengalami transformasi besar dari sekadar perguruan pencak lokal di Yogyakarta menjadi Organisasi Otonom (Ortom) di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah. Fase ini ditandai dengan pemantapan struktur organisasi, ekspansi ke berbagai daerah, serta pengukuhan peran bela diri sebagai saran pengkaderan umat.

Dan pada akhirnya di tahun 1966 Tapak Suci secara perdana menyelenggarakan Konferensi Nasional I Tapak Suci  yang dihadiri oleh para utusan Perguruan Tapak Suci yang mulai tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di saat itulah, Tapak Suci secara resmi menunjuk H. Djarnawi Hadikusumo sebagai Ketua Umum pertama Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Sedangkan Barie Irsyad selaku pendiri Tapak Suci berfokus sepenuhnya kepada pengembangan teknik, kurikulum metodis, dan pengkaderan pesilat.

Selain itu, dalam agenda Konferensi Nasional itu, Tapak Suci juga memulai melakukan pemantapan organisasi secara nasional, dan perguruan ini dikembangkan menjadi gerakan dan lembaga yang tersebar secara nasional sehingga dalam Tanwir Muhammadiyah tahun 1967, Tapak Suci resmi menjadi ortom Muhammadiyah ke-11.

Perkembangan Tapak Suci terus berlanjut hingga kini. Kemudian, di tahun 2000 an juga merupakan suatu tonggak penting bagi Tapak Suci untuk bergerak lebih masif hingga ke lingkup global.

Terbukti, sejak kiprah internasionalnya yang dirintis sejak tahun 2000 an itu, kini tapak suci telah meluas hingga ke 24 negara. Sementara dalam lingkup nasionalnya, organisasi ini telah tersebar ke dalam 34 Pimpinan Wilayah.

Kehidupan Barie Irsyad sebagai seorang pendekar sejati diabdikan sepenuhnya untuk membesarkan Perguruan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Keteguhan aqidah, keberanian membela kebenaran, serta konsistensinya menjadikan pencak silat sebagai media dakwah menjadikan sosoknya layak dikenang sebagai teladan perjuangan bagi seluruh kader Muhammadiyah.

Pada 2003, ketika Tapak Suci Putera Muhammadiyah mulai merintis langkah menuju panggung internasional, Barie Irsyad berpulang di Yogyakarta dalam usia 68 tahun. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang pendekar, tetapi bukan akhir dari cita-cita yang telah ia tanamkan.

Lebih dari enam dekade sejak Tapak Suci didirikan pada 31 Juli 1963, warisan pemikiran dan perjuangan Barie Irsyad terus hidup dan berkembang. Gagasan-gagasannya telah menjelma menjadi sebuah gerakan yang melampaui fungsi perguruan bela diri. Tapak Suci tumbuh sebagai media dakwah yang memadukan keunggulan teknik, kemurnian akidah, pembinaan akhlak, dan semangat amar ma’ruf nahi munkar. Dari Kampung Kauman, warisan itu kini menjangkau berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, membuktikan bahwa seni bela diri dapat menjadi jalan dakwah yang rasional, membentuk karakter yang berlandaskan tauhid, serta berkontribusi dalam mewujudkan peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Penulis: Bhisma Rahaditya Handoko

Tinggalkan Balasan