MUHAMMADYAH.OR.ID, BANDUNG — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan lima hal yang perlu diperhatikan Muhammadiyah dalam menghadapi masa depan agama di tengah kehidupan modern dan sekular.
Hal itu disampaikan dalam acara peluncuran buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama karya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad di Universitas Muhammadiyah Bandung pada Senin (05/10).
Haedar mengatakan, agama tidak akan kehilangan relevansinya dalam masyarakat modern selama umat beragama mampu menghadirkan nilai-nilai agama yang adaptif sekaligus menjadi alternatif bagi kehidupan masyarakat.
“Kalau saya kuncinya lima aja termasuk Muhammadiyah,” ujar Haedar.
Pertama, agama harus menjadi kanopi suci dalam kehidupan modern
Haedar mengutip gagasan Peter L. Berger tentang the sacred canopy atau kanopi suci. Menurutnya, masyarakat modern yang ditandai perkembangan teknologi, rasionalitas, dan teknokrasi membutuhkan nilai yang memberikan orientasi spiritual.
Ia mengingatkan agar agama tidak hadir dengan cara yang membuat masyarakat semakin jauh. Para mubalig, menurut Haedar, perlu menghadirkan agama sebagai kekuatan pencerah. “Dan itu yang diingatkan oleh Kiai Dahlan gitu ya. Agama harus menjadi kekuatan pencerah,” katanya.
Haedar mengingatkan bahwa cara umat memahami agama dapat memengaruhi masa depan agama itu sendiri. Jika dakwah hanya diisi dengan sikap menghardik, memvonis, atau mengkafirkan, masyarakat yang sedang mencari nilai dapat gagal menemukan agama sebagai jawaban.
Kedua, Muhammadiyah perlu menghadirkan agama di tengah generasi muda
Haedar menyoroti generasi Z yang disebutnya berjumlah sekitar 25 persen dari populasi Indonesia atau sekitar 75 juta orang, dengan rentang usia 14–29 tahun. Mereka, kata Haedar, merupakan kelompok yang akan hidup dalam masa depan.
Karena itu, Muhammadiyah perlu bertanya apakah agama dan Muhammadiyah benar-benar hadir dalam kehidupan mereka. Menurut Haedar, generasi muda memiliki gaya hidup dan cara pandang yang berbeda sehingga pendekatan dakwah juga perlu menyesuaikan.
“Jika Muhammadiyah dan agama itu hadir untuk kaum milenial ini, maka punya prospek di masa depan,” katanya.
Haedar mencontohkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai salah satu ikhtiar Muhammadiyah yang dapat menawarkan kepastian kepada generasi muda. Perbedaan pendapat mengenai dalil penentuan hari raya, menurutnya, dapat terjadi, tetapi kepastian kalender merupakan kebutuhan masyarakat modern.
Ketiga, agama harus menjadi kekuatan pemecah masalah
Menurut Haedar, agama perlu hadir dalam persoalan ekonomi, politik, budaya, dan teknologi. Muhammadiyah memiliki ruang untuk menghadirkan nilai agama melalui berbagai amal usaha dan gerakannya di tengah masyarakat.
Ia juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Haedar mengingatkan umat agar tidak merasa rendah diri menghadapi perkembangan teknologi, tetapi pada saat yang sama tidak bersikap sok tahu terhadap perubahan yang dibawa dunia algoritma.
“Belum apa-apa kok sudah rendah diri gitu ya pada makhluk yang itu diciptakan oleh manusia dengan kemampuannya yang tinggi,” katanya.
Menurut Haedar, Muhammadiyah dapat menghadirkan pemecahan masalah melalui pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. “Kita mencerdaskan, kita memajukan, kita mensejahterakan, kita memberikan relasi sosial baru dalam kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Karena itu, Muhammadiyah perlu membaca persoalan konkret masyarakat di setiap wilayah. “Apa sih problem sosial, ekonomi masyarakat, budaya masyarakat? Di situ Muhammadiyah harus hadir,” tegas Haedar.
Keempat, Muhammadiyah perlu menghadapi sekularisasi dengan pendekatan yang menghadirkan alternatif
Haedar mengingatkan bahwa masa depan agama dan Muhammadiyah akan menghadapi tantangan apabila gelombang sekularisasi semakin masif. Menurutnya, menghadapi kehidupan modern tidak cukup dengan sikap menolak atau mu’aradah tanpa menawarkan pilihan lain.
“Lebih baik sikap kita adalah lilmuwajahah. Itu keputusan Muktamar Muhammadiyah tahun 2010,” ujarnya.
Sikap lilmuwajahah, menurut Haedar, mengarahkan Muhammadiyah untuk berhadapan dengan realitas secara aktif dengan menghadirkan alternatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Kelima, Muhammadiyah perlu memperkuat studi masa depan
Haedar menilai kemampuan membaca masa depan atau future studies semakin penting. Ia menyebut sejumlah universitas mulai membuka program studi yang secara khusus mempelajari masa depan dengan melihat berbagai perspektif dan kemungkinan yang muncul dari kondisi hari ini.
“Yakni berbelanja berbagai perspektif, pandangan, realitas yang kemungkinan terjadi di masa depan akibat dari apa yang terjadi hari ini,” jelasnya.
Menurut Haedar, Islam memiliki kekayaan perspektif untuk membangun kesadaran tentang masa depan. Ia mengutip QS Al-Hasyr ayat 18 yang memadukan dimensi ketakwaan dengan kemampuan melihat apa yang dipersiapkan untuk hari esok.
Bagi Haedar, ayat tersebut mengandung dua dimensi. Pertama, dimensi ruhaniah berupa ketakwaan dan kesadaran dalam menjalani kehidupan. Kedua, kerja intelektual yang ia sebut sebagai tanazhur atau kerja intelektual profetik.
“Tanazhur itu kerja intelektual yang profetik. Iqra yang profetik menggabungkan seluruh dimensi ilmu yang kita kuasai dengan pandangan ketuhanan kita,” katanya.
Haedar menekankan bahwa studi masa depan perlu dikembangkan di lingkungan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Para pimpinan, kader, dan organisasi otonom perlu memperkuat wawasan keagamaan sekaligus keilmuan agar mampu membaca perubahan.
“Jika kita ingin ada di masa depan gitu ya. Maka ya para pimpinan Muhammadiyah, Aisyiah, Ortom juga perlu memperkaya sikap wiqayah kita, keagamaan kita, ilmu agama kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar ilmu agama tidak berhenti pada penguasaan norma, tetapi tercermin dalam perilaku. Dalam perspektif sosiologis, kata Haedar, masyarakat menilai agama melalui perilaku umat dan tokoh agama.
“Jadi jangan merasa ada di zona nyaman kayak ilmu agama tetapi perilaku kata tak sejalan tindakan. Nah gitu. Orang akan mencemooh dan tindakan itu etalase paling nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Karena itu, selain memperkuat keberagamaan, kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga perlu memperkaya khazanah keilmuan serta kerja intelektual.






