MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) periode 2026–2030 agar mampu membaca, merespons, dan mengelola perubahan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam acara taaruf PPNA bertajuk “Meneguhkan Amanah, Menguatkan Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan” yang digelar pada Jum’at malam (2/10).
Menurut Haedar, sebagai bagian dari kaderisasi ‘Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan gerakan. Ia berharap kepemimpinan baru PPNA dapat menghadirkan gerakan yang semakin dinamis, adaptif, dan berkemajuan.
“Kami percaya PPNA dapat lebih dinamis dan berkemajuan, karena Nasyiatul Aisyiyah merupakan embrio dan kaderisasi ‘Aisyiyah secara khusus,” ujar Haedar.
Haedar mengingatkan bahwa Nasyiatul Aisyiyah merupakan bagian dari ekosistem Persyarikatan Muhammadiyah. Karena itu, kader NA perlu memahami sekaligus menghidupkan tradisi besar Persyarikatan yang dibangun melalui sistem kelembagaan, nilai, dan budaya gerakan.
Menurutnya, perjalanan panjang Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, dan organisasi otonom lainnya bukan semata-mata tentang usia organisasi, melainkan tentang kemampuan untuk terus beradaptasi dan menjadi lebih baik.
“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah beserta ortom lain telah bergerak lama. Dalam perjalanan yang panjang itu bukan soal waktu, tetapi kemampuan kita dalam beradaptasi untuk menjadi lebih baik,” katanya.
Selain kemampuan beradaptasi, Haedar menekankan bahwa kekuatan gerakan tidak hanya bertumpu pada sistem kelembagaan, tetapi juga pada keikhlasan, kemandirian, dan dimensi rasa dalam bermuhammadiyah.
“Poin penting saya adalah, ada dimensi rasa dalam kita bermuhammadiyah,” ujarnya.
Menurut Haedar, dimensi irfani turut memberikan kontribusi penting bagi kemajuan gerakan. Nilai tersebut harus tetap hidup di tengah perkembangan sistem dan teknologi, termasuk hadirnya kecerdasan artificial intelligence (AI).
Haedar menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan peran sebagai aktor utama. Justru, teknologi harus menjadi instrumen yang memperkuat kapasitas manusia dalam berpikir dan bergerak.
Dari pentingnya kemampuan berpikir tersebut, Haedar kemudian mengaitkannya dengan kepemimpinan. Ia menilai tidak ada satu model kepemimpinan yang berlaku mutlak karena setiap pemimpin menghadapi persoalan, tantangan, dan pengalaman yang berbeda.
Karena itu, menurut Haedar, kecerdasan perlu berjalan beriringan dengan kearifan dan kebijaksanaan. Kearifan, katanya, tidak hanya diperoleh melalui teori maupun gelar akademik, tetapi juga tumbuh melalui pengalaman dalam ruang-ruang pergerakan.
“Muhammadiyah ini ladang untuk kita mencari kearifan,” pungkasnya. (Andiva)






