Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Islam Mengajarkan Tanggung Jawab Menjaga Reproduksi Sejak Remaja hingga Menjadi Ibu

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Islam Mengajarkan Tanggung Jawab Menjaga Reproduksi Sejak Remaja hingga Menjadi Ibu

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Guru Besar Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Musdalifah, menegaskan bahwa kesehatan reproduksi tidak semata-mata berkaitan dengan aspek biologis, tetapi juga merupakan amanah yang harus dijaga sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Hal itu disampaikannya dalam podcast Indahnya Cahaya Islam yang tayang pada Senin (13/07).

Menurut Musdalifah, berbagai persoalan kesehatan reproduksi yang muncul di masyarakat saat ini memerlukan perhatian serius. Salah satunya ialah meningkatnya perilaku berisiko di kalangan remaja yang berujung pada berbagai persoalan, termasuk kehamilan tidak diinginkan dan praktik aborsi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak perempuan belum memahami sepenuhnya keistimewaan tubuh yang dianugerahkan Allah.

“Secara fisik perempuan itu kadang kala melupakan apa yang menjadi keunikan dan keistimewaan Allah menciptakan secara kodrat, mulai dari siklus menstruasi, kesiapan hamil, menyusui, memilih pasangan, hingga menjalankan hubungan suami istri dalam pola yang sehat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa menjaga kesehatan reproduksi merupakan proses panjang yang dimulai sejak masa remaja. Seorang perempuan perlu memahami perubahan biologis yang dialaminya, mempersiapkan diri memasuki kehidupan berkeluarga, hingga mampu mengasuh anak sebagai generasi penerus.

Musdalifah menekankan bahwa tanggung jawab tersebut tidak berhenti setelah seorang perempuan melahirkan. Menyusui anak, misalnya, merupakan amanah yang memiliki dimensi keagamaan sekaligus tanggung jawab sosial.

“Seorang ibu punya amanah untuk harus menyusui. Bagaimana tanggung jawab itu diberikan kepada anaknya melalui ASI, itu adalah amanah,” katanya.

Dalam perspektif Islam, lanjutnya, seluruh proses reproduksi telah memperoleh panduan yang jelas. Al-Qur’an memberikan tuntunan mengenai kehamilan, persalinan, hingga menyusui. Salah satu landasannya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 233 yang menjelaskan tanggung jawab orang tua dalam pemeliharaan anak.

Menurut Musdalifah, Islam memandang seluruh proses tersebut sebagai bagian dari ibadah. Karena itu, perempuan tidak seharusnya memandang menstruasi, kehamilan, persalinan, maupun menyusui sekadar sebagai rutinitas biologis, melainkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

“Kadang-kadang perempuan lupa bahwa apa yang dilakukan dalam menjalankan kodratnya itu adalah ibadah. Selain sebagai kewajiban dan tanggung jawab, di dalamnya ada nilai ibadah,” tuturnya.

Ia menilai, tantangan terbesar saat ini ialah kecenderungan masyarakat yang semakin jauh dari nilai-nilai agama. Gaya hidup materialistis dan hedonistis membuat sebagian orang memandang persoalan reproduksi hanya dari sisi fisik, sementara dimensi spiritual mulai diabaikan.

Karena itu, Musdalifah mendorong keluarga, terutama orang tua, agar memberikan pendidikan reproduksi sejak dini sesuai tahap perkembangan anak. Pendidikan tersebut dimulai ketika anak perempuan mengalami menstruasi pertama, kemudian berlanjut pada pemahaman mengenai kehamilan, persalinan, masa nifas, hingga menyusui.

“Orang tua harus mengajarkan pendidikan tentang menstruasi, kemudian saat seorang ibu mendapatkan amanah hamil, melalui persalinan, masa nifas, hingga menyusui. Semua itu adalah amanah yang harus dipelihara,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kesadaran tersebut penting agar setiap perempuan memahami bahwa menjaga kesehatan reproduksi berarti menjaga kualitas generasi masa depan.

“Ingat selalu bahwa ketika saya memelihara anak saya, berarti generasi selanjutnya menjadi sebuah harapan,” ujarnya.

Musdalifah juga menyoroti pentingnya kesehatan mental perempuan. Berdasarkan pengalamannya mendampingi masyarakat, persoalan emosional justru menjadi tantangan yang paling sering dihadapi para ibu dalam menjalankan peran reproduksinya.

“Yang banyak menjadi persoalan adalah tingkat emosional seorang ibu. Kestabilan emosional dalam menghadapi persoalan itu harus ditata. Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi pengaruh yang sangat besar,” ungkapnya.

Ia mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam meningkatkan edukasi kesehatan reproduksi melalui fasilitas pelayanan kesehatan maupun media sosial. Namun, menurutnya, keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada kesiapan mental individu dalam membangun kehidupan keluarga yang harmonis.

Sebagai solusi, Musdalifah mengajak masyarakat untuk memperkuat hubungan dengan Allah. Baginya, keimanan menjadi fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental sekaligus menjalankan amanah kehidupan.

“Kalau saya kembali kepada siapa yang menciptakan kita. Manusia harus ingat kepada Tuhannya dan meningkatkan keimanannya. Saya kira itu sesuatu yang harus dikuatkan,” katanya.

Menutup perbincangan, Musdalifah berpesan agar setiap keluarga menjadikan iman, takwa, dan rasa syukur sebagai dasar dalam menjalani kehidupan. Seluruh amanah yang diberikan Allah, termasuk menjaga tubuh dan kesehatan reproduksi, perlu dijalankan dengan penuh tanggung jawab tanpa menghitung balasan, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya.

“Kehidupan ini harus dijalankan dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Apa pun yang terjadi pada diri kita, kita syukuri dan kita jalani sebagai proses menjadi hamba Allah yang berusaha menjalankan tuntunan-Nya dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan