MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Semua kelompok masyarakat memiliki potensi laten untuk maju dan berkembang, namun kerap kali potensi itu tertutup di bawah permukaan bumi, serta dininabobokkan ketradisionalannya.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Sabtu (4/7) dalam Launching Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) di Kabupaten Bantul, DI. Yogyakarta.
Ketika sekelompok masyarakat yang memiliki potensi maju namun terdapat tembok penghalang, maka dibutuhkan aktor atau subjek perubahan yang mengarahkan potensi laten itu menjadi potensi faktual yang manifes.
Selain barier berupa ketradisionalannya, potensi laten itu kerap mandek karena para elit tidak menghendaki adanya perubahan. Terlebih ketika perubahan itu tidak menguntungkannya– sebab status quo lebih menguntungkan kelompok elit.
“Ketika status quo itu menguntungkan dirinya, maka biarkanlah masyarakat, umat itu ternina bobokkan oleh kegiatan-kegiatan ritual yang indah, yang ramai gitukan, yang bareng-bareng gitu. Dan di situlah biasanya elit muncul sebagai tokoh yang seakan-akan menjadi representasi dari masyarakatnya,” ungkapnya.
Melihat situasi tersebut, Kiai Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah berusaha mendobrak– meniscayakan adanya perubahan untuk masyarakat maupun umat semakin maju melalui aksi nyata seperti membangun sekolah dengan sistem pendidikan Islam modern.
Tak hanya itu, Kiai Dahlan juga mendirikan rumah sakit, bahkan mendirikan ‘Aisyiyah yang saat itu menjadi pembeda antara gaya pembaruan yang dilakukan Kiai Dahlan dengan para pembaru Islam lainnya.
Alih-alih memegang kuat-kuat status quo sebagai elit agama, Kiai Dahlan justru menghendaki perubahan di tengah-tengah umat. Baginya yang terpenting adalah Islam ini maju, dan umat Islam sejahtera di dunia dan akhirat.
“Kiai Dahlan tidak ingin klangenan, Kiai Dahlan tidak ingin status quo. Tetapi dia ingin perubahan, karena perubahan itulah yang menjadi jiwa Islam,” ungkap Haedar Nashir.
Sebaliknya, yang dilawan oleh Kiai Dahlan dengan Muhammadiyah itu adalah kejumudan atau stagnasi. Maka Haedar meminta warga Muhammadiyah untuk membangkitkan potensi laten menjadi potensi aktual yang manifes.






