MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Sebagai organisasi Islam modern, cara pemilihan kepemimpinan di Muhammadiyah tidak berdasarkan wangsit maupun keturunan, akan tetapi pemilihan didasarkan pada rasionalitas.
Hal itu disampaikan Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin pada Sabtu (3/9) dalam acara Ruang Publik TVMU di Jakarta. Izzul menambahkan, cara memilih pemimpin seperti itu telah dilakukan sejak awal berdiri.
Mengajak kembali pada sejarah kepemimpinan Muhammadiyah masa awal, Izzul menjelaskan, pasca kepemimpinan Kiai Ahmad Dahlan, ketua Muhammadiyah tidak dialihkan ke anak turunnya, tapi ke Kiai Ibrahim.
Izzul menambahkan, pemilihan Kiai Ibrahim sebagai ketua Muhammadiyah menggantikan Kiai Ahmad Dahlan bukan didasarkan pertalian darah, melainkan karena kapasitasnya– sebagai ulama besar alumni Mekkah.
“Mencari pemimpin yang memang dianggap memiliki kapasitas yang tepat untuk memimpin Muhammadiyah dan itulah yang ditunjuk siapapun yang bersangkutan tidak mengenal keturunannya siapa begitu,” katanya.
Setelah kepemimpinan Kiai Dahlan, bersambung ke Kiai Ibrahim– semua Ketua PP Muhammadiyah tidak saling memiliki ikatan darah. Bahkan sebagai organisasi yang lahir di Jawa, Muhammadiyah juga pernah dipimpin sosok dari Sumatra, dan lain sebagainya.
Bagi Muhammadiyah, kepemimpinan tidak mengenal garis keturunan atau ‘darah biru’. “Di Muhammadiyah tidak mengenal kasta. Bahwa yang darah biru atau keturunan itu lebih tinggi nilainya tidak seperti itu,” imbuhnya.
Cara pemilihan kepemimpinan seperti itu, sambungnya, karena di Muhammadiyah sejak awal berangkat sebagai organisasi modern yang dibangun secara rasional. Pola pikir ini yang diterapkan Muhammadiyah sampai kini.
Selain itu, pemilihan Ketua PP maupun Wilayah, Daerah, sampai Ranting dilakukan secara musyawarah untuk menghindari konfrontasi sebab tidak ada persaingan yang head to head.
“Ini saya kira yang menyebabkan akhirnya Muhammadiyah dalam proses pemilihan pimpinan itu relatif tidak memunculkan gejolak, dinamika tetap ada. Saya kira ini penting juga, kita juga tidak ingin terus enggak ada yang berminat,” ungka Izzul.
Terkait dengan proses pemilihan, menurutnya pemilihan pimpinan di Muhammadiyah yang dilakukan memaki musyawarah telah memenuhi syarat untuk obyektif dan demokratis.






