Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Empat Dosa yang Balasannya Disegerakan di Dunia

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Empat Dosa yang Balasannya Disegerakan di Dunia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Balasan atas dosa tidak selalu harus menunggu kehidupan akhirat. Ada perbuatan yang dapat mendatangkan siksaan di dunia sebelum seseorang menerima balasan di akhirat. Karena itu, umat Islam perlu mewaspadai perbuatan yang dapat mengundang datangnya azab tersebut.

Hal tersebut disampaikan KH. Muhyiddin Junaidi, Dewan Pakar Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam Khutbah Jumat (2/10) di Masjid At-Tanwir Pimpinan Pusat, Jakarta Pusat.

“Para pendosa tersebut akan diturunkan siksaan di dunia sebelum di akhirat. Jadi, ada down payment siksaan, tidak harus menunggu sampai tibanya kiamat,” ujar Muhyiddin.

Setidaknya ada empat dosa yang perlu diwaspadai karena dapat menjadi sebab disegerakannya siksaan di dunia sebelum balasan di akhirat.

Pertama, melakukan kezaliman

Muhyiddin mengingatkan bahwa kezaliman merupakan salah satu perbuatan yang dapat mengundang datangnya siksaan Allah. Kezaliman tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak memahami agama, tetapi juga dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pendidikan, kedudukan, dan kekuasaan.

Menurutnya, salah satu bentuk kezaliman yang perlu diwaspadai adalah penyalahgunaan amanah dan jabatan. Kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk menjalankan amanah justru dapat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Ia menilai persoalan tersebut menjadi semakin serius ketika dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pendidikan dan kedudukan. Karena itu, kezaliman tidak dapat dilihat semata-mata sebagai persoalan individu, tetapi juga dapat berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Allah mengingatkan bahwa suatu kaum dapat mengalami kehancuran akibat kezaliman. Dalam QS Al-Kahfi ayat 59 disebutkan bahwa negeri-negeri yang telah berbuat zalim dapat dibinasakan dan kehancuran mereka telah ditentukan waktunya.

Muhyiddin menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh bersikap diam ketika menyaksikan kezaliman. Setiap orang memiliki kewajiban moral untuk menyuarakan kebenaran dan mencegah kezaliman sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

“Kalau kezaliman dibiarkan, kita punya kewajiban moral individu untuk menyuarakan kebenaran, melawan kezaliman dalam bentuk apa pun juga. Baik itu melalui tulisan, melalui lisan, ceramah-ceramah, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Kedua, memutus silaturahim.

Dosa berikutnya adalah memutus silaturahim. Menurut Muhyiddin, menjaga hubungan baik tidak hanya berlaku kepada sesama Muslim, tetapi juga kepada orang lain yang berbeda latar belakang.

Ia menjelaskan bahwa terdapat berbagai faktor yang dapat membuat seseorang menjaga jarak dengan orang lain, mulai dari persoalan sosial, kondisi ekonomi dan pendidikan, hingga perbedaan pilihan politik.

Perbedaan tersebut, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus hubungan persaudaraan. Terlebih ketika memasuki momentum politik, perbedaan pilihan dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat.

“Perbedaan pilihan politik justru jangan sampai membuat kita menjadi jauh. Allah mengingatkan kita agar tetap menjaga silaturahim, walaupun berbeda pilihan partai politik,” jelasnya.

Karena itu, perbedaan pilihan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara semestinya tidak menghilangkan hubungan persaudaraan. Silaturahim tetap perlu dijaga meskipun terdapat perbedaan pilihan dan pandangan.

Ketiga, durhaka kepada kedua orang tua

Dosa berikutnya adalah durhaka kepada kedua orang tua. Islam menempatkan berbakti kepada orang tua sebagai salah satu bentuk ketaatan yang sangat penting sehingga seorang Muslim perlu menjaga ucapan, sikap, dan perlakuannya kepada kedua orang tua.

Durhaka kepada orang tua dapat dilakukan melalui perkataan maupun perbuatan yang menyakiti, merendahkan, atau menghilangkan penghormatan kepada keduanya. Karena itu, hubungan dengan kedua orang tua perlu dijaga dengan sikap hormat dan kasih sayang.

Keempat, sumpah palsu

Sumpah palsu menjadi dosa berikutnya yang perlu diwaspadai. Sumpah tidak semestinya digunakan untuk membenarkan sesuatu yang tidak benar, menutupi kebohongan, atau memperoleh keuntungan tertentu.

Sumpah juga memiliki kaitan erat dengan amanah, terutama ketika seseorang mengucapkannya dalam rangka menerima jabatan. Sumpah jabatan bukan sekadar bagian dari prosesi formal, melainkan pernyataan kesanggupan untuk menjalankan amanah dan tanggung jawab dengan benar.

Karena itu, ketika sumpah digunakan untuk membenarkan kebohongan atau ketika amanah yang telah disumpahkan justru disalahgunakan, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut pelanggaran terhadap tanggung jawab jabatan, tetapi juga menyangkut pertanggungjawaban seseorang di hadapan Allah.

Keempat perbuatan tersebut, menurut Muhyiddin, dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk orang yang mengaku sebagai Muslim. Identitas dan latar belakang keluarga Muslim tidak dengan sendirinya membuat seseorang terbebas dari perbuatan yang dapat mendatangkan dosa dan azab.

Karena itu, keimanan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui identitas keagamaan. Keimanan harus tercermin dalam perilaku, terutama dalam menjaga amanah, hubungan dengan sesama, penghormatan kepada orang tua, dan kejujuran dalam perkataan.

Muhyiddin kembali mengingatkan bahwa kezaliman tidak boleh dibiarkan karena dampaknya dapat meluas kepada kehidupan bersama. Setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk mencegah kemungkaran dan menyuarakan kebenaran sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

“Karena kalau kita biarkan, kita termasuk orang-orang yang melakukan kezaliman,” pungkasnya. (taufik)

Tinggalkan Balasan