Minggu, 20 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Masa Efisiensi Harus Jadi Momentum Bangun Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Masa Efisiensi Harus Jadi Momentum Bangun Kemandirian Ekonomi Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Faozan Amar, menegaskan bahwa masa efisiensi ekonomi harus dijadikan momentum untuk memperkuat kemandirian finansial warga Muhammadiyah melalui kombinasi ikhtiar, inovasi, dan penguatan spiritual.

“Menghadapi kesulitan ekonomi tidak cukup dengan mengeluh, tetapi harus disikapi dengan ikhtiar, inovasi, dan tawakal. Gaji dari Amal Usaha Muhammadiyah saja tidak cukup jika kita tidak kreatif. Masa efisiensi adalah momentum memperkuat kemandirian ekonomi. Jika keluarga kuat, sekolah kuat, maka Muhammadiyah akan semakin berkemajuan,” ujar Faozan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru di Masjid At-Taqwa, Kompleks Perguruan Muhammadiyah Limau, Jakarta Selatan, Jumat (12/6).

Kegiatan rutin bulanan tersebut mengangkat tema “Desain Ekonomi Muhammadiyah di Masa Efisiensi” sebagai respons atas berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, mulai dari meningkatnya harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, transportasi, hingga kenaikan harga bahan bakar non-subsidi yang berdampak pada daya beli warga.

Dalam paparannya, Faozan yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) menjelaskan empat strategi yang dapat dilakukan warga Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian ekonomi.

Pertama, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan keterampilan digital untuk menciptakan sumber pendapatan baru yang halal. Menurutnya, guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah perlu bertransformasi menjadi knowledge worker dengan menguasai teknologi digital, pembelajaran daring, hingga produksi konten edukatif yang berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan.

Kedua, menguatkan dimensi spiritual melalui ketakwaan dan sedekah. Merujuk pada Surah Ath-Thalaq ayat 2–3 dan Surah Al-Baqarah ayat 261, Faozan menegaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta, melainkan menjadi jalan datangnya keberkahan dan kelapangan rezeki. Ia juga mendorong penguatan spirit Al-Ma’un melalui pembentukan dana sosial internal dan budaya infak harian di lingkungan persyarikatan.

Ketiga, menerapkan manajemen keuangan yang disiplin sesuai Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Warga Muhammadiyah diimbau menghindari perilaku konsumtif, termasuk penggunaan fasilitas paylater dan utang yang tidak produktif. Ia menawarkan pola pengelolaan keuangan dengan alokasi 60 persen untuk kebutuhan pokok serta masing-masing 10 persen untuk dana darurat, investasi, pendidikan, dan infak.

Keempat, membangun ekosistem ekonomi jamaah yang mandiri melalui semangat ta’awun atau saling menolong. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penguatan koperasi syariah, penyusunan direktori usaha warga, hingga penyelenggaraan bazar yang mendorong transaksi ekonomi antarwarga Muhammadiyah.

Lebih lanjut, Faozan menekankan pentingnya tiga agenda besar yang perlu menjadi perhatian PCM, yakni menjaga kesejahteraan warga, memperkuat UMKM jamaah, serta melakukan diversifikasi sumber pendapatan AUM agar tidak hanya bergantung pada iuran pendidikan.

Selain kajian ekonomi, kegiatan MABIT juga dirangkai dengan pelantikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), penyerahan Surat Keputusan Penjabat Kepala Sekolah, serta penyegaran kepengurusan di lingkungan PCM Kebayoran Baru.

Ketua PCM Kebayoran Baru, M. Said Matondang, menjelaskan bahwa MABIT tidak hanya menjadi ruang penguatan spiritual, tetapi juga sarana konsolidasi dan penyegaran ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi para penggerak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

“MABIT menjadi sarana penyegaran ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi penggerak di Amal Usaha Muhammadiyah. Harapannya, semangat dakwah amar makruf nahi mungkar tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi warga,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan