MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Menjelang datangnya Hari Raya Iduladha dan bulan Zulhijah, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrohman, mengajak umat Islam menjadikan ibadah kurban sebagai sarana memperkuat ketakwaan sekaligus kepedulian sosial.
Pesan tersebut disampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Jumat (8/9).
Dalam khutbahnya, Agus menjelaskan bahwa syariat kurban menjadi amalan utama untuk menghidupkan semangat ibadah di bulan Zulhijah. Ia mengutip Surah Al-Kautsar yang berisi perintah Allah untuk mendirikan salat dan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan.
“Bagi kita yang tidak berangkat ke Tanah Suci, penyembelihan hewan kurban menjadi pilihan terbaik untuk melaksanakan syariat Rasul dalam mengisi bulan Zulhijah,” ujarnya.
Agus menuturkan bahwa ibadah kurban memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Ia menyebut mayoritas ulama memandang kurban sebagai sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan bagi muslim yang mampu. Bahkan, menurutnya, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban bersifat wajib bagi orang yang memiliki kemampuan.
Ia juga mengutip hadis Rasulullah saw. yang memberikan peringatan keras kepada orang yang mampu berkurban tetapi enggan melaksanakannya. Dalam hadis tersebut Nabi bersabda, “Man wajada sa‘atan falam yudhahhi fala yaqrabanna mushallana,” yakni orang yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban maka jangan mendekati tempat salat kami.
Menurut Agus, kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan panggilan tauhid yang harus dilandasi keimanan kepada Allah. Ia menegaskan bahwa tanpa landasan iman dan ketakwaan, ibadah kurban akan kehilangan makna spiritualnya.
Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Lan yanalallaha luhumuha wa la dima’uha walakin yanaluhut taqwa minkum,” yang menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya.
“Spirit kurban itu membangun kepedulian sosial. Dagingnya dibagikan kepada saudara-saudara kita dan menjadi bagian dari ajaran Islam untuk menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat,” katanya.
Selain menekankan dimensi sosial, Agus juga menjelaskan makna simbolik dari penyembelihan hewan kurban. Ia mengutip pandangan seorang ulama ahli hikmah bahwa manusia sejatinya diajak “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan dalam dirinya.
Menurutnya, perilaku hayawaniyah seperti kekejaman, hilangnya rasa malu, dan ketidakmampuan membedakan benar dan salah harus dijauhkan dari kehidupan manusia.
“Kadang manusia bisa lebih kejam daripada hewan. Maka mari kita potong seluruh sifat-sifat hayawaniyah yang masih ada dalam diri kita,” tuturnya.
Agus menegaskan bahwa keindahan Islam tampak pada keterhubungan antara ibadah kepada Allah dan dampak sosialnya. Ibadah kurban, katanya, dimulai dari panggilan tauhid, tetapi bermuara pada tumbuhnya solidaritas, kepedulian, dan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Ia pun mengajak umat Islam mempersiapkan ibadah kurban dengan sebaik-baiknya agar momentum Zulhijah benar-benar menjadi sarana memperkuat iman sekaligus memperluas manfaat sosial bagi sesama.





