MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, mengajak umat Islam untuk merefleksikan secara mendalam tantangan kemanusiaan melalui konsep ‘akobah’ dalam ceramah malam ke-29 Ramadan 1447 H di Masjid At-Tanwir, Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (17/3).
Hilman mengurai makna ‘akobah’ sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Balad. Ia menjelaskan bahwa ‘akobah’ merupakan metafora tentang jalan terjal yang harus dilalui manusia dalam meraih kebaikan sejati dan keberkahan Ilahi.
Menurutnya, ‘akobah’ bukan sekadar kesulitan biasa, melainkan tantangan berat yang menuntut energi, ketabahan, dan tekad kuat.
“Akobah itu seperti mendaki puncak yang terjal, panas, dan gersang. Tidak semua orang mampu melaluinya tanpa perjuangan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Hilman kemudian menjelaskan dua bentuk utama ‘akobah’ yang disebutkan dalam Surah Al-Balad dan tetap relevan dalam konteks kekinian.
Pertama, membebaskan manusia dari keterikatan. Secara historis, hal ini merujuk pada pembebasan budak. Namun, dalam konteks modern, Hilman menafsirkan makna tersebut sebagai upaya memberikan kebebasan, martabat, dan kemandirian kepada kelompok rentan dan terpinggirkan.
“Pembebasan hari ini adalah bagaimana kita memberdayakan mereka yang terbelenggu kemiskinan, ketidakadilan, dan ketergantungan agar mampu menentukan arah hidupnya sendiri,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa upaya ini merupakan bentuk ‘akobah’ yang berat, tetapi sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan beradab.
Kedua, memberi makan pada saat kelaparan. Hilman menekankan pentingnya kepedulian terhadap anak yatim dan kaum miskin yang sangat membutuhkan. Ia juga memperluas makna “yatim” tidak hanya sebagai anak yang kehilangan orang tua, tetapi juga mereka yang tidak mendapatkan perhatian dan pendidikan yang layak.
Sementara itu, istilah “miskin” merujuk pada kelompok yang benar-benar tidak memiliki sumber penghidupan dan sangat bergantung pada bantuan orang lain. “Memberi makan di saat kelaparan adalah wujud nyata kasih sayang dan solidaritas sosial,” ungkapnya.
Hilman menambahkan, mereka yang mampu menaklukkan ‘akobah’ melalui pembebasan dan kepedulian sosial akan tergolong sebagai Ashabun Maimanah (golongan kanan), yakni orang-orang yang beruntung dan mendapatkan balasan mulia. Sebaliknya, mereka yang mengabaikan panggilan kemanusiaan akan termasuk dalam Ashabun Masyamah (golongan kiri).
Di akhir ceramah, Hilman mengajak umat Islam, khususnya di bulan Ramadan, untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa ibadah tidak hanya berhenti pada aspek ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang berdampak sosial.
“Ramadan adalah momentum untuk memperkuat tanggung jawab kemanusiaan. Kita dituntut tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga hadir membawa solusi bagi persoalan sosial,” tutupnya.






