Selasa, 6 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Perdebatan Tauhid Sunni-Syiah Kian Usang, Islam Kontemporer Menuju Tauhid Fungsional

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Perdebatan Tauhid Sunni-Syiah Kian Usang, Islam Kontemporer Menuju Tauhid Fungsional

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Sebelum diteorikan, konsep tauhid yang dipahami atau yang digunakan oleh Muhammadiyah adalah tauhid atau akidah relasional– fungsional. Kecenderungan itu dapat dilihat di sejarah sosial Muhammadiyah.

Penegasan itu disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Muhammadiyah (PP) Muhammadiyah, Ustadi Hamzah pada Sabtu (21/2) dalam Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Melihat spectrum lebih luas, menurutnya, periode kalam kontemporer seharusnya sudah berubah dari yang awalnya teosentrisme ke antroposentrisme, menjadi kosmosentrisme – bahkan isu yang berkembang tauhid di era kontemporer menjadi biosentrisme.

Dalam konteks itu, periode kalam kontemporer untuk isu Sunni dan Syiah sudah berkurang relevansinya. “Mungkin generasi tua akan mengatakan Sunni atau Syiah. Tapi kalau sudah yang muda-muda yang penting kami Islam gitu aja,” katanya.

Pada titik yang lebih jauh di depan, perdebatan tauhid di masa depan tidak lagi membicarakan tentang firkah. Namun demikian, sejarah keberadaan firkah-firkah itu tidak lantas dibuang – tapi disimpan menjadi kekayaan intelektual.

Ustadi Hamzah menjelaskan, kumpulan firkah masa silam itu dapat dijadikan sebagai sumber untuk mengembangan suatu tipologi pemikiran yang orientasinya pada tiga hal. Pertama isu akidah masa itu dimaknai sebagai sistem nilai. Tidak boleh terjebak pada sistem firkah.

“Tauhid ini menjadi nilai bagi kemanusiaan kita…… Bagaimana tauhid itu bisa menjadi kemuliaan kita, bukan kita tidak mulia karena kita merasa tidak jadi Tuhan,” ungkapnya.

Orientasi tauhid yang kedua menurutnya, berfokus pada isu kemanusiaan, keadilan, universalitas, dan kemajuan. Ini penting, bahkan pola pikir umat Islam harus diarahkan kepada hal-hal tersebut. Jika tidak demikian, tauhid akan kembali pada isu era klasik. Tauhid harus diarahkan pada nilai-nilai pemuliaan manusia.

Selanjutnya, atau orientasi tauhid yang ketiga, untuk diarahkan pada solusi dan pemecahan masalah. Tauhid tidak cukup ada di ruang-ruang wacana-wacana yang diskursif – atau hanya jadi perdebatan semata.

Tinggalkan Balasan