Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Meneguhkan Tauhid sebagai Fondasi Gerakan, Haedar Ajak Perkuat Kodifikasi Pemikiran

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Meneguhkan Tauhid sebagai Fondasi Gerakan, Haedar Ajak Perkuat Kodifikasi Pemikiran

MUHAMMADIYAH.OR.ID, TANGERANG – Dalam pembukaan Pengkajian Ramadan 1447 H yang mengusung tema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni. Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis”, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memantik dialog substantif mengenai konseptualisasi tauhid dan akidah murni dalam perspektif Muhammadiyah.

Dalam forum yang digelar di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Selasa (24/2), Haedar mengajukan pertanyaan reflektif: apakah Muhammadiyah telah mengkodifikasi secara sistematis konsep tauhid murni sebagai pemikiran yang terstruktur dan menjadi rujukan resmi persyarikatan?

“Akidah, tauhid murni itu, apakah Muhammadiyah sudah betul-betul mengkodifikasi konsep tauhid murni sebagai pemikiran yang tersistem dan menjadi rujukan bersama? Adakah konsep resminya?” ujarnya.

Haedar menyampaikan bahwa istilah “tauhid murni” memang tidak banyak ditemukan secara eksplisit dalam literatur Muhammadiyah. Namun, ia menemukan istilah “akidah murni” yang termuat dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) tahun 1969, khususnya pada bidang akidah.

Dalam dokumen tersebut, Muhammadiyah membagi ajaran Islam ke dalam empat aspek utama: akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Keempat aspek ini saling berkaitan dan bermuara pada tauhid.

“Akidah ujungnya adalah tauhid. Pengertian tentang akidah murni itu ada dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah,” jelasnya.

Selain itu, Haedar juga merujuk pada Kitabul Iman dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah tahun 1929. Pada bab pertama terdapat istilah al-‘aqidah as-shahihah, yang berarti akidah yang benar atau akidah yang murni.

“Pada bab pertama ditemukan istilah al-‘aqidah as-shahihah. Artinya akidah yang benar atau murni,” tuturnya.

Dari penelusuran tersebut, dapat disimpulkan bahwa Muhammadiyah sejak awal bekerja untuk menegakkan akidah yang murni. Secara substantif, akidah memiliki relasi yang erat dengan tauhid, sehingga penegakan akidah murni identik dengan peneguhan tauhid yang bersih dari penyimpangan.

Dalam penegakan dan implementasinya, akidah dan tauhid murni harus membebaskan umat dari kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi sebagaimana diajarkan agama. Dalam tradisi Muhammadiyah, hal ini dikenal dengan gerakan pemberantasan TBC (takhayul, bid’ah, dan khurafat).

“Yang bebas dari kemusyrikan, bid’ah, dan khurafat tanpa mengabaikan toleransi sesuai ajaran agama,” tegasnya.

Haedar menambahkan, refleksi konseptual ini penting untuk terus dikembangkan dan dikodifikasi menjadi sistem pemikiran yang kokoh sekaligus kontekstual. Ia juga mengingatkan para kader dan pimpinan Muhammadiyah agar terus memperluas cakrawala pemikiran dan literasi.

Dengan demikian, gerakan dakwah Muhammadiyah dapat tetap berakar pada kemurnian akidah yang melahirkan nilai-nilai tauhid dalam praksis kehidupan.

Pengkajian Ramadan 1447 H ini diharapkan menjadi momentum konsolidasi ideologis Muhammadiyah dalam mempertegas posisi tauhid sebagai fondasi gerakan, sekaligus sebagai energi pembaruan untuk menjawab dinamika umat, menyebarkan kebaikan, kedamaian, dan keselamatan, serta pada saat yang sama melawan kezaliman dan kerusakan demi keberlangsungan kehidupan di bumi dan alam semesta. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan