Sabtu, 19 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Pelajaran Waktu, Tanah Haram, dan Keteladanan Rasulullah dalam Fathu Makkah

Oleh ilham 3 Menit Min
Pelajaran Waktu, Tanah Haram, dan Keteladanan Rasulullah dalam Fathu Makkah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Akhmad Arif Rifan, menyampaikan kajian mendalam tentang sirah Nabi Muhammad Saw dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (11/01).

Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya kesadaran waktu, kemuliaan tanah dan bulan haram, serta keteladanan Rasulullah Saw dalam peristiwa besar Fathu Makkah.

Mengawali kajian, Akhmad Arif Rifan mengutip Surah Ibrahim ayat 5 yang menegaskan perintah Allah agar para nabi mengeluarkan umatnya dari kegelapan menuju cahaya serta mengingatkan mereka akan ayyamillah (hari-hari pertolongan Allah).

Ayat ini, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam memahami perjalanan sejarah Islam, khususnya sirah Nabi.

Ia mengingatkan jemaah bahwa umat Islam perlu memiliki kepekaan terhadap waktu, termasuk memahami keberadaan bulan-bulan haram dan tanah haram. Tanah haram, jelasnya, bukan bermakna terlarang dalam arti negatif, melainkan wilayah yang disucikan dan memiliki aturan khusus.

Tanah haram hanya ada di dua tempat, yaitu Makkah dan Madinah, dengan batas-batas yang telah ditentukan seperti Tan’im, Ji’ranah, Hudaibiyah, hingga Arafah.

“Di tanah haram, umat Islam dituntut lebih berhati-hati dalam bersikap. Amal kebaikan dilipatgandakan, begitu pula dosa,” ujarnya.

Ia juga menegaskan keutamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, di mana satu kali salat di Masjidil Haram setara dengan 100 ribu salat, sedangkan di Masjid Nabawi setara dengan seribu salat, terlebih jika dilakukan pada bulan-bulan haram.

Dalam konteks sejarah, Akhmad Arif Rifan merangkum perjalanan panjang umat Islam dari perspektif waktu. Ia menyebut 23 tahun masa kerasulan Nabi Muhammad Saw, dilanjutkan 29 tahun masa Khulafaur Rasyidin, kemudian periode Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, Turki Utsmani, hingga kondisi umat Islam saat ini yang telah berjarak lebih dari 1.400 tahun dari peristiwa hijrah.

Peristiwa Fathu Makkah

Bagian utama kajian difokuskan pada peristiwa Fathu Makkah, yang bermula dari pelanggaran Perjanjian Hudaibiyah oleh sekutu Quraisy terhadap suku Khuza’ah. Pelanggaran tersebut bahkan terjadi di tanah haram dan disertai pernyataan yang merendahkan kesucian Allah.

Rasulullah Saw, menurut pemateri, merespons peristiwa itu dengan doa, strategi, dan keteguhan prinsip, hingga akhirnya memimpin pasukan besar menuju Makkah tanpa diketahui pihak Quraisy.

Dalam peristiwa ini, Akhmad Arif Rifan mengangkat kisah Hatib bin Abi Balta’ah, seorang sahabat yang sempat membocorkan informasi rahasia karena ingin melindungi keluarganya di Makkah. Meski perbuatannya memicu kemarahan sebagian sahabat, termasuk Umar bin Khattab, Rasulullah Saw menilai kasus tersebut dengan kebijaksanaan.

Nabi mengingatkan bahwa Hatib adalah peserta Perang Badar, sebuah kedudukan yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah.

“Di sinilah kita belajar keadilan dan kedalaman akhlak Rasulullah. Beliau tidak tergesa-gesa menghukum, tetapi melihat rekam jejak iman dan pengorbanan seseorang,” jelasnya.

Puncak kajian menggambarkan sikap Rasulullah Saw saat memasuki Makkah sebagai pemenang. Nabi membersihkan Ka’bah dari berhala, melaksanakan salat di dalamnya, dan mengembalikan kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, pemegang amanah sejak masa jahiliah. Bahkan ketika keluarga dekat beliau meminta hak pengelolaan Ka’bah, Rasulullah tetap menjaga keadilan dan amanah.

Lebih dari itu, Rasulullah Saw memilih memaafkan para pemimpin Quraisy yang selama puluhan tahun menyakiti, mengusir, dan memerangi beliau serta kaum muslimin. Ketika ada yang menyebut hari itu sebagai hari pembalasan, Rasulullah menegaskan, “Hari ini adalah hari kasih sayang dan pemaafan.”

“Ini pelajaran yang paling berat,” kata Akhmad Arif Rifan. “Saat berada di puncak kemenangan, Rasulullah justru menunjukkan kerendahan hati, keadilan, dan kasih sayang.”

Menutup kajian, ia mengajak jemaah mengambil hikmah dari momentum-momentum besar dalam sejarah Islam. Menurutnya, meski umat Islam hari ini tidak lagi hidup di masa Badar atau Baiat Ridwan, setiap generasi tetap memiliki peluang untuk meraih rida Allah melalui pilihan-pilihan hidup yang berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan.

Kajian ditutup dengan doa dan hamdalah bersama, disertai harapan agar pelajaran dari sirah Nabi Muhammad Saw dapat menjadi bekal spiritual dan moral bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan