MUHAMMADIYAH.OR.ID, KEDIRI – Proses penciptaan manusia merupakan ketetapan Allah SWT yang mengandung makna mendalam sebagai anugerah sekaligus tanggung jawab bagi setiap insan yang menjalani kehidupan di muka bumi.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim, saat mengisi Kajian dan Konsolidasi Muhammadiyah se-Kabupaten Kediri yang diselenggarakan pada Ahad pagi (11/1).
Dalam pemaparannya, Saad menegaskan bahwa Al-Qur’an memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai tahapan penciptaan manusia, salah satunya termaktub dalam Surah Al-Mu’minun ayat 12–14.
“Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang proses penciptaan manusia. Di antaranya terdapat dalam Surah Al-Mu’minun ayat 12, 13, dan 14,” jelasnya.
Adapun bunyi Surah Al-Mu’minun ayat 12–14 adalah sebagai berikut:
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”
(QS. Al-Mu’minun: 12–14)
Penciptaan Manusia: Diawali Dengan Ruh atau Fisik?
Lebih lanjut, Saad mengangkat pertanyaan mendasar dalam kajiannya, yakni: “apakah manusia diciptakan terlebih dahulu secara fisik atau rohaniah?”. Dalam hal ini Saad menjelaskan bahwa manusia pada hakikatnya diciptakan melalui aspek rohani terlebih dahulu, sebelum kemudian dianugerahi jasad (fisik).
“Sejatinya manusia telah diberi petunjuk oleh Allah, diberi hidayah sebelum memiliki tubuh. Artinya, kita sudah pernah dididik dan diberi petunjuk oleh Allah sebelum diciptakannya fisik,” tuturnya.
Saad kemudian mengaitkan hal tersebut dengan Surah Al-A’raf ayat 172, yang menggambarkan peristiwa pengambilan kesaksian seluruh anak Adam oleh Allah SWT. Dalam ayat tersebut, Allah bertanya:
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?”, lalu anak Adam menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami).”
Maka, sejak awal penciptaannya, jelas Saad, roh manusia telah didesain untuk beradab terhadap petunjuk Allah dan menjawabnya dengan kesaksian iman. Oleh karena itu, ketika roh ditiupkan ke dalam jasad manusia, sejatinya tidak ada manusia yang lahir tanpa potensi menerima kebenaran (agama).
“Manusia sejak awal telah diberi hidayah dan dibekali fitrah. Fitrah itu adalah kecenderungan alami manusia untuk beragama dan bertuhan,” pungkasnya.
Kajian tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia tak semata-mata bersifat duniawi, namun juga mengandung dimensi spiritual yang menuntut tanggung jawab moral, etika, dan keimanan dalam menjalani kehidupan di dunia. (Bhisma)






